Margaretha and A (nother) Story About Saturday Morning Sound

Setelah sebelumnya saya menulis tentang Retha, sekarang saya akan menulis tentang Metha. They are a different people but have a similar rhymes name. Orang sering tertukar antara Metha dan Retha.

Saya sudah beberapa kali menulis tentang Saturday Morning Sound, band yang terdiri dari saya, Cesar, dan Metha yang cover lagu – lagu orang yang kami anggap enak. Sudah beberapa lagu yang kami cover dan hasilnya bagus. She has a great voice. Really great voice. She sing a song easily like she never put an effort on it. Sayangnya Metha juga harus mutasi ke Jakarta, ke tempat yang sama dengan Retha. Dan kehilangan 2 orang teman disaat bersamaan tidak pernah mudah. Kehilangan vokalis band juga sama sedihnya. Even for me as I try to deny that feeling as hard as I can.

 

Saya mendengar nama Metha dari temannya yang juga rekan kerja saya, sekitar pertengahan 2011. Dan di akhir 2011 (lagi – lagi) dikepanitian natal, baru saya ketemu langsung. Cesar, vokalis pria di band saya pernah bilang kalo ada yang pindah dari Rengat, dan suaranya bagus. “jazzy gitu bro..” kata Cesar dulu.

Metha punya selera musik yang bagus. Saya akan bertanya ke Metha untuk referensi lagu – lagu baru, karena saya lebih suka musik jadul. Kebetulan juga kami punya banyak kesamaan. Mulai dari musik, sifat, sampai pola pikir. Saya pernah balik ke Jakarta dan satu pesawat sama Metha. We talk a lot. Sering kali saya berucap “sama, gue juga gitu” untuk beberapa topik yang kami bicarakan. Mungkin karena kami sama-sama dari Jakarta dan sama-sama anak terakhir.

Yang paling mengagetkan saya, Metha juga suka Dream Theater. Saya tahu Electronic Music Dance secara tidak langsung juga dari Metha, setelah dia minta saya dengerin Zedd feat. Hayley Williams of Paramore yang judulnya Stay The Night. Dari sana saya mencari tahu lebih banyak lagu – lagu Zedd. Metha suka The Beatles, saya bahkan bisa berdiskusi tentang Strawberry Field Forever sama Metha.

Kadang saya berpikir Metha itu adalah saya versi perempuan, dengan tubuh yang lebih kecil, rambut yang lebih lurus, suara yang lebih bagus, dan ketawa yang LEBIH NGAKAK (sumpah ini orang kalo ngakak ga pake etika).

Saya pernah menulis bahwa Saturday Morning Sound itu semacam pelampiasan saya untuk mengatasi kebosanan saya di kota ini. Bermain musik, terutama sama teman-teman yang memiliki selera musik yang sama sangat membantu saya untuk sejenak melarikan diri dari situasi. And I have those privilege.

 

Kami sudah meng-cover banyak lagu, mulai dari Paramore, Norah Jones, Katy Perry, Magic!, dan di sesi terakhir rekaman kami, kami memainkan lagu dari Paramore, One Republic, and Sam Smith (The Video will Released Soon on Youtube). Suara Metha itu enak banget buat mainin lagu – lagu Ten 2 Five. Saya akan memulai dengan C#m7 dan dia akan menyanyikan lagu Ten 2 Five, bebas, yang mana aja. Lagu-lagu Ten 2 Five akan selalu pas dinyanyikan Metha. Dan mungkin pengalaman nyanyi paling menyenangkan adalah ketika kami buat video musik di pantai Seminyak, Bali. It was just like the best memories I ever had with them.

 

Ada satu cerita (konyol) yang saya tidak akan lupa. Saat kami karaoke sama – sama, entah karena hal apa Metha tiba – tiba ngambek dan keluar duluan. Awalnya kami biasa aja sampai salah satu dari kami bilang “Metha ga bisa keluar parkiran, ini tiket parkir motornya sama aku”. Dan saya langsung mengejar Metha keluar. Turun dari lantai 4 melalui tangga, dan setengah berlari Karena saya lihat metha sudah berjalan keluar parkiran. Dan kami terlibat adegan kejar – kejaran ala sinetron. Padahal saya hanya ingin ngasih tiket parkirnya supaya dia bisa naik motor.

Saya memang sudah dengar kabar kalau Metha akan mutasi, dari Cesar dan Retha. Itu makanya saya sedikit memaksakan dia untuk jamming tanggal 29 November 2014. Meskipun dia bilang dia punya banyak kegiatan dihari itu, tapi saya memang merasa kalau mungkin ini akan jadi kesempatan terakhir Saturday Morning Sound untuk bermusik bareng. Dia meminta saya untuk membawakan lagu Sam Smith, dan sebagai gantinya saya minta dia menyanyikan lagu Paramore. Lagu paramore itu sudah saya minta sekitar 1 tahun yang lalu, tapi dia selalu menolak dengan alasan kurang pede. Pada akhirnya kami bawakan dengan hasil yang memuaskan.

