Wae Rebo, Kampung yang dikelilingi pegunungan. (Day 5 and 6)

Di hari  ke- 5, kami sepakat untuk berangkat jam 4.00 subuh. Kami bersiap dari hotel CF Komodo dijemput oleh bapak driver yang memang sudah kami pesan sebelum kami berangkat. Jadi kami sewa mobil di labuan bajo ke orang yang Namanya Pak Marianus, inget ya..pak Marianus (082236206536) just keep it that way, ga usah disingkat singkat. Perawakannya menyeramkan, besar, gendut, kumisan, tapi orangnya baik. Akhirnya kami pun berangkat menuju denge, kampung terakhir dimana kami bisa menggapai wae rebo menggunakan mobil. Ada insiden kecil, sepatu saya ketinggalan di hotel, jadi kami putar balik (sebentar aja sih) untuk ambil sepatu saya. So let us start the story

Continue reading “Wae Rebo, Kampung yang dikelilingi pegunungan. (Day 5 and 6)”

Manta, dan sebuah tantangan – Day 4 Labuan Bajo

Hari ke-empat perjalanan ke labuan bajo, dan hari ketiga kami live on boat. Pagi ini saya bangun agak siang. Saya benar benar lelah. Kami tidak menunggu sunrise, karena posisi kapal yang kurang memungkinkan.

You jump, I jump..

Perjalanan hari ini dimulai dengan manta point. Apa itu manta? Awalnya saya juga ga tau. Cuma belagak paham aja biar keren. Sampe andy bilang “manta itu pari bung” . Oke, paham. Kita akan melihat ikan pari. Kapal bergerak, dan kami sarapan. Dalam beberapa saat kami akan sampai di Manta Point. Kami memang melihat manta dalam perjalanan kesana. Berenang di permukaan bahkan ada beberapa kali berenang di sisi kapal kami. Sebelum sampai di manta point, kami diminta bersiap dengan peralatan snorkling. Akhirnya kapal kami berhenti Read More

Hunted!! – Day 3 in Labuan Bajo

SUNRISE
Malam pertama live on boat kami menginap di gili (pulau) padar. Di pagi hari, kami dibangunkan oleh Akbar, “bang, bangun bang. Liat sunrise” . Ada 2 kamar masing – masing berkapasitas 3 orang, dan 2 matras di dek kapal. Saya dari awal memang ingin tidur di dek saja. Pada akhirnya, kami ber-enam tidur di dek kapal. Saya, Posma, Yuke, Adi, Cesar, dan Andy. Continue reading “Hunted!! – Day 3 in Labuan Bajo”

Selamat datang, di sisi Timur Indonesia (Labuan Bajo, day 2)

Setelah bermalam di bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali (yang ternyata beberapa dari kami cukup nyenyak), kami melanjutkan perjalanan ke Labuan bajo menggunakan pesawat Wings Air. Jadwal keberangkatan yang harusnya jam 6 pagi WITA, diundur menjadi sekitar jam 9 WITA. Yasudah, apa boleh bikin, yang penting pengumuman delaynya sudah kami ketahui jauh – jauh hari. Jadilah kami berangkat sekitar jam berapanya saya juga ga tau, karena begitu duduk di pesawat saya langsung tidur. Pokoknya berangkat.

Oia, sedikit tips, kalo kalian seneng foto – foto, penerbangan dari Denpasar ke Labuan Bajo saya sarankan ambil seat window sebelah kanan (pesawat sejenis bombardier dengan seat 2-2). Di posisi ini kita bisa dapet best view pulau – pulau yang ada di sekitar Labuan bajo. Keliatan dari atas aja udah bagus banget. Gradasi air laut, bukit yang hijau kecoklatan, buat mata saya yang agak – agak jarang ngeliat begituan, saya sih cukup norak.

