Wae Rebo, Kampung yang dikelilingi pegunungan. (Day 5 and 6)

Di hari  ke- 5, kami sepakat untuk berangkat jam 4.00 subuh. Kami bersiap dari hotel CF Komodo dijemput oleh bapak driver yang memang sudah kami pesan sebelum kami berangkat. Jadi kami sewa mobil di labuan bajo ke orang yang Namanya Pak Marianus, inget ya..pak Marianus (082236206536) just keep it that way, ga usah disingkat singkat. Perawakannya menyeramkan, besar, gendut, kumisan, tapi orangnya baik. Akhirnya kami pun berangkat menuju denge, kampung terakhir dimana kami bisa menggapai wae rebo menggunakan mobil. Ada insiden kecil, sepatu saya ketinggalan di hotel, jadi kami putar balik (sebentar aja sih) untuk ambil sepatu saya. So let us start the story

Filosofi Roti

Pihak hotel menyiapkan sarapan kami yang dibungkus, lumayan ngurangin budget makan.Hari masih terlalu pagi, jadi kami memutuskan untuk sarapan di jalan saja. Dari Flores ke Denge membutuhkan waktu sekitar 7 Jam. Saya cukup terbiasa dengan perjalanan darat yang jauh dan lama. Kami sempat singgah di rumah saudara pak Marianus, minjem toilet, karena pom bensin tutup. Setelah berpamitan kepada yang punya rumah, kami kembali ke mobil dan memutuskan untuk sarapan. Saya naik terakhir, dan melihat beberapa teman saya sedang menyantap sarapan mereka.

Seinget saya muka si Andy agak mencurigakan, sambil saya buka styrofoam bagian saya..

“Oh roti” Gumam saya ngeliat 2 roti tawar yang ditumpuk jadi satu (ngarep Indomi goreng pake telor ceplok)

Saya masih penasaran karena Meta ngeliatin proses saya ngebuka styrofoam sambil agak cekikikan..

Saya fasih banget sama dunia pe-roti-an, Filosofinya adalah, 2 roti tawar yang dijadikan satu, anda harus memberikan lapisan selai diantara mereka, sesial – sialnya ga ada selai, anda harusnya memberikan mentega dan ditaburi gula pasir. Itu standarnya, dan sudah menjadi standar Internasional ga bisa diganggu gugat!!

Dan yang saya dapat setelah membuka roti tawar secara perlahan seperti Cho Yun Fat membuka kartu di Film God Of Gambler adalah..

N.O.T.H.I.N.G

Z.O.N.K

Ga ada selai, ga ada mentega, ga ada gula pasir. Polos, seperti bayi yang baru lahir ke dunia. Disambut tawa Andy yang bilang kalau mereka semua sama ngarepnya sama saya.

Filosofi Roti, diterjemahkan secara salah disini.

NYASAR!

Kami melanjutkan perjalanan. Keluar masuk kampung, sama – sama ga tau jalan, jadi kami serahkan semuanya ke Pak Marianus. Saya merasa pak Marianus agak kebingungan karena dia beberapa kali bertanya ke orang-orang yang lewat. Dan ketika jalanan sudah tidak bersahabat (menyempit dan cenderung mustahil dilewati mobil), pak Marianus memutar mobil dan mengakui bahwa dia belum pernah lewat rute ini. Kami bilang bahwa dia bisa menggunakan rute yang dia biasa dia lewati, karena kami ga mau sampe denge terlalu siang. Setelah beberapa kali berputar, kami sepertinya sudah di jalan yang benar. Ditandai dengan sapaan seorang anak kecil di tengah kampung “Marianus!!” dan dibalas dengan ramah oleh dia, juga ajakan nongkrong oleh bapak – bapak di warung kopi yang kami lewati, dan dibalas dengan “Nanti sa antar tamu dulu” . Aman..

The Legendary, Pak Blasius

Sekitar jam 11 kami sampai di Denge. Kami langsung menuju ke rumah Pak Blasius (081339350775). Sila googling cara ke Wae Rebo, maka nama pak Blasius akan ada di setiap blog yang menceritakan Wae Rebo. Rumah Pak Blasius adalah titik terakhir menggunakan kendaraan sebelum trekking ke Wae Rebo. Disini, akan dijelaskan semua hal tentang Wae Rebo, Do’s and Don’t, dan berbagai macam. Kami makan siang disini. HIdangan dari pak Blasius dan keluarga adalah nasi jagung, indomie goreng, sayur, dan kopi/teh.

