When It Rain

Saya suka hujan, apabila hujan hari jumat malam…for a simple reason, hujan jumat malam akan membuat suhu udara dingin dan mendukung saya untuk tidur sampai sabtu pagi. Bahagia emang ga mahal, tapi agak susah

Saya suka hujan, entah apa itu ada korelasinya dengan nama saya Benny Reinmart yang konon menurut cerita orang tua saya dulu, ketika saya lahir jam 7 pagi cuacanya hujan deras. Jadi mereka memberikan saya nama Reinmart, yang secara dipaksakan berarti Hujan di Maret. Maafkan kealpaan mereka yang mengira “Rein” artinya Hujan dalam bahasa Inggris (It should Be “Rain”) dan menghilangkan huruf “e” di “Mart” supaya enak dibaca dan dilafalkan.

Hujan dan kehujanan selalu membawa saya ke beberapa hal yang terjadi dan berkaitan dengan hujan.

Waktu baru lulus kuliah dan nganggur, saya pernah menghadiri interview dengan kondisi kehujanan. Bela belain berangkat interview hujan – hujan, daripada nganggur. Padahal sih belom tentu juga keterima kerja. Hasilnya, saya sukses menghadiri interview, handphone saya rusak kerendam air di tas, dan saya ga dapet kerja.

Saya berangkat training (waktu itu sebelum keterima kerja harus training dulu 2 minggu) di perusahaan kecil di daerah Karet. Hari pertama training saya (lagi lagi) bela belain berangkat hujan-hujanan. Saya bawa baju ganti di tas saya. Baju gantinya dibungkus plastik biar ga basah, sepatu pantofel saya juga saya taruh di tas. Saya berangkat pake sandal jepit. Sebagaimana gedung perkantoran lainnya, ada penjaga di tempat scan. Dengan pede (dan basahnya), saya masuk ke gedung dan bilang “Maaf Pak, saya kehujanan. Tapi ini hari pertama saya training di lantai 8 pak. Kalau boleh saya mau ganti baju dulu sebelum lewatin scanner” kata saya sambil cengir kuda. Untung satpamnya baik. Dia bolehin saya lewat ga usah di scan. That was about 4 years ago, and I did it for a job that gave me 1600k Rupiah. That was the time when life is not this easy. Pity…

Saya suka Hujan, apalagi kalo hujannya jumat malam. Bikin udara dingin dan membantu saya untuk tidur sampai sabtu pagi. Ada baiknya saya nikmati hujan ini, toh masih ada sisa Scotch yang bisa saya minum, untuk menyambut esok hari…

 

@bennyreinmart

9 Agustus 2013,

Kamar kos saya yang sempit tapi nyaman, Pekanbaru

Glory of A Boy

Sepatu converse pertama saya adalah edisi one star. Dengan tanda bintang di kedua sisinya, itu merupakan salah satu sepatu terkeren di SMA saya dulu. Saya lupa harga persisnya, tapi seingat saya berkisar 159 ribu rupiah. Uang itu merupakan jumlah yang cukup besar untuk saya pada saat itu. Tapi sepatu itu merupakan sebuah hadiah. Hadiah dari abang saya. Dia baru menyelesaikan suatu order sesi fotografi, dan ingin saya memiliki sepatu itu (meskipun saat itu saya sudah cukup puas dengan sepatu merk lokal yang saya punya)

Sejak itu, entah kenapa saya jatuh cinta dengan merk converse. Sudah berkali kali saya ganti sepatu, dan selalu saya memilih converse. “converse,high canvas,nomor 10”. Kalimat itu selalu terucap di counter sepatu olahraga, tidak usah dicoba, ukuran itu pasti pas di kaki saya. Selalu saya pakai, rusak, beli lagi, dengan model yang sama dan nomor yang sama dan harga yang sama. Sepatu yang juga saya pakai melewati masa kuliah saya. Hmm..seingat saya, saya tidak pernah memakai sepatu merk lain selama kuliah.

