Wae Rebo, Kampung yang dikelilingi pegunungan. (Day 5 and 6)

Di hari  ke- 5, kami sepakat untuk berangkat jam 4.00 subuh. Kami bersiap dari hotel CF Komodo dijemput oleh bapak driver yang memang sudah kami pesan sebelum kami berangkat. Jadi kami sewa mobil di labuan bajo ke orang yang Namanya Pak Marianus, inget ya..pak Marianus (082236206536) just keep it that way, ga usah disingkat singkat. Perawakannya menyeramkan, besar, gendut, kumisan, tapi orangnya baik. Akhirnya kami pun berangkat menuju denge, kampung terakhir dimana kami bisa menggapai wae rebo menggunakan mobil. Ada insiden kecil, sepatu saya ketinggalan di hotel, jadi kami putar balik (sebentar aja sih) untuk ambil sepatu saya. So let us start the story

Continue reading Wae Rebo, Kampung yang dikelilingi pegunungan. (Day 5 and 6)

Manta, dan sebuah tantangan – Day 4 Labuan Bajo

Hari ke-empat perjalanan ke labuan bajo, dan hari ketiga kami live on boat. Pagi ini saya bangun agak siang. Saya benar benar lelah. Kami tidak menunggu sunrise, karena posisi kapal yang kurang memungkinkan.

You jump, I jump..

Perjalanan hari ini dimulai dengan manta point. Apa itu manta? Awalnya saya juga ga tau. Cuma belagak paham aja biar keren. Sampe andy bilang “manta itu pari bung” . Oke, paham. Kita akan melihat ikan pari. Kapal bergerak, dan kami sarapan. Dalam beberapa saat kami akan sampai di Manta Point. Kami memang melihat manta dalam perjalanan kesana. Berenang di permukaan bahkan ada beberapa kali berenang di sisi kapal kami. Sebelum sampai di manta point, kami diminta bersiap dengan peralatan snorkling. Akhirnya kapal kami berhenti Read More

Hunted!! – Day 3 in Labuan Bajo

SUNRISE
Malam pertama live on boat kami menginap di gili (pulau) padar. Di pagi hari, kami dibangunkan oleh Akbar, “bang, bangun bang. Liat sunrise” . Ada 2 kamar masing – masing berkapasitas 3 orang, dan 2 matras di dek kapal. Saya dari awal memang ingin tidur di dek saja. Pada akhirnya, kami ber-enam tidur di dek kapal. Saya, Posma, Yuke, Adi, Cesar, dan Andy. Continue reading Hunted!! – Day 3 in Labuan Bajo

Selamat datang, di sisi Timur Indonesia (Labuan Bajo, day 2)

Setelah bermalam di bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali (yang ternyata beberapa dari kami cukup nyenyak), kami melanjutkan perjalanan ke Labuan bajo menggunakan pesawat Wings Air. Jadwal keberangkatan yang harusnya jam 6 pagi WITA, diundur menjadi sekitar jam 9 WITA. Yasudah, apa boleh bikin, yang penting pengumuman delaynya sudah kami ketahui jauh – jauh hari. Jadilah kami berangkat sekitar jam berapanya saya juga ga tau, karena begitu duduk di pesawat saya langsung tidur. Pokoknya berangkat.

Oia, sedikit tips, kalo kalian seneng foto – foto, penerbangan dari Denpasar ke Labuan Bajo saya sarankan ambil seat window sebelah kanan (pesawat sejenis bombardier dengan seat 2-2). Di posisi ini kita bisa dapet best view pulau – pulau yang ada di sekitar Labuan bajo. Keliatan dari atas aja udah bagus banget. Gradasi air laut, bukit yang hijau kecoklatan, buat mata saya yang agak – agak jarang ngeliat begituan, saya sih cukup norak.