Menu Makanan di rumah singgah pka Blasius
Menu Makanan di rumah singgah pka Blasius

Berikut rincian menuju Wae Rebo, mulai dari tempat pak Blasius

Makan siang  Rp 40.000,- / orang

Guide Rp 200.000,-

Nginap di Wae Rebo Rp 325.000,- / orang (termasuk makan malam dan makan pagi)

Biaya adat Rp 50.000,- / grup

Disarankan menggunakan guide lokal, memberdayakan penduduk setempat karena salah satu pemasukan mereka dari situ.

Setelah kami selesai makan siang dan mendapat pengarahan singkat dari pak blasius, kami melanjutkan perjalanan mendaki ke wae rebo.

Mendaki ke Wae Rebo

Sebelum kami memulai pendakian, kami berdoa bersama agar perjalanan ini dilindungi Tuhan. Dan kami mulai jalan. trek awal berupa jalan mendaki dan bebatuan. Ga terlalu curam sih tapi cukup melelahkan. Saya bukan anak gunung, ga pernah naik gunung. Saya kesusahan untuk treking dengan medan yang kemiringannya konstan dan agak kurang ajar seperti ini. Tapi karena saya jalan sama teman – teman, memberikan kekuatan lebih juga sih. jalan bebatuan dan kemiringan ini kata Guide lokal kami hanya sampai Pos 1.

Dan saya bertanya “Pos satu berapa lama lagi pak?”

si bapak menjawab “Dekat, di depan sana”

Ga percaya saya…

Sepanjang perjalanan kami naik, ada beberapa turis internasional yang sedang berjalan turun. Kami saling bertegur sapa dan mereka menyemangati kami.

Kurang lebih satu jam kami sudah sampai di pos 1. Tentu dengan beberapa kali istirahat.

IMG_0957
Di awal perjalanan ke wae rebo
IMG_0953
Rute pendakian

_DSF0785 _DSF0784 _DSF0782 _DSF0781 _DSF0780

Pos 1 Pendakian ke Wae Rebo
Pos 1 Pendakian ke Wae Rebo
Pos 1 pendakian di Wae Rebo...Hayok pada senyum walau ngos-ngosan
Pos 1 pendakian di Wae Rebo…Hayok pada senyum walau ngos-ngosan

Setelah beristirahat sejenak, kami lanjut ke pos 2. lewat dari pos 1, treknya semakin mengecil, tapi sudut kemiringannya sudah mulai wajar. Udah lumayan enak, karena tidak ada batu batu besar sepanjang perjalanan. Kami juga beristirahat beberapa kali sebelum sampai pos 2. Posisi pos 2 ada di pinggir jurang dengan tiang pembatas jalan. pemandangannya bagus walaupun berkabut waktu tempuh kurang lebih 1 Jam. Bapak guide kami, masih santai tanpa keringat dan dia mendaki sambil ngerokok juga membawa beberapa stok makanan kami. Selow….

sepanjang perjalanan, Meta sama Andy sering ada di depan. Agak kaget juga saya, mereka badannya paling kecil, tapi tenaganya kayak ga abis abis. Andy, saya tau dia sering ikut marathon, stamina pasti terjaga. Pengalaman saya treking sama dia pun sebelumnya hanya ketika ospek di kampus, 11 tahun lalu. Dan Meta, i really didnt see that coming met..

Masuk hutan kayak Jendral Soedirman
Masuk hutan kayak Jendral Soedirman
Suasana menuju pos 2
Suasana menuju pos 2
Satu kali terasa kurang
Satu kali terasa kurang
Bergaya di Pos 2
Bergaya di Pos 2

Lanjut ke pos 3 atau pos terakhir. Nah ini trek nya enak, banyak datarnya dan jalurnya masuk ke dalam hutan. Suasananya adem, dan agak mistis karena lengkap dengan suara – suara misterius khas hutan. Kami berpapasan dengan sepasang suami istri yang akan mengantarkan anaknya untuk imunisasi besok. Ga kebayang untuk imunisasi dari wae rebo mereka butuh berjalan 8 jam naik dan turun bukit. Juga ada bapak – bapak wae rebo yang memikul hasil ladang wae rebo, karena besok juga adalah hari berdagang di pasar. Yang membuat kami semangat juga, setiap mereka akan menyapa kami, siapa nama kami, darimana asal kami, dan ditutup dengan menyemangati kami sampai puncak dan semoga menikmati keindahan wae rebo. Wow… trenyuh saya…ramah – ramah sekali. Lalu ada seorang turis asing yang berlari turun tanpa menggubris kami, dia terburu buru dan ga nge-rem sama sekali. Kami pikir mungkin dia tertinggal rombongan atau apa.