9 tahun sudah sejak perkenalan pertama saya dengan Converse..9 tahun, waktu yang cukup panjang. 9 tahun..saya melewati berbagai fase dalam hidup saya. Bocah sma yang kuper, mahasiswa gondrong yang urakan, pengangguran, dan sekarang saya bekerja di suatu perusahaan yang seharusnya tidak akan bangkrut. People change..and so do i…

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan 2 teman kuliah saya. Kami menjenguk seorang saudara yang baru saja tertimpa musibah. Setelah bertemu, dia bilang seperti ini “gaya lo berubah banget dah sekarang..” dan seorang lagi berkata “sepatu lo bagus bro..merk apa?” saya menjawab “wrangler..” | “udah beda bob dia, ga jaman lagi sepatu converse yang seratus ribuan”..dan saya hanya tertawa menanggapi kalimatnya.

Hotel Amos Cozy, Melawai, Jakarta, Family Room 405, 4 Oktober 2011…

Ini adalah malam terakhir saya menginap di hotel ini. Malam terakhir dari rangkaian training kWH Meter yang diadakan di hotel ini. Cukup geli juga saat mengingat entah berapa kali jalanan ini sering saya lalui dulu, dan tidak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa saya bisa menginap di hotel seperti ini. Hotel yang cukup besar yang sanggup membuat ibu saya mengirim pesan pendek dengan bunyi kira – kira seperti ini “Mama bangga anak mama bisa nginap di hotel sebesar itu” – terkadang ibu saya memang sangat berlebihan 🙂

Banyak sekali yang terjadi direntang waktu hampir 2 tahun ini. Saya tidak bisa menyebutkannya satu per satu disini, tapi kira kira seperti ini. Saya harus keluar dari rumah, menjalani hidup saya sebagai laki – laki mandiri, jauh dari keluarga,jauh dari orang orang yang saya sayangi, jauh dari teman teman, dicabut secara paksa ditarik keluar dari zona nyaman yang saya huni selama 23 tahun ke kehidupan yang tidak saya ketahui sebelumnya.

Saya mengalami masa – masa sulit itu sendirian, menyesuaikan diri dengan kesendirian, dengan ruangan sempit 3 x 3 meter. Tidak ada kegaduhan, tidak ada makan siang bersama sepulang gereja, hanya saya dan diri saya sendiri. Dan sudah hampir setahun ayah saya mengalami sakit yang cukup keras, bahkan kondisi beliau belum pulih seutuhnya sampai tulisan ini saya buat.

Saya tahu saya memang tidak bisa melewati ini semua sendirian, tapi saya punya Tuhan yang selalu ada bersama saya. Tuhan Yesus yang tidak pernah tertidur menjaga saya di ruangan sempit 3 x 3 meter itu. Dan Tuhan Yesus yang memberikan mujizat yang luar biasa atas kesembuhan ayah saya. Saya tahu Dia tidak mau saya menyerah, Dia tahu bahwa dia menciptakan saya dengan presisi untuk mampu melewati ini semua. Saya memutuskan untuk berusaha dengan baik dan berserah kepada kehendak Tuhan, dan selanjutnya yang terjadi adalah berkat yang luar biasa yang mengalir tidak pernah berhenti…Tuhan mengaturnya dengan sangat indah.

What can I say? Lampung, Palembang, Jambi, pengalaman dan petualangan baru yang mungkin tidak bisa saya rasakan jika bukan karena berkat yang tidak mungkin saya hitung. Semua terjadi disaat yang tepat. Tidak meleset sedikitpun. Kemudahan yang saya dapat ketika saya meminta untuk pindah bagian, proses yang tidak bertele tele yang mengherankan semua pihak di kantor. Kalau memang Tuhan sudah menetapkan jalan, tidak akan ada yang bisa menghalangi. 🙂

Malam tadi kami – rombongan peserta training – menutup acara dengan makan malam di restoran pulau dua, sebuah restoran yang berada di sebelah gedung DPR. Sama seperti hotel ini, berkali kali saya lewati tapi saya bahkan tidak pernah membayangkan akan menerima jamuan makan disini.