IMG_0211 IMG_0198

Begitu mendarat di bandara Komodo, jangan lupa selfie/groufie/wefie/any-fie lainya dengan latar belakang bandara. Biar eksis. Sampai juga di Labuan Bajo. Kami ga sabar langsung ke pelabuhan dan memulai live on boat. Setelah ambil bagasi, kami keluar bandara dan mencari mobil yang bisa disewa. Di luar bandara banyak kok yang nawarin. Kami ambil 1 mobil avanza, dengan biaya sewa Rp 60.000,-. Agak sempit-sempitan mengingat barang bawaan lumayan banyak. Tapi ga masalah, karena pelabuhannya paling cuma sekitar 5 menit. Ga usah pake nawar ya, itu udah cukup murah. Bantu pariwisata lokal juga. Jangan kayak orang susah lah masih minta turun goceng.

IMG_0204
Groufie dulu biar kayak traveler pemula

IMG_0210

Sampai di pelabuhan, kami menelepon sang empunya kapal yang kami sewa, pak Mat. Pak Mat punya 2 kapal, 1 kapasitas 10-12 orang, dan 1 lagi kapasitas 8 orang. Jadi sistemnya begini, sewa kapal dihitung per orang. Jadi kapasitas kapal 8 dan kami Cuma 7 orang, tadinya pak Mat akan mencari 1 orang lagi untuk ikut sama kami, tapi kami putuskan untuk tetap sewa untuk 8 orang, supaya lebih nyaman aja (ini dipastikan sebelum kami berangkat, bukan di pelabuhan). Ada sedikit perubahan, kami akan berlayar bersama keponakan pak Mat. Akbar namanya. Karena ternyata pak Mat membawa kapal yang berkapasitas 12 orang. Ga ada masalah, mereka ramah – ramah.

Selama di kapal, kita akan diberi makan sangat layak dan banyak. Ga usah takut kelaparan. Makan 3 kali sehari dan snack 1 kali. Kru kapal serba bisa, mereka yang masak. Kru-nya pak akbar pandai masak. Kita juga akan dapat persediaan air mineral yang cukup. Dan kamar mandi yang layak, lengkap dengan air tawar buat mandi. Pokoknya kita ga bakal susah selama hidup di kapal, disediain semua. Saya sendiri sangat puas dengan kapal pak Mat yang dioperasikan oleh Akbar dan kru. Very recommended. Kalo kalian baca blog ini (kalo….) dan ada niat pergi ke Labuan bajo, saya sarankan sewa kapal pak Mat. Dan kalau bisa jauh – jauh hari, karena senin harga naik!!! Eh bukan, maksud saya kapal pak Mat cukup sering full book.

Makanan diatas kapal
Makanan diatas kapal

Biaya sewa kapal kapasitas 8 orang adalah 8 Juta rupiah, cukup murah untuk semua fasilitas dan keramahan kru kapal ini dan untuk nomor telepon pak Mat 082145704054.

Setelah jangkar kapal diangkat dan kapal perlahan mulai berlayar menjauh dari pelabuhan, di depan mata kita langsung ada pemandangan laut biru dan bukit – bukit yang keren. Padahal mah belum sampe mana-mana…belom….baru juga berangkat, tapi udah keren. Disudut manapun fotonya diambil, pasti bagus. Saat itu kami ga tau pemandangan sekeren apa yang akan kami dapat nanti, but we are very excited.

AB Three
AB Three
SM*SH
SM*SH

Tujuan pertama kami adalah pulau kelor. Di pulau kelor ini kita bisa snorkling. Pemandangan alam bawah laut di pulau kelor sangat memukau. Karang yang cantik dan ikan – ikan yang lucu. Kami sampai agak siang, sehingga sedikit terburu buru dari 1 tempat ke tempat berikutnya. Di pulau kelor kami mungkin menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk snorkling, dan lanjut ke tanjung rinca.

Di Tanjung rinca, kami sebenernya hanya memanfaatkan waktu menunggu 1 kapal yang akan bersama sama kami ke pulau padar. Kami snorkling beberapa saat, dan Akbar, sang kapten, mengingatkan kami untuk tidak terlalu dekat ke pantai. karena tanjung rinca merupakan salah satu habitat berkembang biak komodo. Dan komodo bisa berenang ke laut.