Akhirnya sampai di pos 3, ada sebuah rumah dengan kentongan (itu, yang biasa ada di pos hansip). Samar samar kami sudah dengar suara anak – anak kecil tertawa. Mistis dan keren secara bersamaan. Bapak guide membunyikan kentongan. Katanya sebagai tanda bahwa ada orang yang akan masuk. Dan untuk sesaat, suara anak – anak itu hilang..senyap..sebentar aja sih, tapi keren.

Jembatan Gantung dari Bambu
Jembatan Gantung dari Bambu
Tulisan di Pos 3, sebelum masuk ke gerbang Wae Rebo
Tulisan di Pos 3, sebelum masuk ke gerbang Wae Rebo
Jangan sampe ga foto
Jangan sampe ga foto

Kami lanjut masuk ke gerbang desa, dan dihadapan kami ada 7 rumah kerucut berlatarkan gunung dan kabut tipis juga anak – anak kecil yang bermain kejar – kejaran. Saya sendiri begitu sampai di gerbang desa, bangga sekaligus haru. Bangga karena akhirnya sampe juga, untuk orang yang sudah terengah engah dari pos 1.

Pertama, jangan berkelakuan aneh -aneh sebelum melapor ke rumah adat seperti ambil video dan foto, juga berteriak teriak.

Kedua, jangan menaikin altar yang ada di tengah kampung adat wae rebo. Karena itu merupakan altar untuk kegiatan adat.

Rombongan kami melapor ke Rumah Utama, di tengah yang ada tanduk kerbaunya. Kami diterima oleh pak Alex selaku ketua adat. Bapak guide membuka pembicaraan mengabarkan kedatangan kami ke desa adat, lalu Pak Alex mengucap sesuatu dalam bahasa Wae Rebo. Saya baca di internet, ritual ini adalah ritual untuk meminta izin arwah leluhur untuk menerima kedatangan kami. Setelah selesai, pak Alex berkata kepada kami, bahwa mulai saat ini kami bukanlah anak Jakarta, Anak Medan, anak Pekanbaru, ataupun anak Cirebon, tapi kami adalah anak kandung Wae Rebo. Dan selayaknya anak Wae Rebo, saat ini kami bisa bebas beraktifitas di desa adat, seperti mengambil foto, dan bermain main. Ini ternyata alasan mengapa kami dilarang ambil foto ketika sampai.

Selepas dari rumah utama, kami menuju ke rumah yang memang disediakan khusus untuk menginap para turis. kami menaruh barang – barang kami disana, menikmati kopi khas Wae Rebo, dan segera keluar untuk bermain main.

Pertama kami ke atas, ke perpustakaan. Ada perpustakaan bantuan pemerintah di sisi atas desa adat. Kami kesana dan ambil beberapa foto, juga mencari spot bagus untuk besok pagi. Lalu kami turun ke bawah dan bermain bersama anak anak kecil desa Wae Rebo.

The view
The view

_DSF0802 _DSF0803 _DSF0805

Very Mstycal aren't they?
Very Mstycal aren’t they?

_DSF0808

IMG_0976 IMG_0992 IMG_0995 IMG_0996 IMG_1001 IMG_1004 IMG_1032

Bermain bersama
Bermain bersama
Berfoto bersama
Berfoto bersama
Mereka mainan serosotan begini aja udah bahagia banget
Mereka mainan serosotan begini aja udah bahagia banget
Akhirnya duduk semua
Akhirnya duduk semua

Ga ada yang lebih indah dari murninya kebahagiaan anak kecil. Mereka bermain dengan bola plastik, kejar kejaran, dan menggunakan karung beras bekas yang dipakai untuk meluncur. Mereka ketawa lepas. Anak kecil banget. Pikiran saya melintas sejenak ke ibukota tempat salah satu sepupu saya, yang mungkin usianya tidak jauh dari mereka dan sudah bisa menyanyikan lagu Anacondadont dari Nicki Minaj via Youtube yang diakses lewat Ipad yang terkoneksi dengan internet.Tapi sudahlah, saya memutuskan berbaur bermain bola bersama anak – anak kecil ini.