Ada hal yang menarik ketika kami selesai makan. Dalam perjalanan pulang ke hotel, bus besar yang membawa kami berputar di lampu merah Palmerah (lampu merah di depan gedung Jakarta Design Centre). Saya tidak sengaja mengambil tempat duduk di sisi kiri bus tepat di pinggir jendela. Dan saat bus berputar di Perempatan Palmerah itu, saya tertegun dan tersenyum karena mata saya tertuju pada satu titik. Pikiran saya menerawang ke 2 tahun lalu, pertengahan 2009.

Di lampu merah ini 2 tahun lalu saya pernah terjatuh dari motor, terseret sejauh kira kira 5 meter. Kejadian itu persis ketika saya baru selesai menghadiri undangan wawancara yang entah sudah keberapa puluh kali. Saya ingat ketika lampu merah dan saya menghentikan laju motor saya, pada saat itu saya merenungkan nasib yang menemui kesulitan dalam mencari pekerjaan. Dan ketika lampu merah menyala hijau, saya menjalankan motor saya, pikiran saya melayang entah kemana, menyenggol motor orang lain, dan terseret. Mujizat luar biasa terjadi ketika sehabis jatuh saya langsung bangun, membantu mengangkat motor orang yang menyenggol saya, untuk kemudian saya memunguti barang saya yang berceceran dari tas saya, baru menyingkirkan motor saya dari jalan.

Yang paling hebat dari itu semua adalah saat saya menyadari bahwa tubuh saya tidak terluka sedikitpun, segores pun tidak. Kerugian yang saya alami hanya celana kain hitam saya satu satunya robek sedikit, sepatu pantofel saya satu2nya sobek di bagian kanan, dan kaca spion motor saya pecah. Hanya itu, tidak nyawa saya, bahkan tidak ada lecet di seluruh badan saya. Luar biasa keajaiban hari itu, hari dimana Tuhan membuktikan bahwa kekhawatiran saya akan pekerjaan tidak beralasan. Bahwa dia melindungi saya bahkan ketika saya ragu akan rencanaNya. Bahwa kekhawatiran saya tidak akan membantu saya menyelesaikan masalah saya barang sehasta saja.

Dan lihat saya sekarang, setelah 2 tahun saya melewati Perempatan itu lagi. Dengan kondisi yang berbeda. Saya yang sekarang melewati simpang tersebut setelah selesai menghadiri jamuan makan malam. Saya yang sekarang berhenti di lampu merah itu tidak lagi berpikir kapan saya bisa diterima bekerja di suatu perusahaan. Saya yang sekarang ditawari “besok mau kita antar pak Benny?” Saya yang sekarang tidak memiliki keraguan atas apa yang Tuhan rencanakan. Karena Tuhan sudah mengaturnya dengan sangat indah. Saya menang di dalam Tuhan, saya berkelimpahan berkat ketika saya berjalan bersama Tuhan dan bukan menentang rencanaNya. Saya tahu Dia mempersiapkan kemenangan – kemenangan berikutnya untuk saya dan juga untuk kalian, selama kita berserah penuh pada rencanaNya. Not just to be a winner, but more than a winner…a Glory…

Judul Note ini yaitu “Glory Of A Boy” saya ambil dari salah satu album foto virtual di akun jejaring social abang saya. Disitu terdapat foto foto abang saya dan tempat – tempat yang dia kunjungi. Pantai, luar negeri, dan apapun tempat yang sepertinya menunjukan dia dan kesuksesannya. Yang paling fenomenal adalah fotonya di perbatasan Negara di timur tengah dengan jari tengah teracung setegak tegaknya :)) He is to..so blessed.. saya masih terkagum kagum akan kisahnya sebagai bekas pemungut bola di lapangan tenis yang bisa berkelana ke luar negri dan hampir memijakan kaki di seluruh pulau di Indonesia, kecuali Papua.. you are so blessed bro..

Mungkin teman saya benar, urusan sepatu itu menunjukan bahwa tampak dari luar, saya bukan lagi saya yang dulu. Tapi saya bisa jamin, deep inside, I am still the same old Ben…masih teman kalian seperti yang kalian kenal beberapa tahun lalu, hanya saja saat ini saya sedang mensyukuri semua berkat yang Tuhan percayakan kepada saya.