Masih banyak lagu bagus yang belum sempat kami bawakan. Geronimo dari Sheppard, Roar dari Katy Perry, tapi Metha harus kembali ke Jakarta. Back to her hometown. And just like I’m happy for Retha, I’m happy for Metha too. Saya kehilangan sahabat yang juga vokalis band saya disini. Formasi yang memungkinkan saya tampil seolah gitaris handal, beraksi seperti No Doubt, Paramore, The Cranberries, dan sederet band yang menampilkan wanita sebagai penyanyi utama

Dan akhirnya saya memang harus merelakan kepulangan sahabat saya, Metha, ke Jakarta. Vokalis Saturday Morning Sound, yang mengenalkan saya pada Soundhound, dan membuat saya mengagumi Zedd.

Thanks Metha, for helping me adapt well in this city by playing music together. I hope you doing good at Jakarta. If I can meet Retha in our Church at JPCC, I don’t know when we will meet each other again. You still owe me the “Boombs Away” part on Geronimo, so keep in mind that Saturday Morning Sound is not over. Because playing good music with good friends… Ain’t it Fun?

IMG_2438
Saturday Morning Sound (Cesar, Metha, Benny)
Advertisements

Till we meet again Retha..

“loh, mba..pulang ke Jakarta juga?” Tanya saya ke teman yang bertugas di kota yang sama dengan saya.

“enggak sih, aku ke jogja. Tapi nginep dulu di Jakarta baru ke jogja. Kalo kamu emang orang Jakarta?” jawab si mbak temen saya itu.

“iya, saya emang orang Jakarta. Wah ga nyangka kita sepesawat” jawab saya lagi.

“iya ya…eh tapi aku lupa namamu loh…” kata si mbak itu lagi sambil cengar cengir.

“sama mba, sebenernya dari turun pesawat sampe sekarang saya coba inget2 nama situ, tapi tetep ga inget juga. Kita kenalan lagi deh. Nama saya Benny” kata saya sambil nyengir dan nyodorin tangan.

“yaudah deh…namaku Maretha” si mbak itu menjabat tangan saya sambil ketawa.

Pembicaraan bodoh itu terjadi di Bandara Soekarno Hatta, 23 Desember 2010. Kami dalam perjalanan mudik dari kota perantauan. Bodoh karena mungkin sekitar seminggu sebelumnya, kami menjadi penyanyi di acara Natal perusahaan tempat kami bekerja. Kami beberapa kali harus latihan bareng, dan karena ke-alpa-an saya dalam hal mengingat nama, saya lupa nama dia .

Persahabatan kami mungkin baru intens 2 tahun terakhir, ketika secara aklamasi saya mengangkat dia menjadi kadiv bidang hura – hura. Tugasnya cukup simple, saya akan bertanya ke dia via line atau whatsapp setiap sabtu sore “kemana rencana malam ini ret?”. Dan Maretha akan mengkoodinir kegiatan para perantau galau. Bisa ke bioskop, karaoke, atau hanya sekedar makan malam. Yang penting malam minggu dilarang hukumnya sendirian di kosan atau kontrakan.

Maretha, seperti Cesar dan Metha (teman2 bermusik saya di Saturday Morning Sound) adalah sahabat saya disini. Orang – orang yang membuat saya menikmati kehidupan saya di kota ini. Berkumpul sama mereka buat saya seperti menjaga kesehatan jiwa. Saya sangat menikmatinya.

Retha dan saya punya beberapa percakapan ikonik. Seperti…
“gereja jam berapa besok?”
“abis kebaktian makan dimana nih?”
“ngantuk ga sih lo denger pastor ini khotbah?”
“gue lagi dapet Line dari sorga”

Penggalan penggalan kalimat yang kami gunakan karena kami gereja di tempat yang sama. dan mungkin hanya kami yang mengerti maknanya.

Hingga sampai dihari ketika pulang gereja, saya , istri saya, dan retha yang sedang hamil (she’s married and her husband lived in Jakarta) makan siang bersama. Dia bilang kalau SK pindahnya sudah terbit. Dia akan pindah ke Jakarta. Saya kaget dan tidak percaya. Tidak ada berita kalau retha akan pindah. Tidak ada kabar (setidaknya untuk saya) kalau retha akan mutasi. Saya akan kehilangan 1 teman disini. Teman yang enak banget diajak hang out. And it hit me quite hard. Berita itu mengagetkan saya, bahkan sampai malam hari saya masih tidak percaya kalau retha akan pindah. Dan istri saya harus berulang kali menenangkan saya di rumah.