Ketika kapal yang kami tunggu sudah mendekat, kami segera naik dan langsung menuju pulau padar. Itu loh, pulau yang di puncaknya kita bisa melihat 3 pantai sekaligus. Untuk sampai ke puncak gili padar, kita harus treking. Saya bertanya ke Akbar, apakah jalurnya bisa dilewati dengan menggunakan sendal? dan dia bilang bisa. Ya saya sih pede aja, dia aja nyeker kok. Ternyata itu adalah kesalahan hari ini, jalurnya lumayan berbatu dan sangat tidak saya anjurkan untuk menggunakan sendal. Akbar mungkin sudah sering kesini jadi dia sudah terbiasa, jadi inget film Lone Survivor.  Tapi semua rasa sakit karena treking itu juga terbayar ketika kami sampai di puncak pulau padar. Awesome….

IMG_0269

Eva Arnas-Esque
Eva Arnas-Esque

IMG_1300 IMG_1304 IMG_1313 IMG_1294

Sebelum sampai kesini, saya memang googling tentang pulau padar. Tapi pemandangan ini jauh lebih baik dilihat dengan mata kepala sendiri dibanding lewat internet. Bagus banget, 3 teluk yang menyatu ke arah daratan dan pemandangan overland lainnya. Keren. Kami langsung foto – foto. Dari foto sendiri sendiri, rame – rame, groufie, selfie, macem – macem deh. Apalah arti dari pemandangan indah ini kalo saya ga bisa eksis. Ada satu orang jerman yang kami minta tolong untuk mengambil gambar kami bertujuh. Kami mulai menyanyi Best Day Of My Life bersama sama, dan membuat satu rekaman Top of The world bersama Saturday Morning Sound. Saya sendiri merasa seperti on top of the world, sampe bingung mau nulis apa buat menjabarkan keindahan puncak gili padar. They say picture show much more than words, so here we go…

IMG_0400 IMG_0311 IMG_0316 IMG_0319 IMG_0336 IMG_0373 IMG_0421

IMG_0349

Kami di puncak pulau padar sampai matahari terbenam, baru turun. Agak telat juga karena hari sudah gelap dan kami ga ada yang bawa senter. Oia, kalo ke labuan bajo jangan lupa bawa senter. Tujuannya ya buat kayak gini, kalo mau sunset di puncak, turunnya enakan pake senter buat liat jalur trek.

Pas kami mulai turun ke bawah, ada pasangan yang sedang foto pre wedding.. di puncak pulau padar…ketika hari sudah gelap…dengan pakaian yang ribet…dan mereka baru mulai sesi foto…..

baru……

mulai……

Kadang – kadang ada hal yang sebaiknya kita buat simpel… -_-

Turun dari Puncak pulau padar, kami mandi dan kru kapal sudah menyiapkan makan malam. Menunya ikan bakar, cumi goreng, 2 jenis sayur, yang pasti enak, dan banyak, dan ada Indomie….makanan paling enak se-semesta raya…. seharian ini kami sudah banyak keluar energi, dan kita balas pakai Indomie..yessss…persetan dengan pola hidup sehat!!

Selesai makan, kami melihat plankton yang bersinar berwarna biru di laut. Sampai Akbar datang dan bilang ïni ada yang lebih bagus bang” sesaat setelahnya dia mematikan lampu di tempat kami makan dan langit labuan bajo menyuguhkan pemandangan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.

Bintang bintang bertaburan di Langit, sangat banyak..kontras dengan pemandangan kami yang gelap. Never do stargazing ever before.. and it feels so awesome…

Saya jadi bertanya tanya apakah chris martin sedang merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan sekarang ketika dia menciptakan lagu Sky Full Of Stars… Seriously Chris? you have this kind of view in UK?

Semesta mendukung, cuaca cerah,ditambah dengan keramahan kru kapal kami dan keindahan yang saya lihat sepanjang hari ini. Saya merasa Labuan Bajo menyambut kami dengan cara yang luar biasa.

Labuan Bajo, seakan ingin menerima kedatangan kami dengan kehangatan khas seorang sahabat dan berkata…

Selamat datang..di sisi timur Indonesia….