IMG_0211 IMG_0198

Begitu mendarat di bandara Komodo, jangan lupa selfie/groufie/wefie/any-fie lainya dengan latar belakang bandara. Biar eksis. Sampai juga di Labuan Bajo. Kami ga sabar langsung ke pelabuhan dan memulai live on boat. Setelah ambil bagasi, kami keluar bandara dan mencari mobil yang bisa disewa. Di luar bandara banyak kok yang nawarin. Kami ambil 1 mobil avanza, dengan biaya sewa Rp 60.000,-. Agak sempit-sempitan mengingat barang bawaan lumayan banyak. Tapi ga masalah, karena pelabuhannya paling cuma sekitar 5 menit. Ga usah pake nawar ya, itu udah cukup murah. Bantu pariwisata lokal juga. Jangan kayak orang susah lah masih minta turun goceng.

IMG_0204
Groufie dulu biar kayak traveler pemula

IMG_0210

Sampai di pelabuhan, kami menelepon sang empunya kapal yang kami sewa, pak Mat. Pak Mat punya 2 kapal, 1 kapasitas 10-12 orang, dan 1 lagi kapasitas 8 orang. Jadi sistemnya begini, sewa kapal dihitung per orang. Jadi kapasitas kapal 8 dan kami Cuma 7 orang, tadinya pak Mat akan mencari 1 orang lagi untuk ikut sama kami, tapi kami putuskan untuk tetap sewa untuk 8 orang, supaya lebih nyaman aja (ini dipastikan sebelum kami berangkat, bukan di pelabuhan). Ada sedikit perubahan, kami akan berlayar bersama keponakan pak Mat. Akbar namanya. Karena ternyata pak Mat membawa kapal yang berkapasitas 12 orang. Ga ada masalah, mereka ramah – ramah.

Selama di kapal, kita akan diberi makan sangat layak dan banyak. Ga usah takut kelaparan. Makan 3 kali sehari dan snack 1 kali. Kru kapal serba bisa, mereka yang masak. Kru-nya pak akbar pandai masak. Kita juga akan dapat persediaan air mineral yang cukup. Dan kamar mandi yang layak, lengkap dengan air tawar buat mandi. Pokoknya kita ga bakal susah selama hidup di kapal, disediain semua. Saya sendiri sangat puas dengan kapal pak Mat yang dioperasikan oleh Akbar dan kru. Very recommended. Kalo kalian baca blog ini (kalo….) dan ada niat pergi ke Labuan bajo, saya sarankan sewa kapal pak Mat. Dan kalau bisa jauh – jauh hari, karena senin harga naik!!! Eh bukan, maksud saya kapal pak Mat cukup sering full book.

Makanan diatas kapal
Makanan diatas kapal

Biaya sewa kapal kapasitas 8 orang adalah 8 Juta rupiah, cukup murah untuk semua fasilitas dan keramahan kru kapal ini dan untuk nomor telepon pak Mat 082145704054.

Setelah jangkar kapal diangkat dan kapal perlahan mulai berlayar menjauh dari pelabuhan, di depan mata kita langsung ada pemandangan laut biru dan bukit – bukit yang keren. Padahal mah belum sampe mana-mana…belom….baru juga berangkat, tapi udah keren. Disudut manapun fotonya diambil, pasti bagus. Saat itu kami ga tau pemandangan sekeren apa yang akan kami dapat nanti, but we are very excited.

AB Three
AB Three
SM*SH
SM*SH

Tujuan pertama kami adalah pulau kelor. Di pulau kelor ini kita bisa snorkling. Pemandangan alam bawah laut di pulau kelor sangat memukau. Karang yang cantik dan ikan – ikan yang lucu. Kami sampai agak siang, sehingga sedikit terburu buru dari 1 tempat ke tempat berikutnya. Di pulau kelor kami mungkin menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk snorkling, dan lanjut ke tanjung rinca.

Di Tanjung rinca, kami sebenernya hanya memanfaatkan waktu menunggu 1 kapal yang akan bersama sama kami ke pulau padar. Kami snorkling beberapa saat, dan Akbar, sang kapten, mengingatkan kami untuk tidak terlalu dekat ke pantai. karena tanjung rinca merupakan salah satu habitat berkembang biak komodo. Dan komodo bisa berenang ke laut.