Tibalah hari Minggu terakhir Retha di Pekanbaru.

“Ret, gereja jam berapa lo?”
“ini lagi gereja. Lo jam berapa bro?”
“sama, jam 9”
“baru sadar, ini terakhir kali gue gereja disini”

Saya sedih, tapi juga bahagia. Bahagia untuk retha yang bisa berkumpul bersama suaminya dan menantikan anak pertama mereka. Like pastor Jose Carol Said, grown up is about happy for other people happiness. Meskipun tidak bisa saya pungkiri saya juga sedih mengingat saya akan kehilangan satu sahabat.

Cukup banyak hal seru yang kami lalui bersama, salah satunya adalah hal yang menyangkut ngambek, karcis parkir, dan adegan kejar – kejaran layaknya sinetron romansa remaja. Juga tentang bagaimana saya adalah “mentor”-nya unutk menjadi seorang agent of S.H.I.E.L.D yang baik dan benar, teori konspirasi, forensik selfie, dan pada akhirnya dia saya nyatakan lulus karena saya setuju dengan kesimpulan yang dia buat untuk suatu kasus (actually this paragraph sounds very weird, but I need to put it on this post because almost impossible to remember our friendship without mentioning those things 😀 )

Dan tidak ada lagi minggu – minggu dimana saya akan bertanya ke Retha “kemana acara kita malam ini? Gue bosen nih”

Karena untuk seterusnya, mungkin kota ini akan kembali terasa membosankan…untuk saya…

Till we meet again Maretha…

Note :
I’m sorry Retha, this might not be my best piece of writing. I promise you a blogpost. Because I just want to keep in mind that is nice to know you. But I’m not in a good mood to write, losing 2 friends at a same time is not easy. I hope God’s Grace will continue overflowing your family, your marriage life, and your soon-to-be-son. I’ll meet that boy in JPCC. I am very happy for you. Don’t forget us. God Bless You

photo(1)

LULUS

3 November 2009, saya pertama kali hidup sendirian. Nge-kost di Pekanbaru, kota dimana saya harus bekerja karena penempatan dinas disana. 3 minggu awal saya tinggal di rumah kerabat saya. Awalnya susah, saya terbiasa hidup dikeramaian. Rumah saya bukan termasuk tipe rumah yang sepi, selalu ada orang untuk saya ajak bicara. Malam hari selalu ada teman – teman saya yang nongkrong di depan rumah. Never been alone. Not until that day.

Penyesuaian dengan lingkungan baru memakan waktu cukup lama. Teman kost saya cuma 2, Gery Wong, Cina medan yang selalu mengklaim dirinya “beda dengan cina yang lain” dan bang Asep, perantauan asal jawa, Muslim Radikal tapi juga punya beberapa literature tentang Kristen. Beberapa hal yang saya ingat tentang bang Asep adalah, dia orang yang sangat baik. Sangat menolong saya beradaptasi. Kamar kost bang Asep sering kami jadikan tempat berkumpul, baik untuk saling bertukar cerita ataupun mendengar nasihat – nasihat bang Asep. Kamarnya sangat rapih, terlalu rapih bahkan.

Hanya 2 bulan bang Asep menjadi rekan kost saya, satu dan lain hal, beliau harus kembali ke jawa dan memulai hidup berkeluarga disana. Kamar bang asep diisi oleh orang pajak, Frans. Tidak banyak yang saya bisa ceritakan, karena toh dia juga menutup diri dari kami. Hanya sebulan Frans disana, sampai digantikan oleh Mas Arif. Rekan kerja saya, memilih untuk tinggal disana.

Bang Gery, atau Lae Gery saya memanggilnya. Lae adalah panggilan untuk abang dalam bahasa batak. Makanya diawal saya sudah bilang, dia mengklaim dirinya beda dari cina yang lain. Very helpful person, jika kita butuh sesuatu, bang gery pasti punya kenalan di bidang tersebut. Apapun itu. orang yang pandai bergaul dan sangat baik.

Arief sandy anggoro, kawan kerja saya di kantor. Perantauan asal Semarang. Tidak banyak bicara tapi dia akan membantu selama dia rasa sanggup dibantu. Mas arief tidak akan mengenal Levi’s dan kemeja Slim Fit apabila dia tidak bergaul sama saya maupun bang gery.

3 November 2014, saya sudah berpamitan kepada bapak dan ibu kost. 5 tahun bukan waku yang singkat. Saya dan istri sudah berdoa di dalam kamar saya, kamar yang selama 5 tahun terakhir menjadi tempat perlindungan saya. Kami mendoakan keluarga suwondo, yang memperlakukan saya seperti anaknya sendiri.