Belajar dari Singapura (1) – Dari Pekanbaru ke Singapore

Setelah membiarkan blog ini berdebu hampir setengah tahun, saya memutuskan untuk memulai  mengisi blog ini dengan pengalaman – pengalaman saya. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan saya ke singapura yang mana menjadi pengalaman pertama saya melancong ke luar negri. Ada banyak hal yang saya dapat dari perjalanan saya tersebut, saya mungkin akan membagi tulisan saya menjadi beberapa bagian. Dan ini adalah bagian yang pertama…Enjoy…

 

Beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk pergi ke Singapura. Wisata yang saya anggap “kecelakaan” karena tujuan utamanya bukan untuk berlibur tapi untuk menonton Foo Fighters, band rock yang saya kagumi. Sialnya 1 minggu sebelum hari-H pihak promotor membatalkan konser karena Dave Grohl diberitakan mengalami gangguan pada pita suaranya (Cancelled due to the medical situation – itu yang tertulis di situs milik promoter konser mereka)

 

Berangkat sendiri dari Pekanbaru dan merupakan pengalaman pertama saya ke luar negri cukup membuat saya deg2an. Perasaan antara senang, sangat bersemangat , dan khawatir (beberapa hari sebelumnya saya membaca kisah tentang bagaimana seorang backpacker langsung ditangkap hanya karena memiliki kesamaan nama dengan buronan terkemuka di USA) menjadi satu.

 

Dari Pekanbaru menuju Singapura tidak ada penerbangan pesawat langsung, jadi saya memutuskan untuk naik pesawat ke batam, dan dari batam saya lanjutkan naik Ferry ke singapura. Tidak susah. Tinggal googling saja dan kita bisa mendapatkan semua informasi tersebut. Ditambah peta buatan sendiri yang dibikin oleh sahabat saya @yunarkoak , menjelaskan cara menuju Batam Center (Pelabuhan di Batam) dari Hang Nadim (Bandara di Batam)

 

Setibanya di Hang Nadim, saya membeli tiket Bus Damri seharga Rp 15.000,-  jurusan Jodoh. Dari peta buatan sahabat saya, saya harus turun di Simpang Jam dan menyambung bus Damri Jurusan Batam Center seharga Rp 3.000,- di peta digital itu, ada tulisan “MOTTO : Pantang Pulang sebelum Sampai, Taksi Jalan Terakhirku” si jancuk itu memang hanya mencoba untuk meledek saya ketika saya BBM dia dan bilang “ga usah repot2, dari bandara langsung naik taksi aja”

 

Mengikuti anjuran dia, saya berhasil sampai Batam Center dengan aman. Langsung masuk ke dalamnya dan layaknya terminal bus atau bandara, kita bisa lihat ada beberapa loket kapal ferry dengan waktu keberangkatan yang bermacam macam, pilihan saya jatuh ke Batam Fast dan Pinguin. Mengingat waktu keberangkatan Penguin lebih awal (15.20 WIB) saya memilih Pinguin karena saya tidak mau tiba di Singapura terlalu malam (perbedaan waktunya adalah 1 jam dan singapura lebih awal), harga tiket 45 SGD untuk tiket PP sudah termasuk tax dari batam, dan belum  tax dari Singapura (sekitar 6 SGD)

 

Waktu tempuh dari Batam Center ke Harbour Front (Pelabuhan di Singapura) + 45 Menit, dan kapal Ferry yang saya naiki termasuk nyaman. Ruangan yang dingin, tempat duduk yang luas, dan penumpang yang tidak terlalu banyak. Banyaknya jadwal penyebrangan dari Batam – Singapura mungkin menjadi alasan penumpang kapal ferry itu tidak terlalu padat.

 

Sampai di Harbour Front, urus masalah keimigrasian. Tidak repot kecuali anda koruptor yang masuk dalam daftar buruan CIA. Sebelumnya anda akan diberikan semacam kartu yang menjadi tanda anda Keluar/Masuk dari/ke Batam/Pekanbaru (paham cara baca kata kata barusan kan?) dan anda diminta untuk menuliskan lokasi tinggal selama berada di singapura. Saya mengisinya dengan nama hotel tempat saya akan menginap nantinya. Sesudah passport di stempel, kita bisa melangkah keluar dari Harbour Front dan….. Selamat Datang di Singapura 🙂