Ketika kapal yang kami tunggu sudah mendekat, kami segera naik dan langsung menuju pulau padar. Itu loh, pulau yang di puncaknya kita bisa melihat 3 pantai sekaligus. Untuk sampai ke puncak gili padar, kita harus treking. Saya bertanya ke Akbar, apakah jalurnya bisa dilewati dengan menggunakan sendal? dan dia bilang bisa. Ya saya sih pede aja, dia aja nyeker kok. Ternyata itu adalah kesalahan hari ini, jalurnya lumayan berbatu dan sangat tidak saya anjurkan untuk menggunakan sendal. Akbar mungkin sudah sering kesini jadi dia sudah terbiasa, jadi inget film Lone Survivor.  Tapi semua rasa sakit karena treking itu juga terbayar ketika kami sampai di puncak pulau padar. Awesome….

IMG_0269

Eva Arnas-Esque
Eva Arnas-Esque

IMG_1300 IMG_1304 IMG_1313 IMG_1294

Sebelum sampai kesini, saya memang googling tentang pulau padar. Tapi pemandangan ini jauh lebih baik dilihat dengan mata kepala sendiri dibanding lewat internet. Bagus banget, 3 teluk yang menyatu ke arah daratan dan pemandangan overland lainnya. Keren. Kami langsung foto – foto. Dari foto sendiri sendiri, rame – rame, groufie, selfie, macem – macem deh. Apalah arti dari pemandangan indah ini kalo saya ga bisa eksis. Ada satu orang jerman yang kami minta tolong untuk mengambil gambar kami bertujuh. Kami mulai menyanyi Best Day Of My Life bersama sama, dan membuat satu rekaman Top of The world bersama Saturday Morning Sound. Saya sendiri merasa seperti on top of the world, sampe bingung mau nulis apa buat menjabarkan keindahan puncak gili padar. They say picture show much more than words, so here we go…

IMG_0400 IMG_0311 IMG_0316 IMG_0319 IMG_0336 IMG_0373 IMG_0421

IMG_0349

Kami di puncak pulau padar sampai matahari terbenam, baru turun. Agak telat juga karena hari sudah gelap dan kami ga ada yang bawa senter. Oia, kalo ke labuan bajo jangan lupa bawa senter. Tujuannya ya buat kayak gini, kalo mau sunset di puncak, turunnya enakan pake senter buat liat jalur trek.

Pas kami mulai turun ke bawah, ada pasangan yang sedang foto pre wedding.. di puncak pulau padar…ketika hari sudah gelap…dengan pakaian yang ribet…dan mereka baru mulai sesi foto…..

baru……

mulai……

Kadang – kadang ada hal yang sebaiknya kita buat simpel… -_-

Turun dari Puncak pulau padar, kami mandi dan kru kapal sudah menyiapkan makan malam. Menunya ikan bakar, cumi goreng, 2 jenis sayur, yang pasti enak, dan banyak, dan ada Indomie….makanan paling enak se-semesta raya…. seharian ini kami sudah banyak keluar energi, dan kita balas pakai Indomie..yessss…persetan dengan pola hidup sehat!!

Selesai makan, kami melihat plankton yang bersinar berwarna biru di laut. Sampai Akbar datang dan bilang ïni ada yang lebih bagus bang” sesaat setelahnya dia mematikan lampu di tempat kami makan dan langit labuan bajo menyuguhkan pemandangan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.

Bintang bintang bertaburan di Langit, sangat banyak..kontras dengan pemandangan kami yang gelap. Never do stargazing ever before.. and it feels so awesome…

Saya jadi bertanya tanya apakah chris martin sedang merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan sekarang ketika dia menciptakan lagu Sky Full Of Stars… Seriously Chris? you have this kind of view in UK?

Semesta mendukung, cuaca cerah,ditambah dengan keramahan kru kapal kami dan keindahan yang saya lihat sepanjang hari ini. Saya merasa Labuan Bajo menyambut kami dengan cara yang luar biasa.