Momen berharga lainnya adalah ketika mereka bermain sambil bernyanyi dari “Sabang sampai Merauke”

“…..Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu…Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia…”

Saya merinding…beneran…sensasinya sama kayak denger lagu Indonesia Raya di stadion ketika tim nasional bertanding.

You heard that Mr. President? Mereka nyanyi dengan gembira dan lantang. Mereka bangga.

They deserve an education, seorang dari Indonesia Mengajar untuk kesini.

atau Dokter jaga, untuk kebutuhan bayi bayi diimunisasi, sehingga sepasang suami istri tadi ga perlu turun ke bawah 4 jam untuk imunisasi dengan resiko kehujanan di dalam hutan.

Saya duduk agak lama di tanah Wae Rebo untuk menikmati pemandangan ini.

Momen duduk itu
Momen duduk itu

Oia, ada satu cerita lagi. Bule yang lari dan berpapasan dengan kami di jalan tadi ternyata tidak menginap disini. Dia hanya datang mengambil foto lalu pergi tanpa melalui proses apapun. Tidak mengikuti aturan yang berlaku di desa adat. Dia berlari turun karena takut dikejar oleh warga desa adat. Dasar maling kebudayaan!

Ga semua bule lebih keren dari kita, ada bule rese dan kere. Ya contohnya yang ketemu kami itu.

Menjelang malam, kami masuk ke rumah dan bercengkrama bersama turis – turis lain. Ada sepasang turis dari Portugal dan 1 orang dari Quebec City, Kanada. Kami makan malam bersama, lengkap pake sambal Wae Rebo yang pedesnya aje gile.

Suasana di dalam rumah
Suasana di dalam rumah

IMG_1044 IMG_1046 IMG_1050 IMG_1053 IMG_1056 IMG_1058

DAY 6

Kami bangun pagi karena memang mengejar sunrise di Wae Rebo. Ketika semua orang naik ke perpustakaan, kami yang memang dari kemarin sudah dapat spot bagus, naik hanya sampai pemakaman. Posisi lebih rendah dari perpustakaan, tapi viewnya lebih bagus. Ga rame, cuma kami aja. Dan rekan kami dari Portugal. Kami puas – puasin foto disini dan turun untuk sarapan dan minum kopi. Posma, Yuke dan Meta mendapatkan penglaman menumbuk biji kopi.

Menumbuk Kopi
Menumbuk Kopi
Bersama ibu penumbuk kopi
Bersama ibu penumbuk kopi
Menumbuk kopi
Menumbuk kopi
Menumbuk kopi lagi
Menumbuk kopi lagi

IMG_1207

One Piece-esque
One Piece-esque
Dengan sahabat kami dari Portugal
Dengan sahabat kami dari Portugal
Pose kedua
Pose kedua
Selfie is a must
Selfie is a must

IMG_2156 IMG_2157

Bapak Alex.. Our Elder..
Bapak Alex.. Our Elder..

Setelah bersiap, kami pamit dan melanjutkan perjalanan turun. Waktu tempuh untuk turun lebih cepat daripada naik. Kami bahkan tidak berhenti di Pos 2. Dan sampai di rumah pak Blasius hampir tengah hari.

Buku yang kami sumbangkan untuk perpustakaan Wae rebo
Buku yang kami sumbangkan untuk perpustakaan Wae rebo
Buku yang kami sumbang untuk perpustakaan Wae Rebo
Buku yang kami sumbang untuk perpustakaan Wae Rebo
Pose Keren!!!!
Pose Keren!!!!

Begitu tiba di rumah pak Blasius, pak Marianus menghampiri saya dan menanyakan kabar kami. Apa ada kendala diperjalanan, apa ada yang sakit. Saya bilang tidak ada dan kami semua baik – baik saja. Dan beberapa kalimat dari pak Marianus yang bikin saya tersenyum.

“Saya gelisah takut bapak – bapak sekalian tidak sampai, karena kata pak blasius banyak yang menyerah. Tapi ketika sudah malam pak Blasius bilang kalau tamu saya pasti sudah sampai, saya baru tenang. Baru bisa saya bikin kopi”katanya dengan muka khawatir.