Be thankful for what I’ve got, be thankful for every God’s gift, and be prepare for another glory….Glory Of a Boy…

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya, saya menghargai setiap menit yang kalian luangkan untuknya..God Bless.. 🙂

We Sell Our Soul to Serve Our Country, written On Monday, February 28, 2011 at 4:12pm

Senin pagi yang seharusnya berjalan normal. Tapi tidak bagi beberapa dari kami. Salah seorang teman saya baru saja kehilangan ibunya. Hidup dan mati merupakan hal biasa dalam hidup ini. Konon kabarnya, Tuhan sebagai yang Maha Kuasa telah mengatur semuanya dalam hidup kita, termasuk juga urusan hidup dan mati. Yang membuatnya menjadi agak lain adalah, teman saya bukan termasuk salah satu yang “beruntung” untuk bisa berada di sana menemani detik terakhir ibunya ada di dunia ini. Dia ada di sini, di tanah perantauan yang jauhnya ratusan kilometer dari daerah asalnya dan memiliki waktu tempuh kurang lebih 4 jam apabila menggunakan burung besi.

 

“SURAT PERNYATAAN SIAP DITEMPATKAN DIMANA SAJA” adalah judul secarik kertas yang harus kami tanda tangani –meskipun kenyataanya itu tidak berlaku untuk seluruh dari kami- artinya kami siap keluar dari rumah, dan hidup mandiri. Surat itu yang membuat kita layaknya seorang serdadu tempur yang diperintah komandan untuk berangkat ke daerah daerah tertentu, dan tidak ada jawaban lain selain berkata “siap komandan!”. Konsekuensi dari keputusan itu sudah jelas, apabila terjadi sesuatu pada salah satu anggota keluarga kami, hal paling maksimal yang bisa kami lakukan adalah mengirimkan doa dan menyerahkan sisanya pada Tuhan yang Maha Kuasa.

Padamu Negri

Di salah satu social media, abang saya berkicau kira2 seperti ini. “Bokap di Rumah Sakit, Gue di Airport. I’ve sell my soul to serve my country”. Situasi yang ironis dengan meninggalkan rumah untuk bertugas di Kalimantan sementara sehari sebelumnya ayah kami baru saja masuk rumah sakit dan meninggalkan dua orang wanita kuat yaitu mama dan kakak untuk menemani ayah saya. Tapi saya paham, tidak ada pilihan lain. Negara memanggil, perintah sudah jelas. Lagi lagi, doa yang terkirim, dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Saya ingat, suatu kali saya ingin berangkat kembali menuju perantauan untuk mencari sesuap nasi dan selembar tiket ke London (karena ternyata banyak orang yang juga mencari segenggam berlian), saya dan papa terlibat pertengkaran kecil untuk hal sepele. Kejadian itu persis terjadi di saat saya sudah menenteng tas, dan mobil yang akan mengantar ke bandara sudah siap. Saya langsung pergi mengacuhkan papa saya seolah menunjukan bahwa saya sudah bisa melawan, dan saya bisa melakukannya dengan baik, saya bisa menjadi prototype anak laki laki yang tidak ingin dimiliki ayah manapun. Baru beberapa langkah keluar dari pintu rumah, saya berbalik, berjalan menuju papa saya, memeluknya dan berkata “cepat sembuh pa, saya sayang papa”.

 

Dalam perjalanan beberapa langkah dari tempat saya melawan papa sampai keluar dari pintu rumah, yang terlintas dibenak saya adalah “jika sesuatu hal terjadi pada papa dan hal terakhir yang saya lakukan adalah melawan dia, saya akan sangat menyesal. Atau jika sesuatu hal terjadi pada pesawat yang saya gunakan dan hal terakhir yang dia ingat dari saya adalah tentang PEMBANGKANGAN, dia akan merasa gagal membesarkan anak laki lakinya”. Sementara yang saya inginkan adalah apabila sesuatu terjadi pada saya, dia aka selalu ingat bahwa saya menyayangi dia, dan apabila sesuatu terjadi pada papa maka dia akan diberikan ucapan selamat dari malaikat di surga karena berhasil mendidik saya.