Labuan Bajo, seakan ingin menerima kedatangan kami dengan kehangatan khas seorang sahabat dan berkata…

Selamat datang..di sisi timur Indonesia….

TRAVELER SAHIH (Day 1 to komodo)

What is the best part of traveling? See something new and learn how to open our mind about it with our friends. I’m not a lonely traveler kind of person. So it’s important for me to share a great memories with my friends.

Saya sih bukan traveler, mencoba self proclaimed sebagai traveler aja agak ragu. Lah trip pertama saya yang bener2 saya anggap traveling aja baru 2012, gara – gara mau nonton Foo Fighters di Singapore, eh si Dave Grohl malah sakit tenggorokan. Travel karena diniatin beneran traveling, bukan cuma perjalanan dinas kantor, kerja, kunjungi satu kota dan melabeli diri saya traveler. Kalo cuma gitu,maaf kata untuk propinsi yang belum saya kunjungi di sumatera dan jawa mah cuma aceh, dan bengkulu.keren gak? Enggak. Lah wong itu kerja.

But now here i am, ngemper dipelataran bandara Ngurah Rai Bali jam 2 pagi,untuk selanjutnya naik pesawat ke labuan bajo, NTT. Keren gak? Buat saya sih lumayan lah. Jadi keinget ngemper di tempat permainan anak2 di terminal 3 soetta ketika pulang dari Filipina.

Sekarang kami akan jalan2 ke flores, NTT. Pulau komodo, wae rebo, dan banyak lagi. Kenapa saya bilang “kami”, karena sekarang travelingnya (dan ngempernya) rame2. kami ber-tujuh. Dan ini orang – orangnya.

THE COUPLE

Adi dan istrinya, Yuke. Adi ini rekan kerja saya di pekanbaru, dia temennya cesar. Ketika pertama open trip dan cesar nyari orang, ya mas adi mau ikut. Dan yuke juga ikut. Ini pertama kali saya jalan sama mereka. Kalo sekedar hang out di pekanbaru sama adi sih lumayan sering. Mereka pasangan yang santai dan easy going.

IMG_0171

THE SINGER

Metha, saya sudah beberapa kali nulis tentang metha. Vocalist band saya di Saturday Morning Sound. Dia sekarang dinas di jakarta, dan menyatakan kesiapannya ikut pas ditanya sama cesar. We glad she could join us. Orangnya rame, jadi bisa bikin seru

IMG_0190

THE ARRANGER

Posmalini, my beloved wife. Sebagian besar perjalanan ini diatur sama posma. Mulai dari jadwal keberangkatan, tujuan perjalanan, transportasi,hotel, dan lain2. Posma ini detail banget, dan dia mau research untuk perjalanan kita ini. Dia memang pernah ke flores sebelumnya, jadi dia bisa kasih gambaran besar perjalanan ini.

1

THE TRAVELLER

Ceisar, sahabat saya di Pekanbaru. Dia sering banget jalan jalan. Harusnya kalo udah ngecap diri sendiri sebagai traveler, buat saya ya standarnya sahabat saya ini. Dia selalu niat kalo jalan. Pesisir sumatera barat dan Riau kepulauan udah dijalanin. All he wanted from every journey is to enjoy the trip. Sangat santai. A good travel mate.

IMG_0175

THE DREAM CATCHER

Andy wiryanto, my wing man. Sahabat saya dari bangku kuliah. Saya lebih suka menyebut dia dream catcher daripada traveler. Andy pernah ke Milan untuk nonton langsung AC Milan di San Siro, ke tokyo untuk marathon, dan bahkan ikut serta dalam lomba triathlon. i know him since we were nothing, dan saya terkejut dengan perubahan dirinya sekarang.

CAMERA

My self…THE WRITTER.

Saya,traveler nanggung, suka sok2 niat traveling,tapi kadang masih suka sayang keluar duit. Dan saya akan coba mengarsipkan perjalanan kali ini lewat tulisan

IMG_0169

So here we are, ngambil lapak masing2 buat tidur di depan terminal keberangkatan ngurah rai untuk ke labuan bajo besok pagi.

