LULUS

3 November 2009, saya pertama kali hidup sendirian. Nge-kost di Pekanbaru, kota dimana saya harus bekerja karena penempatan dinas disana. 3 minggu awal saya tinggal di rumah kerabat saya. Awalnya susah, saya terbiasa hidup dikeramaian. Rumah saya bukan termasuk tipe rumah yang sepi, selalu ada orang untuk saya ajak bicara. Malam hari selalu ada teman – teman saya yang nongkrong di depan rumah. Never been alone. Not until that day.

Penyesuaian dengan lingkungan baru memakan waktu cukup lama. Teman kost saya cuma 2, Gery Wong, Cina medan yang selalu mengklaim dirinya “beda dengan cina yang lain” dan bang Asep, perantauan asal jawa, Muslim Radikal tapi juga punya beberapa literature tentang Kristen. Beberapa hal yang saya ingat tentang bang Asep adalah, dia orang yang sangat baik. Sangat menolong saya beradaptasi. Kamar kost bang Asep sering kami jadikan tempat berkumpul, baik untuk saling bertukar cerita ataupun mendengar nasihat – nasihat bang Asep. Kamarnya sangat rapih, terlalu rapih bahkan.

Hanya 2 bulan bang Asep menjadi rekan kost saya, satu dan lain hal, beliau harus kembali ke jawa dan memulai hidup berkeluarga disana. Kamar bang asep diisi oleh orang pajak, Frans. Tidak banyak yang saya bisa ceritakan, karena toh dia juga menutup diri dari kami. Hanya sebulan Frans disana, sampai digantikan oleh Mas Arif. Rekan kerja saya, memilih untuk tinggal disana.

Bang Gery, atau Lae Gery saya memanggilnya. Lae adalah panggilan untuk abang dalam bahasa batak. Makanya diawal saya sudah bilang, dia mengklaim dirinya beda dari cina yang lain. Very helpful person, jika kita butuh sesuatu, bang gery pasti punya kenalan di bidang tersebut. Apapun itu. orang yang pandai bergaul dan sangat baik.

Arief sandy anggoro, kawan kerja saya di kantor. Perantauan asal Semarang. Tidak banyak bicara tapi dia akan membantu selama dia rasa sanggup dibantu. Mas arief tidak akan mengenal Levi’s dan kemeja Slim Fit apabila dia tidak bergaul sama saya maupun bang gery.

3 November 2014, saya sudah berpamitan kepada bapak dan ibu kost. 5 tahun bukan waku yang singkat. Saya dan istri sudah berdoa di dalam kamar saya, kamar yang selama 5 tahun terakhir menjadi tempat perlindungan saya. Kami mendoakan keluarga suwondo, yang memperlakukan saya seperti anaknya sendiri.

Ada beberapa kisah menarik dengan keluarga kost saya. Di awal – awal saya tinggal disana, saya terlambat bangun. Saya terbangun ketika ada ketukan keras dan berkali kali di pintu kamar kos saya. Ketukan panic. Ketika saya buka, bapak dan ibu kost saya sudah ada di depan pintu sambil bertanya kenapa saya belum berangkat ke kantor. Mereka khawatir, mereka pikir saya sakit. Dan pernah juga ketika saya dan mas Arief sdang berdinas ke luar kota, ada berita tentang pegawai PLN yang tewas tersengat listrik di kabupaten tempat kami dinas. Bapak suwondo berkali kali menelepon ke handphone saya, tidak terangkat karena saya tidak pernah membawa handphone ke lapangan. Ternyata beliau pikir itu kami. Bahkan sekarang mereka sudah tahu siapa diantara saya, mas arief, atau bang gery yang pulang, hanya dari derap langkah kami di koridor.

4 tahun juga bukan waktu yang singkat untuk persahabatan saya, bang gery dan mas arief. Banyak hal kami lewati bersama sama. Kami pernah berlibur ke Sumatera Barat, kami sering bercerita dan menguatkan satu sama lain. Saya bersyukur sekali, tempat pertama yang saya jalani ketika hidup sendiri, saya tinggal bersama mereka. Mereka adalah saudara – saudara saya. Ketika saya sakit dan dirawat selama 8 hari, mereka berdua sangat menolong saya. Membawakan makanan untuk ibu dan istri saya. Saya masih ingat ketika persiapan pernikahan saya, mas arief membantu menyiapkan undangan, dan kami bertiga membeli sepatu yang saya gunakan untuk acara pernikahan, di tempat teman bang Gery.

Ketika saya pamit, kami bertiga berdoa di kamar mas Arief. Mereka mendoakan saya dan keluarga saya. Sebuah harapan tulus dari sahabat saya. Mulai hari itu saya sudah tinggal di rumah saya sendiri. Rumah yang dalam persiapannya juga banyak dibantu oleh mereka. Setiap sudut rumah ini, ada bantuan mereka berdua dalam persiapan tinggal saya. I will never forget that. Saya akan merasa kehilangan. Kehilangan momen ketika kami bercanda sampai malam. Mengingat kekonyolan yang pernah kami lakukan. Bagaimana ketika kami membeli 1 karung durian dan kepayahan menghabiskannya. Atau ketika saya dan bang gery berkeliling kota mencari bracket untuk LCD TV yang baru saya beli sampai harus membohongi toko resmi SONY di jalan sudirman.

But Life Goes On, ada waktunya saya harus pamit. Saya harus beranjak lebih dulu dari kamar kost di Jalan Arjuna nomor 44. Saya lulus duluan. Mungkin ada banyak kesalahan yang saya lakukan selama tinggal disana. Saya meminta maaf. Tapi saya sangat berterima kasih kepada Tuhan. Menempatkan saya disana sama sekali bukan sebuha kesalahan. I came as a boy, and went out as a Man. Mereka membantu saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk mereka. I told them that this house is theirs too…

 

Well my brothers, I know you read this note. I made it because I just feel that this story is part of my life that I won’t forget. Part of my life that I will passed to my children. I have a great – great brothers. They help me to survive, they bring me up to the next level of life. And I thank God for have them in the time I have to survive in this city… God Bless Us Brothers…

100_0747 100_0653 100_0684

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s