 

Bagi saya, seorang abdi dari Negara yang kurang ajar (negaranya yang kurang ajar, bukan saya), kesempatan untuk mengungkapkan rasa sayang saya pada keluarga tidak datang setiap hari. Saya harus sadar, jarak yang jauh sangat ideal untuk membuat saya kehilangan saat2 indah bersama anggota keluarga saya. Bahkan mungkin saat2 terakhir ada bersama mereka. Saya harus belajar, belajar untuk berhati hati dalam tutur kata, karena bisa saja itu merupakan kalimat terakhir saya untuk keluarga. Belajar untuk sadar bahwa seorang remaja gondrong berjiwa pemberontak memang keren, tapi pria yang harusnya menjadi dewasa tetapi tetap melawan orang tua adalah kebodohan.

 

Seperti penggalan lagu batak berikut :

So marlapatan marende margondang marembes hamu molo dung mate ahu

So marlapatan nauli nadenggan patupahonmu molo dung mate ahu

Uju ningolukkon ma nian

Yang menyampaikan bahwa segala kebaikan dan keindahan yang kita berikan pada orang tua, tidak ada gunanya jika mereka sudah tidak bersama kita lagi. Di saat mereka hidup, adalah moment paling pas untuk membahagiakan mereka.

 

Kami, abdi Negara. Sebagian melihat kami seperti sekelompok orang paling beruntung, bermasa depan cerah, dan memiliki hidup terjamin hingga tua. Tapi sedikit yang menyadari, banyak hal yang harus kami korbankan dibalik setiap cerita kemewahan yang didengar sebagian besar orang. Kami layaknya serdadu, tarik picu melesat tak ragu. We sell our soul to serve our country.

 

Tapi tidak untuk jiwa rock n roll saya, yang akan saya gunakan untuk memberontak dengan tepat jika memang dibutuhkan…

 

 

 

Dedicated to:

–         Teman saya yang sedang berduka. My deepest condolence for you and your family.

 

–         Papa saya yang semoga saat saya post tulisan ini, beliau sudah bisa kembali ke rumah. “love you pap”. Maaf saya tidak bisa ada disana.

 

–         Mama saya, yang diberkati energi luar biasa untuk merawat papa, dan menjaga ketiga anaknya.

 

–         Victor Martua Pinondang abang saya, abdi Negara paling taat, yang merelakan waktu tidur dan hari liburnya demi mengurus Negara ini (patut dicontoh PNS lainnya deh lo :p)

 

–         Dessy Eliana Sitorus kakak saya, yang dengan sangat hebat menggantikan peran abang dan saya dalam kondisi seperti ini (you are awesome sist.. :-* smooooccchhhhh..)

 

Kalian semua yang jauh dari rumah. Yang tidak bisa setiap hari menikmati hangatnya peluk seorang ibu, dan ramahnya senyum seorang ayah

Sorry Seems to be the hardest word, Written on Tuesday, January 4, 2011 at 11:41am

Meminta maaf dan memaafkan..2 hal yang kadang terasa sulit untuk dilakukan. Kadang kita tidak sadar pernah berbuat salah, dan kadang terlalu sadar untuk berpikir “yaudah nanti tinggal minta maaf aja”. Saya kenal dengan satu orang yang tidak pernah mau mengaku salah, dan tidak mau meminta maaf. Diam merupakan jawaban terbaik bagi dia apabila dia berbuat salah, dan tindakan itu sama sekali tidak menyenangkan. Apa yang dia lakukan hanya akan membuat saya bertambah marah, dan dia tidak menyadari itu.

 

Saya baru saja menyadari, bahwa meminta maaf dan memaafkan, adalah hal paling sulit. Dalam penggalan kalimat “Doa Bapa Kami”

 

“…….dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami…”

 

Menurut saya, kita tidak meminta Tuhan untuk mengampuni kesalahan kita karena kita TELAH mengampuni orang yang bersalah kepada kita..tapi kita meminta Tuhan mengampuni kesalahan kita karena kita sudah menjalankan apa yang diperintahkanNya, yaitu mengampuni orang yang bersalah kepada kita..lihat kan? bahwa persoalan maaf dan memafkan, menjadi sebuah esensi yang penting, sehingga melalui Doa Bapa Kami yang merupakan doa mendasar, saya seakan diingatkan terus menerus tentang hal maaf dan memaafkan. Mudah..tapi sulit.