IMG_0157

IMG_20150513_020812[1] IMG_20150513_020815[1] IMG_20150513_020824[1] IMG_20150513_020801[1]

Dan dalam waktu kurang dari 24 jam, kami sudah berada di 3 kota, 3 propinsi, 3 bandara, dan 2 zona waktu berbeda yang dimiliki Indonesia. Kami sudah sahih menjadi traveler….

Margaretha and A (nother) Story About Saturday Morning Sound

Setelah sebelumnya saya menulis tentang Retha, sekarang saya akan menulis tentang Metha. They are a different people but have a similar rhymes name. Orang sering tertukar antara Metha dan Retha.

Saya sudah beberapa kali menulis tentang Saturday Morning Sound, band yang terdiri dari saya, Cesar, dan Metha yang cover lagu – lagu orang yang kami anggap enak. Sudah beberapa lagu yang kami cover dan hasilnya bagus. She has a great voice. Really great voice. She sing a song easily like she never put an effort on it. Sayangnya Metha juga harus mutasi ke Jakarta, ke tempat yang sama dengan Retha. Dan kehilangan 2 orang teman disaat bersamaan tidak pernah mudah. Kehilangan vokalis band juga sama sedihnya. Even for me as I try to deny that feeling as hard as I can.

 

Saya mendengar nama Metha dari temannya yang juga rekan kerja saya, sekitar pertengahan 2011. Dan di akhir 2011 (lagi – lagi) dikepanitian natal, baru saya ketemu langsung. Cesar, vokalis pria di band saya pernah bilang kalo ada yang pindah dari Rengat, dan suaranya bagus. “jazzy gitu bro..” kata Cesar dulu.

Metha punya selera musik yang bagus. Saya akan bertanya ke Metha untuk referensi lagu – lagu baru, karena saya lebih suka musik jadul. Kebetulan juga kami punya banyak kesamaan. Mulai dari musik, sifat, sampai pola pikir. Saya pernah balik ke Jakarta dan satu pesawat sama Metha. We talk a lot. Sering kali saya berucap “sama, gue juga gitu” untuk beberapa topik yang kami bicarakan. Mungkin karena kami sama-sama dari Jakarta dan sama-sama anak terakhir.

Yang paling mengagetkan saya, Metha juga suka Dream Theater. Saya tahu Electronic Music Dance secara tidak langsung juga dari Metha, setelah dia minta saya dengerin Zedd feat. Hayley Williams of Paramore yang judulnya Stay The Night. Dari sana saya mencari tahu lebih banyak lagu – lagu Zedd. Metha suka The Beatles, saya bahkan bisa berdiskusi tentang Strawberry Field Forever sama Metha.

Kadang saya berpikir Metha itu adalah saya versi perempuan, dengan tubuh yang lebih kecil, rambut yang lebih lurus, suara yang lebih bagus, dan ketawa yang LEBIH NGAKAK (sumpah ini orang kalo ngakak ga pake etika).

Saya pernah menulis bahwa Saturday Morning Sound itu semacam pelampiasan saya untuk mengatasi kebosanan saya di kota ini. Bermain musik, terutama sama teman-teman yang memiliki selera musik yang sama sangat membantu saya untuk sejenak melarikan diri dari situasi. And I have those privilege.

 

Kami sudah meng-cover banyak lagu, mulai dari Paramore, Norah Jones, Katy Perry, Magic!, dan di sesi terakhir rekaman kami, kami memainkan lagu dari Paramore, One Republic, and Sam Smith (The Video will Released Soon on Youtube). Suara Metha itu enak banget buat mainin lagu – lagu Ten 2 Five. Saya akan memulai dengan C#m7 dan dia akan menyanyikan lagu Ten 2 Five, bebas, yang mana aja. Lagu-lagu Ten 2 Five akan selalu pas dinyanyikan Metha. Dan mungkin pengalaman nyanyi paling menyenangkan adalah ketika kami buat video musik di pantai Seminyak, Bali. It was just like the best memories I ever had with them.

