Bagaimana Air Asia (Akan) Mengubah Hidup Saya

Sebelum saya memulai tulisan ini, saya ingin menjelaskan mengapa saya sedikit mengubah judul tulisan ini dari tema yang sudah ditetapkan oleh Air Asia. Saya menambahkan (Akan) karena sejujurnya saya belum pernah terbang menggunakan Air Asia untuk bepergian ke luar Negeri. Bahkan lebih jauh lagi, satu satunya negara yang pernah saya kunjungi hanyalah Singapura, karena urusan pekerjaan dan melalui Batam, jadi saya belum memiliki pengalaman terbang menggunakan Air Asia.

Nama Saya Benny Reinmart, 28 Tahun, sudah menikah, bekerja di salah satu perusahaan dalam negri, dan Under Achiever. Saya tidak pernah melakukan hal – hal luar biasa dalam hidup saya. Tidak pernah mengikuti even lari 10 kilometer,half marathon, apalagi full marathon. Tidak pernah travelling selain untuk urusan pekerjaan, sehingga saya tidak bisa menggunggah foto – foto menawan di media sosial yang saya punya menggunakan berbagai tagar.

Saya berusaha menjalankan kehidupan saya dengan baik, lulus kuliah tepat waktu, mencari pekerjaan, mengumpulkan uang, menikah, dan membentuk rumah tangga. Sementara istri saya adalah seorang petualang. Mulai dari menyelam hingga mendaki gunung Mahameru sudah dia jalani. Semenjak kami menikah, hobi dia itu otomatis terhenti. Karena kami memutuskan untuk fokus menyusun rumah tangga kami, membangun rumah, dan melengkapi isi rumah kami. Bagi saya, itu tidak menjadi suatu masalah. Saya terbiasa menjalani hidup seperti ini, tapi bagi istri saya kehilangan petualangan petualang yang dulu pernah dia jalani sedikit mengurangi api kehidupan dia.

Sebelum kami melangsungkan pernikahan, dia meminta izin untuk menjalani petualangan terakhir. Mendaki gunung Himalaya. Dia sudah memperhitungkan biaya kesana. Dia mengajak saya untuk ikut. Jawaban saya, tidak. Saya merasa sayang uangnya. Saya bisa gunakan untuk mengisi rumah yang sedang kami bangun, dan saya merasa saya tidak bisa mendaki gunung. Saya bisa mengerti untuk tidak menghalangi mimpinya semenjak dulu, mendaki Himalaya. Dia bisa mengerti keteguhan saya untuk memprioritaskan rumah kami.

Hingga di suatu kesempatan dalam proses pembangunan rumah, kami mengalami kesulitan keuangan. Dia merelakan tabungan yang dia simpan untuk mendaki gunung Himalaya untuk digunakan. Saya sadar, dia sudah berusaha untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk travelling ke Nepal, saya menolak dan saya bilang saya bisa mengusahakan uang itu. Saya tidak mau menghalangi dia mengejar mimpinya. Dia bersikeras untuk menggunakan uang itu, dan berkata bahwa Himalaya bisa menunggu.

Saya tahu saya sudah menggagalkan impiannya. Saya meminta maaf kepadanya akan ketidakmampuan saya menjadi kepala keluarga yang baik. Dia hanya tersenyum dan menyarankan saya untuk menonton “The Secret Life Of Walter Mitty”

Saya menonton film tersebut bersama istri saya, dan saya bertanya kenapa dia menyarankan saya untuk menonton film itu. Dia berkata ada 2 hal yang ingin dia tunjukan kepada saya melalui film tersebut. Pertama, dia ingin memperlihatkan keindahan alam Himalaya. Kedua, dia ingin memperlihatkan karakter Mitty kepada saya. Dia merasa saya dan Mitty yang diperankan Ben Stiller memiliki kemiripan. Kami terlalu fokus pada kehidupan kami. Kami takut untuk mencoba hal- hal baru. Kami merasa kami memiliki tanggung jawab lebih terhadap keluarga. Padahal banyak sekali petualangan baru di dunia luar seandainya kami mau membuka diri dan memberi kelonggaran kepada diri kami sendiri. Dan dia menekankan bahwa dia rela uang tabungannya digunakan untuk pembangunan rumah kami, karena itulah yang selama ini saya lakukan sehingga saya merasa budget untuk liburan belum perlu ada. Dan dia meyakinkan saya bahwa Himalaya memang bisa menunggu.

Saya melihat pengumuman tentang kompetisi blog ini melalu sosial media. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa hadiah utama kompetisi blog ini adalah ke Nepal, dan lebih terkejut lagi ketika jumlah nominal uang yang bisa dimenangkan sama dengan jumlah tabungan istri saya yang saya gunakan, tabungan yang harusnya dia gunakan untuk pergi ke Himalaya.

Hari ini, 31 Agustus 2014 adalah batas akhir pengumpulan tulisan untuk mengikuti kompetisi ini. Bukan kebetulan juga bahwa 31 Agustus 2014 ini, adalah tepat 1 tahun usia pernikahan kami. Saya ingin memberikan istri saya kado pernikahan yang istimewa. Kado pernikahan yang tidak bisa saya berikan kepada istri saya. Kado pernikahan yang bahkan seharusnya bisa dia dapatkan lebih awal tanpa harus menunggu sekian lama.

Oleh karena itu judul tulisan ini adalah “Bagaimana Air Asia (Akan) Mengubah Hidup Saya”

Karena apabila saya memenangkan kompetisi blog ini, saya akan menjadi pribadi yang baru. Saya bisa mengabulkan mimpi istri saya, dan saya bisa keluar dari zona nyaman saya, tidak lagi menjadi seorang under achiever. Memiliki cerita untuk anak cucu kami kelak. Saya bisa pergi ke Nepal, mendaki Gunung Himalaya. Seperti Walter Mitty.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s