Ada beberapa kisah menarik dengan keluarga kost saya. Di awal – awal saya tinggal disana, saya terlambat bangun. Saya terbangun ketika ada ketukan keras dan berkali kali di pintu kamar kos saya. Ketukan panic. Ketika saya buka, bapak dan ibu kost saya sudah ada di depan pintu sambil bertanya kenapa saya belum berangkat ke kantor. Mereka khawatir, mereka pikir saya sakit. Dan pernah juga ketika saya dan mas Arief sdang berdinas ke luar kota, ada berita tentang pegawai PLN yang tewas tersengat listrik di kabupaten tempat kami dinas. Bapak suwondo berkali kali menelepon ke handphone saya, tidak terangkat karena saya tidak pernah membawa handphone ke lapangan. Ternyata beliau pikir itu kami. Bahkan sekarang mereka sudah tahu siapa diantara saya, mas arief, atau bang gery yang pulang, hanya dari derap langkah kami di koridor.

4 tahun juga bukan waktu yang singkat untuk persahabatan saya, bang gery dan mas arief. Banyak hal kami lewati bersama sama. Kami pernah berlibur ke Sumatera Barat, kami sering bercerita dan menguatkan satu sama lain. Saya bersyukur sekali, tempat pertama yang saya jalani ketika hidup sendiri, saya tinggal bersama mereka. Mereka adalah saudara – saudara saya. Ketika saya sakit dan dirawat selama 8 hari, mereka berdua sangat menolong saya. Membawakan makanan untuk ibu dan istri saya. Saya masih ingat ketika persiapan pernikahan saya, mas arief membantu menyiapkan undangan, dan kami bertiga membeli sepatu yang saya gunakan untuk acara pernikahan, di tempat teman bang Gery.

Ketika saya pamit, kami bertiga berdoa di kamar mas Arief. Mereka mendoakan saya dan keluarga saya. Sebuah harapan tulus dari sahabat saya. Mulai hari itu saya sudah tinggal di rumah saya sendiri. Rumah yang dalam persiapannya juga banyak dibantu oleh mereka. Setiap sudut rumah ini, ada bantuan mereka berdua dalam persiapan tinggal saya. I will never forget that. Saya akan merasa kehilangan. Kehilangan momen ketika kami bercanda sampai malam. Mengingat kekonyolan yang pernah kami lakukan. Bagaimana ketika kami membeli 1 karung durian dan kepayahan menghabiskannya. Atau ketika saya dan bang gery berkeliling kota mencari bracket untuk LCD TV yang baru saya beli sampai harus membohongi toko resmi SONY di jalan sudirman.

But Life Goes On, ada waktunya saya harus pamit. Saya harus beranjak lebih dulu dari kamar kost di Jalan Arjuna nomor 44. Saya lulus duluan. Mungkin ada banyak kesalahan yang saya lakukan selama tinggal disana. Saya meminta maaf. Tapi saya sangat berterima kasih kepada Tuhan. Menempatkan saya disana sama sekali bukan sebuha kesalahan. I came as a boy, and went out as a Man. Mereka membantu saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk mereka. I told them that this house is theirs too…

 

Well my brothers, I know you read this note. I made it because I just feel that this story is part of my life that I won’t forget. Part of my life that I will passed to my children. I have a great – great brothers. They help me to survive, they bring me up to the next level of life. And I thank God for have them in the time I have to survive in this city… God Bless Us Brothers…

100_0747 100_0653 100_0684

Travel is About the Journey, Not The Destination (Saturday Morning Sound Goes to Bali)

“Bro, kayaknya Saturday Morning Sound goes to Bali nih” masuk pesan singkat via whatsapp ke Smartphone saya tengah malam.

“Serius lo? Rekaman di pinggir pantai nih? Gue beli gitar kecil nih?” balas saya.

“Oke gue beli Jimbe deh” Teman saya membalas.

Percakapan pendek saya dan Ceisar, vokalis grup musik bentukan kami, Saturday Morning Sound. Dia mengkonfirmasi bahwa Metha, our female singer akan ikut juga ke Bali dalam rangkaian perjalanan dinas kami.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, kami punya grup namanya Saturday Morning Sound. Menyanyikan ulang lagu – lagu yang kami rasa bagus , semata mata untuk kesenangan kami bermusik. Dan membayangkan bahwa kami akan melakukanya di pantai sudah menjadi alasan yang cukup kuat untuk menikmati perjalanan ini.

Dari hari pertama kami berkumpul, Selasa 9 September 2014, saya dan Ceisar sudah sibuk membahas lagu apa, di pantai mana, beli gitar dimana. Metha hanya berulang kali bilang “Gue belum bisa mikirin itu bang” dia lebih memilih fokus ke tujuan perjalanan dinas kami kali ini.