 

Ada satu cerita (konyol) yang saya tidak akan lupa. Saat kami karaoke sama – sama, entah karena hal apa Metha tiba – tiba ngambek dan keluar duluan. Awalnya kami biasa aja sampai salah satu dari kami bilang “Metha ga bisa keluar parkiran, ini tiket parkir motornya sama aku”. Dan saya langsung mengejar Metha keluar. Turun dari lantai 4 melalui tangga, dan setengah berlari Karena saya lihat metha sudah berjalan keluar parkiran. Dan kami terlibat adegan kejar – kejaran ala sinetron. Padahal saya hanya ingin ngasih tiket parkirnya supaya dia bisa naik motor.

Saya memang sudah dengar kabar kalau Metha akan mutasi, dari Cesar dan Retha. Itu makanya saya sedikit memaksakan dia untuk jamming tanggal 29 November 2014. Meskipun dia bilang dia punya banyak kegiatan dihari itu, tapi saya memang merasa kalau mungkin ini akan jadi kesempatan terakhir Saturday Morning Sound untuk bermusik bareng. Dia meminta saya untuk membawakan lagu Sam Smith, dan sebagai gantinya saya minta dia menyanyikan lagu Paramore. Lagu paramore itu sudah saya minta sekitar 1 tahun yang lalu, tapi dia selalu menolak dengan alasan kurang pede. Pada akhirnya kami bawakan dengan hasil yang memuaskan.

Masih banyak lagu bagus yang belum sempat kami bawakan. Geronimo dari Sheppard, Roar dari Katy Perry, tapi Metha harus kembali ke Jakarta. Back to her hometown. And just like I’m happy for Retha, I’m happy for Metha too. Saya kehilangan sahabat yang juga vokalis band saya disini. Formasi yang memungkinkan saya tampil seolah gitaris handal, beraksi seperti No Doubt, Paramore, The Cranberries, dan sederet band yang menampilkan wanita sebagai penyanyi utama

Dan akhirnya saya memang harus merelakan kepulangan sahabat saya, Metha, ke Jakarta. Vokalis Saturday Morning Sound, yang mengenalkan saya pada Soundhound, dan membuat saya mengagumi Zedd.

Thanks Metha, for helping me adapt well in this city by playing music together. I hope you doing good at Jakarta. If I can meet Retha in our Church at JPCC, I don’t know when we will meet each other again. You still owe me the “Boombs Away” part on Geronimo, so keep in mind that Saturday Morning Sound is not over. Because playing good music with good friends… Ain’t it Fun?

IMG_2438
Saturday Morning Sound (Cesar, Metha, Benny)

Till we meet again Retha..

“loh, mba..pulang ke Jakarta juga?” Tanya saya ke teman yang bertugas di kota yang sama dengan saya.

“enggak sih, aku ke jogja. Tapi nginep dulu di Jakarta baru ke jogja. Kalo kamu emang orang Jakarta?” jawab si mbak temen saya itu.

“iya, saya emang orang Jakarta. Wah ga nyangka kita sepesawat” jawab saya lagi.

“iya ya…eh tapi aku lupa namamu loh…” kata si mbak itu lagi sambil cengar cengir.

“sama mba, sebenernya dari turun pesawat sampe sekarang saya coba inget2 nama situ, tapi tetep ga inget juga. Kita kenalan lagi deh. Nama saya Benny” kata saya sambil nyengir dan nyodorin tangan.

“yaudah deh…namaku Maretha” si mbak itu menjabat tangan saya sambil ketawa.

Pembicaraan bodoh itu terjadi di Bandara Soekarno Hatta, 23 Desember 2010. Kami dalam perjalanan mudik dari kota perantauan. Bodoh karena mungkin sekitar seminggu sebelumnya, kami menjadi penyanyi di acara Natal perusahaan tempat kami bekerja. Kami beberapa kali harus latihan bareng, dan karena ke-alpa-an saya dalam hal mengingat nama, saya lupa nama dia .

