Till we meet again Retha..

“loh, mba..pulang ke Jakarta juga?” Tanya saya ke teman yang bertugas di kota yang sama dengan saya.

“enggak sih, aku ke jogja. Tapi nginep dulu di Jakarta baru ke jogja. Kalo kamu emang orang Jakarta?” jawab si mbak temen saya itu.

“iya, saya emang orang Jakarta. Wah ga nyangka kita sepesawat” jawab saya lagi.

“iya ya…eh tapi aku lupa namamu loh…” kata si mbak itu lagi sambil cengar cengir.

“sama mba, sebenernya dari turun pesawat sampe sekarang saya coba inget2 nama situ, tapi tetep ga inget juga. Kita kenalan lagi deh. Nama saya Benny” kata saya sambil nyengir dan nyodorin tangan.

“yaudah deh…namaku Maretha” si mbak itu menjabat tangan saya sambil ketawa.

Pembicaraan bodoh itu terjadi di Bandara Soekarno Hatta, 23 Desember 2010. Kami dalam perjalanan mudik dari kota perantauan. Bodoh karena mungkin sekitar seminggu sebelumnya, kami menjadi penyanyi di acara Natal perusahaan tempat kami bekerja. Kami beberapa kali harus latihan bareng, dan karena ke-alpa-an saya dalam hal mengingat nama, saya lupa nama dia .

Persahabatan kami mungkin baru intens 2 tahun terakhir, ketika secara aklamasi saya mengangkat dia menjadi kadiv bidang hura – hura. Tugasnya cukup simple, saya akan bertanya ke dia via line atau whatsapp setiap sabtu sore “kemana rencana malam ini ret?”. Dan Maretha akan mengkoodinir kegiatan para perantau galau. Bisa ke bioskop, karaoke, atau hanya sekedar makan malam. Yang penting malam minggu dilarang hukumnya sendirian di kosan atau kontrakan.

Maretha, seperti Cesar dan Metha (teman2 bermusik saya di Saturday Morning Sound) adalah sahabat saya disini. Orang – orang yang membuat saya menikmati kehidupan saya di kota ini. Berkumpul sama mereka buat saya seperti menjaga kesehatan jiwa. Saya sangat menikmatinya.

Retha dan saya punya beberapa percakapan ikonik. Seperti…
“gereja jam berapa besok?”
“abis kebaktian makan dimana nih?”
“ngantuk ga sih lo denger pastor ini khotbah?”
“gue lagi dapet Line dari sorga”

Penggalan penggalan kalimat yang kami gunakan karena kami gereja di tempat yang sama. dan mungkin hanya kami yang mengerti maknanya.

Hingga sampai dihari ketika pulang gereja, saya , istri saya, dan retha yang sedang hamil (she’s married and her husband lived in Jakarta) makan siang bersama. Dia bilang kalau SK pindahnya sudah terbit. Dia akan pindah ke Jakarta. Saya kaget dan tidak percaya. Tidak ada berita kalau retha akan pindah. Tidak ada kabar (setidaknya untuk saya) kalau retha akan mutasi. Saya akan kehilangan 1 teman disini. Teman yang enak banget diajak hang out. And it hit me quite hard. Berita itu mengagetkan saya, bahkan sampai malam hari saya masih tidak percaya kalau retha akan pindah. Dan istri saya harus berulang kali menenangkan saya di rumah.

Tibalah hari Minggu terakhir Retha di Pekanbaru.

“Ret, gereja jam berapa lo?”
“ini lagi gereja. Lo jam berapa bro?”
“sama, jam 9”
“baru sadar, ini terakhir kali gue gereja disini”

Saya sedih, tapi juga bahagia. Bahagia untuk retha yang bisa berkumpul bersama suaminya dan menantikan anak pertama mereka. Like pastor Jose Carol Said, grown up is about happy for other people happiness. Meskipun tidak bisa saya pungkiri saya juga sedih mengingat saya akan kehilangan satu sahabat.

Cukup banyak hal seru yang kami lalui bersama, salah satunya adalah hal yang menyangkut ngambek, karcis parkir, dan adegan kejar – kejaran layaknya sinetron romansa remaja. Juga tentang bagaimana saya adalah “mentor”-nya unutk menjadi seorang agent of S.H.I.E.L.D yang baik dan benar, teori konspirasi, forensik selfie, dan pada akhirnya dia saya nyatakan lulus karena saya setuju dengan kesimpulan yang dia buat untuk suatu kasus (actually this paragraph sounds very weird, but I need to put it on this post because almost impossible to remember our friendship without mentioning those things 😀 )

Dan tidak ada lagi minggu – minggu dimana saya akan bertanya ke Retha “kemana acara kita malam ini? Gue bosen nih”

Karena untuk seterusnya, mungkin kota ini akan kembali terasa membosankan…untuk saya…

Till we meet again Maretha…

Note :
I’m sorry Retha, this might not be my best piece of writing. I promise you a blogpost. Because I just want to keep in mind that is nice to know you. But I’m not in a good mood to write, losing 2 friends at a same time is not easy. I hope God’s Grace will continue overflowing your family, your marriage life, and your soon-to-be-son. I’ll meet that boy in JPCC. I am very happy for you. Don’t forget us. God Bless You

photo(1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s