Toh tidak bisa saya pungkiri, kehadiran teman – teman satu grup musik saya membuat semuanya menjadi menyenangkan. Setiap coffe break atau istirahat makan siang, kami akan mengambil posisi yang sama. Bisa bercanda dengan nyaman, menikmati angin pantai yang teduh di lantai 3 gedung kantor Disbali, sambil sesekali menyanyikan lagu Magic – Rude, yang kami pilih untuk dibawakan dalam rekaman nanti. I really enjoy those moment.

Saya juga sangat menikmati ketika kami nongkrong di salah satu bar kecil hampir di ujung jalan Legian. Sanctuaria namanya. Ga banyak yang kami lakukan, hanya ngobrol – ngobrol santai sambil minum. Tapi toh saya rela menyusul mereka ke Sanctuaria dengan agak tergesa melewati Jalan Pantai Kuta dari Hard Rock Café. Iya, Hard Rock Café yang itu, ke bar kecil di jalan Legian yang bahkan tempat duduknya pun sempit dan lokasinya tepat di pinggir jalan. I know with whom I will hang out. Dan sampai tulisan ini dibuat, saya masih gagal beranjak dari ambience Bar Sanctuaria. Sanctuaria saya tempatkan sejajar dengan “ Perempatan Circle K Dago”. Lokasi dimana beberapa tahun ke depan ketika saya melewatinya, saya akan tersenyum dan mengingat hari itu. Nice Memories

Nice Bar, Nice Chat
Nice Bar, Nice Chat

Akhirnya kami membuat video di pantai Seminyak, Bali. Lagu “Rude” dari Magic, dan “Best Day Of My Life” dari American Authors kami rekam di hari Sabtu Pagi. Sesuai nama grup kami, Saturday Morning Sound. Suasananya menyenangkan, dan karena dasarnya suara kami bagus – bagus semua (sombong dikit bolehlah), hasil rekamannya juga enak.

Satu hal yang saya ambil dari travelling kali ini dan ingin saya bagikan lewat catatan pribadi saya.

Dear New Travelers,

 

Maybe Travelling is not about the destination..

It’s about who you travel with..

It’s about the journey…

And I’m happy because I have my friends, Saturday Morning Sound… with me..

 

Benny Reinmart

@bennyreinmart

My Narcissistic, Awesome, Brilliant Musician Supergroup... Saturday Morning Sound... (Ceisar, Metha, Benny)
My Narcissistic, Awesome, Brilliant Musician Supergroup… Saturday Morning Sound… (Ceisar, Metha, Benny)

Bagaimana Air Asia (Akan) Mengubah Hidup Saya

Sebelum saya memulai tulisan ini, saya ingin menjelaskan mengapa saya sedikit mengubah judul tulisan ini dari tema yang sudah ditetapkan oleh Air Asia. Saya menambahkan (Akan) karena sejujurnya saya belum pernah terbang menggunakan Air Asia untuk bepergian ke luar Negeri. Bahkan lebih jauh lagi, satu satunya negara yang pernah saya kunjungi hanyalah Singapura, karena urusan pekerjaan dan melalui Batam, jadi saya belum memiliki pengalaman terbang menggunakan Air Asia.

Nama Saya Benny Reinmart, 28 Tahun, sudah menikah, bekerja di salah satu perusahaan dalam negri, dan Under Achiever. Saya tidak pernah melakukan hal – hal luar biasa dalam hidup saya. Tidak pernah mengikuti even lari 10 kilometer,half marathon, apalagi full marathon. Tidak pernah travelling selain untuk urusan pekerjaan, sehingga saya tidak bisa menggunggah foto – foto menawan di media sosial yang saya punya menggunakan berbagai tagar.

Saya berusaha menjalankan kehidupan saya dengan baik, lulus kuliah tepat waktu, mencari pekerjaan, mengumpulkan uang, menikah, dan membentuk rumah tangga. Sementara istri saya adalah seorang petualang. Mulai dari menyelam hingga mendaki gunung Mahameru sudah dia jalani. Semenjak kami menikah, hobi dia itu otomatis terhenti. Karena kami memutuskan untuk fokus menyusun rumah tangga kami, membangun rumah, dan melengkapi isi rumah kami. Bagi saya, itu tidak menjadi suatu masalah. Saya terbiasa menjalani hidup seperti ini, tapi bagi istri saya kehilangan petualangan petualang yang dulu pernah dia jalani sedikit mengurangi api kehidupan dia.