 

Salah satu harapan saya di tahun 2011 ini adalah, being a better man, menjadi pribadi yang lebih baik lagi sebagai teman, sebagai kekasih, sebagai adik, dan sebagai anak. Simple, but it’s complicated. Dalam keadaan sekarang, dimana saya tidak dapat membantu banyak karena keterbatasan yang memisahkan saya dengan lingkungan saya, hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah menjadi orang yang lebih baik. Memastikan kepada ibu saya bahwa saya menjadi anak yang baik, meyakinkan ayah saya bahwa saya akan bekerja dengan baik, berkata kepada abang dan kakak saya bahwa saya ingin menjadi adik laki – laki yang baik..mudah, tapi sulit..

 

It’s a mistake…yes…dan itu adalah kesalahan fatal saya di tahun 2011 ini. Saya gagal, sampai saat ini, saya merasa gagal menjalankan apa yang menjadi target saya seperti yang saya sampaikan tadi. I hope there is any “If” in this case…saya bisa bilang “andai saja”…

 

if u let me explain you…if you give me a minute to tell you…saya Cuma mau bilang..suaranya kurang bagus, terlalu treble, dan fitur shake nya terlalu sensitive, bergetar sedikit saja, akan menjalankan fitur play next yang kalo untuk saya, akan sedikit mengganggu…kalau memang itu tidak mengganggu..it’s a pleasure for me to gave it to you..it’s not about the money…you’ve done a lot of things for me since my child age, untill I wrote this note. And surely, it can’t be replaced with anything I’ve done to you..it can’t be replaced with that clutch bag, or with that mayonnaise shrimp dinner kind of thing….dan yang paling saya sesalkan adalah..after all those things you’ve done to me..all I can say is just another sorry..

I wish I never say sorry to you, means I never made a mistake..but still.. i’m not a good brother am i?:)

trust me..i’m trying to..

Home – Written On Tuesday, March 10, 2009 at 2:20pm

Another summer day Has come and gone away In Paris and Rome But I wanna go home….sepenggal kalimat pembuka dari lagu MICHAEL BUBLE yang judulnya HOME menjadi penutup salah satu (bahkan mungkin satu satunya) film yang gw buat bersama jawa and jogreg..ada cuplikan2 adegan sama temen2 kampus dan junior2 pada saat pulang OSPEK..dengan efek slow motion cukup membuat yang nonton hening sejenak (gw tau banget mereka pada tersentuh pas adegan itu..hehehe..ngaku lo semua..) Dimana tempat paling nyaman di dunia ini??Tempat kita bisa ngapain aja??Gw ga tau jawaban lo dimana tapi buat gw..ya di RUMAH!! Temen gw,dalam rangka tugas dinas…dia harus siap kapanpun ditugaskan ke luar kota..sudah beberapa kali dia dinas..dan beberapa kali juga dia bilang kangen sama jakarta.. Ada lagi nih…temen gw juga,tugas di daerah dimana orang2nya terkenal pelit (menurut mitos loh)…dia dalam kondisi yang kurang enak sekarang..dan yang dia inginkan hanyalah PULANG KE RUMAH DAN TIDUR DENGAN TENANG.. Bahkan seorang dave grohl sampe bikin lagu yang judulnya HOME biar anak2nya bisa kangen terus sama rumah… Buat gw…perasaan mereka wajar..karena di rumah itu selalu menyenangkan,kita ga perlu khawatir,karena ada orang2 yang satu atap dengan kita dan siap menolong kita di saat kita susah,tanpa kita minta…isn’t that great??!! Jangan pernah bilang kalau rumah kita membosankan,tidak nyaman di rumah,karena cuma RUMAH yang akan menerima kita kembali dalam kondisi apapun..sebagai pemenang atau sebagai pecundang.. Terima kasih sudah membaca tulisan ini..dan jangan pernah malu untuk mengungkapkan kerinduan akan rumah yang nyaman.. (^_^)v THERE IS NO HOME LIKE THE ONE YOU GOT…COS THAT HOME BELONGS TO YOU…