Persahabatan kami mungkin baru intens 2 tahun terakhir, ketika secara aklamasi saya mengangkat dia menjadi kadiv bidang hura – hura. Tugasnya cukup simple, saya akan bertanya ke dia via line atau whatsapp setiap sabtu sore “kemana rencana malam ini ret?”. Dan Maretha akan mengkoodinir kegiatan para perantau galau. Bisa ke bioskop, karaoke, atau hanya sekedar makan malam. Yang penting malam minggu dilarang hukumnya sendirian di kosan atau kontrakan.

Maretha, seperti Cesar dan Metha (teman2 bermusik saya di Saturday Morning Sound) adalah sahabat saya disini. Orang – orang yang membuat saya menikmati kehidupan saya di kota ini. Berkumpul sama mereka buat saya seperti menjaga kesehatan jiwa. Saya sangat menikmatinya.

Retha dan saya punya beberapa percakapan ikonik. Seperti…
“gereja jam berapa besok?”
“abis kebaktian makan dimana nih?”
“ngantuk ga sih lo denger pastor ini khotbah?”
“gue lagi dapet Line dari sorga”

Penggalan penggalan kalimat yang kami gunakan karena kami gereja di tempat yang sama. dan mungkin hanya kami yang mengerti maknanya.

Hingga sampai dihari ketika pulang gereja, saya , istri saya, dan retha yang sedang hamil (she’s married and her husband lived in Jakarta) makan siang bersama. Dia bilang kalau SK pindahnya sudah terbit. Dia akan pindah ke Jakarta. Saya kaget dan tidak percaya. Tidak ada berita kalau retha akan pindah. Tidak ada kabar (setidaknya untuk saya) kalau retha akan mutasi. Saya akan kehilangan 1 teman disini. Teman yang enak banget diajak hang out. And it hit me quite hard. Berita itu mengagetkan saya, bahkan sampai malam hari saya masih tidak percaya kalau retha akan pindah. Dan istri saya harus berulang kali menenangkan saya di rumah.

Tibalah hari Minggu terakhir Retha di Pekanbaru.

“Ret, gereja jam berapa lo?”
“ini lagi gereja. Lo jam berapa bro?”
“sama, jam 9”
“baru sadar, ini terakhir kali gue gereja disini”

Saya sedih, tapi juga bahagia. Bahagia untuk retha yang bisa berkumpul bersama suaminya dan menantikan anak pertama mereka. Like pastor Jose Carol Said, grown up is about happy for other people happiness. Meskipun tidak bisa saya pungkiri saya juga sedih mengingat saya akan kehilangan satu sahabat.

Cukup banyak hal seru yang kami lalui bersama, salah satunya adalah hal yang menyangkut ngambek, karcis parkir, dan adegan kejar – kejaran layaknya sinetron romansa remaja. Juga tentang bagaimana saya adalah “mentor”-nya unutk menjadi seorang agent of S.H.I.E.L.D yang baik dan benar, teori konspirasi, forensik selfie, dan pada akhirnya dia saya nyatakan lulus karena saya setuju dengan kesimpulan yang dia buat untuk suatu kasus (actually this paragraph sounds very weird, but I need to put it on this post because almost impossible to remember our friendship without mentioning those things 😀 )

Dan tidak ada lagi minggu – minggu dimana saya akan bertanya ke Retha “kemana acara kita malam ini? Gue bosen nih”

Karena untuk seterusnya, mungkin kota ini akan kembali terasa membosankan…untuk saya…

Till we meet again Maretha…

Note :
I’m sorry Retha, this might not be my best piece of writing. I promise you a blogpost. Because I just want to keep in mind that is nice to know you. But I’m not in a good mood to write, losing 2 friends at a same time is not easy. I hope God’s Grace will continue overflowing your family, your marriage life, and your soon-to-be-son. I’ll meet that boy in JPCC. I am very happy for you. Don’t forget us. God Bless You

photo(1)