Sebelum kami melangsungkan pernikahan, dia meminta izin untuk menjalani petualangan terakhir. Mendaki gunung Himalaya. Dia sudah memperhitungkan biaya kesana. Dia mengajak saya untuk ikut. Jawaban saya, tidak. Saya merasa sayang uangnya. Saya bisa gunakan untuk mengisi rumah yang sedang kami bangun, dan saya merasa saya tidak bisa mendaki gunung. Saya bisa mengerti untuk tidak menghalangi mimpinya semenjak dulu, mendaki Himalaya. Dia bisa mengerti keteguhan saya untuk memprioritaskan rumah kami.

Hingga di suatu kesempatan dalam proses pembangunan rumah, kami mengalami kesulitan keuangan. Dia merelakan tabungan yang dia simpan untuk mendaki gunung Himalaya untuk digunakan. Saya sadar, dia sudah berusaha untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk travelling ke Nepal, saya menolak dan saya bilang saya bisa mengusahakan uang itu. Saya tidak mau menghalangi dia mengejar mimpinya. Dia bersikeras untuk menggunakan uang itu, dan berkata bahwa Himalaya bisa menunggu.

Saya tahu saya sudah menggagalkan impiannya. Saya meminta maaf kepadanya akan ketidakmampuan saya menjadi kepala keluarga yang baik. Dia hanya tersenyum dan menyarankan saya untuk menonton “The Secret Life Of Walter Mitty”

Saya menonton film tersebut bersama istri saya, dan saya bertanya kenapa dia menyarankan saya untuk menonton film itu. Dia berkata ada 2 hal yang ingin dia tunjukan kepada saya melalui film tersebut. Pertama, dia ingin memperlihatkan keindahan alam Himalaya. Kedua, dia ingin memperlihatkan karakter Mitty kepada saya. Dia merasa saya dan Mitty yang diperankan Ben Stiller memiliki kemiripan. Kami terlalu fokus pada kehidupan kami. Kami takut untuk mencoba hal- hal baru. Kami merasa kami memiliki tanggung jawab lebih terhadap keluarga. Padahal banyak sekali petualangan baru di dunia luar seandainya kami mau membuka diri dan memberi kelonggaran kepada diri kami sendiri. Dan dia menekankan bahwa dia rela uang tabungannya digunakan untuk pembangunan rumah kami, karena itulah yang selama ini saya lakukan sehingga saya merasa budget untuk liburan belum perlu ada. Dan dia meyakinkan saya bahwa Himalaya memang bisa menunggu.

Saya melihat pengumuman tentang kompetisi blog ini melalu sosial media. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa hadiah utama kompetisi blog ini adalah ke Nepal, dan lebih terkejut lagi ketika jumlah nominal uang yang bisa dimenangkan sama dengan jumlah tabungan istri saya yang saya gunakan, tabungan yang harusnya dia gunakan untuk pergi ke Himalaya.

Hari ini, 31 Agustus 2014 adalah batas akhir pengumpulan tulisan untuk mengikuti kompetisi ini. Bukan kebetulan juga bahwa 31 Agustus 2014 ini, adalah tepat 1 tahun usia pernikahan kami. Saya ingin memberikan istri saya kado pernikahan yang istimewa. Kado pernikahan yang tidak bisa saya berikan kepada istri saya. Kado pernikahan yang bahkan seharusnya bisa dia dapatkan lebih awal tanpa harus menunggu sekian lama.

Oleh karena itu judul tulisan ini adalah “Bagaimana Air Asia (Akan) Mengubah Hidup Saya”

Karena apabila saya memenangkan kompetisi blog ini, saya akan menjadi pribadi yang baru. Saya bisa mengabulkan mimpi istri saya, dan saya bisa keluar dari zona nyaman saya, tidak lagi menjadi seorang under achiever. Memiliki cerita untuk anak cucu kami kelak. Saya bisa pergi ke Nepal, mendaki Gunung Himalaya. Seperti Walter Mitty.

England Belongs To Me

Saya percaya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Saya sedang jenuh dengan rutinitas harian saya sebagai pekerja kantoran dan selalu merasa bahwa menulis adalah salah satu jalan paling tepat untuk melepaskan kepenatan, dan tiba – tiba kakak saya me-mention saya di Twitter. Dia memberitahu saya bahwa ada kesempatan ke Inggris gratis dengan mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan Mr. Potato dengan hashtag #InggrisGratis. Inggris!! Negara yang saya rasa sudah seperti Negara kedua saya walaupun saya belum pernah kesana.

 

Ada anekdot bahwa bahwa “bekerja keras demi sesuap nasi dan segenggam berlian”, tetapi di beberapa kesempatan, baik ketika berkelakar bersama teman – teman atau ketika saya menulis di blog pribadi saya, saya selalu berkata “Bekerja keras demi sesuap nasi dan selembar tiket ke London” karena semua orang terlalu sibuk mencari segenggam berlian. Saya kagum dengan Inggris. Walaupun hanya bisa melihat dari liputan – liputan televisi atau hasil berselancar di dunia maya, saya membayangkan gaya hidup orang – orang Inggris yang stylish, dengan moda transportasi umum yang bagus dan dengan privasi pejalan kaki yang baik. Arsitektur bangunan klasik yang masih terjaga dengan baik, dan arsitektur modern yang dibuat tanpa mengurangi nilai lingkungan yang bersejarah. Kebudayaan modern dan Klasik yang menjadi satu.