Saya kagum sekali dengan keramahan orang – orang flores.

Kru pendakian, di rumah pak Blasius. Pak Marianus paling kiri
Kru pendakian, di rumah pak Blasius. Pak Marianus paling kiri

Setelah berpamitan sebentar dengan pak Blasius kami melanjutkan perjalanan ke Ruteng, katanya disana ada sawah Spiderman. Agak berbelok 1 jam dari arah pulang kami sampai di ruteng dan treking lagi selama 10 menit. Pemandangan yang wah banget, hamparan sawah dengan motif jaring laba – laba. Baru kali ini saya lihat hal seperti ini. Keren.

Ini sawah... keren kan?
Ini sawah… keren kan?
Foto terakhir dengan teman - teman
Foto terakhir dengan teman – teman

SOLAR YANG TAK DIRINDUKAN

Sebenarnya, dari rumah pak Blasius, Pak marianus sudah khawatir masalah solar mobil kami. Tapi karena dia sudah meyakinkan ada pom bensin di jalan, ya kami terus lanjut ke Ruteng.

Sepulang dari sawah spiderweb, ada satu pom bensin di sebelah kanan. Sialnya pom bensin tersebut sudah tutup. Harga solar di emperan pun terlalu mahal. Kami pikir pak Marianus ga mau nombokin, jadi kami via Ceisar nawarin agar biaya kelebihan solar nanti kami yang tanggung. Ga lucu juga keabisan bahan bakar di entah berantah. Pak Marianus menolak. Kami pun melanjutkan perjalanan. Ketika hari sudah agak gelap, Ceisar kembali menawarkan untuk membeli solar, dan lagi – lagi ditolak. Dan serta merta dia bilang kalau Solarnya cukup sampai Labuan Bajo. dan bertanya dengan polos..

“Jangan – jangan dari tadi bapak ibu khawatir kita kehabisan solar?? tenang saja, saya ga mungkin kecewakan bapak ibu”

GUBRAK MOMENT DETECTED!!

Bukannya dari tadi pak Marianus yang ketar ketir nanya pom bensin??? T_T

Menjelang malam kami sampai di Labuan Bajo, dan bermalam di Golo Hill Top.

Pemandangan pagi ketika kami sarapan di Golo Hill Top keren banget. Kami minta tolong ke Pak Blasius untuk mengantar kami ke Bandara.

View dari Golo Hill Top
View dari Golo Hill Top
View dari Golo Hill Top
View dari Golo Hill Top

Hari itu kami pulang ke tempat masing – masing.

Andy, Meta, dan Posma ke Jakarta.

Saya dan Ceisar ke Pekanbaru

Adi dan Yuke ke Cirebon.

End of this Journey…

Perjalanan yang paling menarik yang pernah saya alami. Bukan cuma lokasinya, tapi juga teman – teman travelling saya yang luar biasa. Keramahan orang – orang Labuan bajo.

Selama perjalanan dari Labuan bajo ke Bali, saya me-review ulang perjalanan ini. I Beat Myself much more this time…

Saya berani melompat ke tengah laut di manta point, bener bener di tengah laut. Saya masih ingat Desember 2014 saya masih panik setengah mati untuk snorkeling di lombok. Saya berani trekking dengan jalur yang buat saya sulit (saya ga suka naik gunung, lebih ke anak pantai), Sampai di Wae Rebo yang  memperoleh UNESCO Asia-Pacific Heritage Award for Cultural Heritage tahun 2012. Tidak semua orang punya kesempatan kesana.

Saya pernah menulis tentang bagaimana travelling lebih kepada dengan siapa kalian pergi, bukan tujuannya. But this time, the destination count, dengan rekan – rekan yang asik seperti ini, perjalanan ini jadi sempurna.

Sekian serangkaian perjalanan kami di Labuan Bajo, Flores. Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Dan akhirnya saya mau mengutip kalimat ini :

“Not I, nor anyone else can travel that road for you.
You must travel it by yourself.
It is not far. It is within reach.
Perhaps you have been on it since you were born, and did not know.
Perhaps it is everywhere – on water and land.”

Walt Whitman, Leaves of Grass

Happy Travelling….

Indonesia sekeren ini, dan lo masih di rumah aja?

The Best Travel Crew
The Best Travel Crew

Advertisements

One thought on “Wae Rebo, Kampung yang dikelilingi pegunungan. (Day 5 and 6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s