 

Ketika saya melihat Timeline Mr.Potato di Twitter, dan disana disebutkan bahwa The Beatles Story akan menjadi salah satu destinasi perjalanan ini. Seketika juga saya mengharuskan diri saya untuk ambil bagian. The Beatles mungkin adalah alasan terbesar saya menjadikan Inggris sebagai salah satu tujuan hidup saya. Saya sangat menggemari The Beatles, ketika kuliah The Beatles sangat identik dengan saya.

“Rambut gondrong pake kaos The Beatles, dari jauh juga udah tau semua kalau itu lo”, 4 Tahun masa kuliah, entah berapa kaos Beatles yang saya pakai. Saya memang hobby mengkoleksi T-Shirt the The Beatles, cukup banyak hingga teman – teman saya mengidentikan kaos Beatles dengan diri saya.

 

Let It Be
Let It Be

 

Posenya sih Queen, tapi kaosnya "A Hard Days Night"
Posenya sih Queen, tapi kaosnya “A Hard Days Night”

 

"Meet The Beatles"
“Meet The Beatles”
Sewaktu masih Muda, Gondrong, dan The Beatles
Sewaktu masih Muda, Gondrong, dan The Beatles

 

 

The Beatles Story adalah museum tentang The Beatles. Tempat yag paling saya impikan selain Stadion San Siro. Berkunjung kesana bisa jadi memberikan saya jawaban dari semua gimmick – gimmick yang John, Paul, George, dan Ringo sering hadirkan sepanjang karir mereka.

 

Apa maksud dari sampul album Sgt. Peppers Lonely Heart Club Band?

Kenapa ada kalimat “Yes he’s dead” di encore lagu “All You Need Is Love”?

Bagaimana dengan berita bahwa Paul McCartney yang asli sudah meninggal?

Apa maksud foto mereka di Abbey Road? Mobil yang jadi latar belakang foto itu, apa betul tanggal meninggal Paul yang asli?

 

Dan banyak sekali pertanyaan dalam benak saya tentang The Beatles, atau memang itu merupakan rencana mereka supaya ketenaran mereka tidak lekang dimakan zaman? Selain memang karya mereka yang luar biasa? Saya rasa hal – hal tersebut akan terjawab di Museum The Beatles.

 

Abbey Road, adalah sebuah tempat yang sangat terkenal. Album The Beatles yang berjudul sama dengan jalan itu menjadikan Abbey Road sangat ikonik. Saya bahkan pernah mencoba berpose seperti itu dengan teman teman saya di salah satu jalan di Jakarta, dan saya bilang ke teman – teman saya bahwa suatu hari nanti saya akan berpose di Abbey Road yang sebenarnya. Mimpi yang masih saya jaga sampai sekarang. Saya pernah melihat disuatu ulasan televisi mengenai Abbey Road, bahwa ketika ada orang sedang berpose seperti The Beatles di Abbey Road, para pengendara mobil akan memberikan waktu sejenak. “Menghargai orang – orang yang ingin menikmati momen berharga ini” , luar biasa. Sebuah penghargaan untuk mengenang para legenda seperti The Beatles. Inggris, Abbey Road, The Beatles Museum, ibaratnya Tanah Perjanjian dan Kuil Suci untuk saya. Tempat yang selalu menjadi destinasi impian saya.

Bergaya "Abbey Road" di Jakarta
Bergaya “Abbey Road” di Jakarta

 

Semua berawal dari mimpi. Ada ungkapan ‘Mimpi jangan ketinggian, kalo jatoh sakit”, saya hanya ingin bertanya, dari ketinggian manapun jatuh juga akan terasa sakit kan? Kenapa tidak bermimpi tinggi sekalian karena kalaupun tidak terwujud rasanya akan sama saja. Bahkan ketika saya menulis tulisan ini, pikiran saya tidak tenang karena memikirkan The Beatles Story dan Abbey Road. Saya sudah membayangkan apa yang akan saya lakukan di Museum itu. Saya sudah membayangkan pakaian apa yang saya kenakan. Sebuah setelan jas resmi, untuk menghargai karya mereka, untuk menunjukan kepada John Lennon di alam sana bahwa saya, penggemar karya – karyanya datang dengan kesungguhan hati untuk mengungkapkan terima kasih telah menemani hari – hari saya melalui musik, menjadi inspirasi saya, dan terima kasih atas kalimat “WAR IS OVER… If You Want It” yang dipajang oleh John Lennon dan Yoko Ono di billboard besar di 8 negara. Kalimat singkat yang sedikit banyak merubah pandangan saya atas peran saya di lingkungan saya sendiri.

 

Yeap, apabila saya memenangkan kesempatan berharga ini, saya tidak akan membiarkan memori itu hilang begitu saja. Luar biasa rasanya apabila saya berhasil mencapai tempat tujuan yang saya impikan dari dulu.

 

 

Dan diakhir perjalan nanti, saya akan dengan bangga meneriakan lirik lagu milik Cock Sparrer, band Punk asal Inggris…

 

No One Can Take away Our memory..

Oh Oh, England belongs to me!!!!!

 

 

This Two Packs of Mister Potato Means one Step Closer to My Dream "There's nothing you can do that can't be done, Cause Love is All You Need - The Beatles"
This Two Packs of Mister Potato Means one Step Closer to My Dream
“There’s nothing you can do that can’t be done, Cause Love is All You Need – The Beatles”

 

 

Benny Reinmart

Saturday Morning Sound

Apa yang menyenangkan dari bangun di Sabtu pagi? Kenyataan bahwa 2 bulan terakhir tiap sabtu saya bisa libur dan gitar – gitaran sama teman – teman saya. Iya..gitaran, main musik. Hal rutin yang selalu saya jalani seminggu sekali waktu SMA, jarang – jarang waktu kuliah, dan sama sekali berhenti waktu saya mulai kerja. Teman – teman kantor jarang yang bisa bermusik. Bermusik..if you know what I mean..

 

 

Awalnya dari kegiatan iseng – iseng saya sama Cesar Purba (orang batak juga) yang punya selera musik agak – agak sama, saya bawa gitar ke rumah Cesar trus genjreng2 sana sini. Saya kayak kembali ke jaman SMA waktu pertama kali ngeband, nyambung. Kita memang tumbuh besar di era musik yang sama. Ga susah milih lagu.

 

Terus kita ajak satu orang lagi, Margaretha Tobing (Batak Lagi) . A Female Vocalist, suaranya enak, dan kita bisa main musik yang lebih luas lagi. Saya emang suka band – band dengan frontman wanita. Save Ferris, No Doubt, dan pasti..Paramore. Adanya Metha juga pas buat bawain lagu duet sama si Cesar, suaranya sama – sama bagus. Bagian saya? Nyante – nyante main gitar genjreng genjreng. What is the best part of playing music with those two talented singer? They make everything easy and makes me like a good guitar player although I have a limited skill 😛

 

 

Saturday Morning Sound, karena kita selalu jamming hari Sabtu Pagi. Ga ada niat yang gimana – gimana banget samagrup ini . Ga sebesar niat gw sama band SMA dulu. Ya gpp, toh emang tujuannya buat cari kesibukan lain selain bekerja..bekerja..dan bekerja..

 

Saturday Morning Sound kebentuk di saat yang tepat. Saat saya bosen dari Senin sampe Jumat karena kerjaan juga ga jelas, hari Sabtunya kita mainin semua lagu yang kita kumpulin dari Senin Sampe Jumat.

 

Saturday Morning Sound jadi pelampiasan akhir pekan yang bagus, karena futsal sudah mulai membosankan. Setiap minggu main futsal sama orang – orang yang nerima operan belum becus, ngoper masih salah, ga tau kapan harus dribbling, kapan passing, kapan shooting, bikin futsal ga terlalu menyenangkan. Kasian Will Coerver dan “Metode Coerver” yang dipake akademi Ajax sampai hari ini.

 

Saturday Morning Sound, Because..

 

 

My Monday morning sound is “Damn it’s Monday”

 

My Tuesday Morning Sound is “Pfft, still Tuesday and I don’t know what to do”

 

 

My Wednesday Morning Sound is “What? Wednesday? Does Boss go for a meeting on mars?”

 

 

My Thursday Morning Sound is “Hhh..it’s just me or the world is having more than 24-hours a day?”

 

 

My Friday Morning Sound is “woohoo!!Friday!!woohoo!!8 more Hours and I’ll be gone !!.”

 

 

And My Saturday Morning Sound will Be “Saturday, let’s play some music..”

 

 

 

 

 Saturday Morning Sound – Us Against The World (Coldplay Cover)

http://www.youtube.com/watch?v=hK8G6ej_Uik

 

 

Saturday Morning Sound – Dakota (Stereophonics Cover)

http://www.youtube.com/watch?v=mgALkZ1rPKU

 

 

Saturday Morning Sound – The Only Exception (Paramore Cover)

http://www.youtube.com/watch?v=zvmS0MrYleY