KENAPA SAYA MEMILIH UNTUK MENJADI SUPORTER KAFE

Di lapangan pemain Persija dan pemain Persib membentangkan spanduk yang berisi tentang perdamaian, di akhir pertandingan 3 orang meregang nyawa dan tidak memenuhi janjinya pulang ke rumah, membiarkan sang ibu menunggu kehadiran mereka yang tak kunjung datang.

Di hari yang sama satu orang pendukung PSS Sleman mendapat bacokan sepulang dari menonton timnya bertanding, dan kemarin seorang pendukung Persebaya kembali meninggal setelah (kabarnya) dikeroyok aparat dalam pertandingan Persebaya 1927 melawan Persija.

Maafkan saya apabila hanya sedikit yang saya ketahui dari peristiwa – peristiwa tersebut. Saya tidak tertarik mengetahui detail cerita dari beragam peristiwa tersebut, saya malas..dan miris. Semoga kita juga tidak lupa pada Final SEA Games yang lalu ada supporter yang tewas. Tidak ada keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, dan kalau sudah melakukan kesalahan yang sama berkali kali, entah idiom apa yang lebih bodoh dari keledai.

Saya akan membicarakan mengenai federasi kampungan ini belakangan, saya hanya ingin mengomentari fanatisme berlebihan yang ada di sepakbola Indonesia. Apakah menjadi dosa besar apabila seorang ber-KTP Bandung ingin menonton sepakbola di Jakarta? Apakah memiliki plat B dan berkendara di Bandung menjadi lebih haram dari seekor babi?

Saya tau reaksi berikutnya dari 2 pertanyaan saya diatas akan sangat beragam, akan ada jawaban seperti “Hooligan di Inggris jauh lebih parah dari ini..” atau “kerusuhan juga bisa terjadi dimana saja, ga cuma sepakbola..”

Jadi kenapa kalau di eropa sana kadar fanatisme jauh lebih besar dan berbahaya? Masih banyak yang bisa kita contoh dari mereka selain sekedar fanatisme buta dan konyol seperti itu. Dan apabila kerusuhan banyak terjadi di luar sepakbola,  apa berarti kerusuhan di sepakbola halal? Apabila Lady Gaga memang benar pemuja setan, apa berarti pulang nonton Lady Gaga kita jadi penyembah setan? Ayolah…saya yakin penikmat sepakbola di Negara ini masih jauh lebih pintar dari pada preman berkedok agama.

Saya adalah pendukung AC Milan, klub asal Italia sementara saya sendiri tinggal di Indonesia. Fanatisme saya mendukung Milan mungkin sama dengan mereka yang mendukung tim local Indonesia. Sebagian menyebut saya fans layar kaca, fanatisme buta dari bangku kafe, atau apapun itu. Paling tidak saya masih bisa bernyanyi dan membakar red flare dari kafe sambil mencemooh pendukung Inter Milan pada partai derby yang seru, untuk kemudian pulang menumpang teman saya pendukung Inter Milan. Kami berbeda, tapi kami tetap berteman. Tidak ada masalah. Kadar fanatisme kami memang hanya sebatas layar kaca. Lepas dari layar kaca tersebut, kami tetap berteman.

Alasan itulah yang membuat saya tidak mengasosiasikan diri dengan klub manapun di Indonesia walaupun pada kenyataannya saya lama tinggal di Jakarta, saya berdarah Batak, dan 3 Tahun terakhir tinggal di salah satu kota di Sumatera. Suporter dan Federasi, tidak dapat dibanggakan.

Dan semakin konyol lagi ketika hari ini ada pernyataan dari Ketua PSSI (entah mana yang breakaway mana yang resmi) bahwa dia tidak peduli apabila PSSI dijatuhi hukuman oleh FIFA karena yang akan dihukum bukan PSSI versi dia. Logikanya..jika FIFA hanya menjatuhi hukuman pada anggotanya yang terdaftar resmi, dan dia bilang itu bukan PSSI “versi” dia, artinya PSSI “versi” dia tidak resmi? Tidak juga, karena dia selalu sesumbar yang resmi adalah PSSI-nya. Apabila PSSI versi dia itu resmi, artinya yang akan dihukum FIFA adalah PSSI tidak resmi? Apa mungkin FIFA mengurusi organisasi tidak resmi? Rumit ya? Bukankah sepakbola kita memang rumit?

Dari Politisi sampai Sepakbola, Negara saya ini memang rumit.

 

Di Negara ini..kita memang dilarang untuk memiliki agama yang berbeda, kita dilarang untuk membaca buku yang berbeda, kita dilarang untuk mendengarkan musik yang berbeda, dan sekarang kita dilarang untuk mendukung klub sepakbola yang berbeda…karena semua itu nyawa taruhannya…

 

Demokrasi Sampah…

Advertisements

7 thoughts on “KENAPA SAYA MEMILIH UNTUK MENJADI SUPORTER KAFE

  1. kesalahan terbesar demokrasi kita adalah….menjatuhkan GUS DUR…..benar juga ternyata DPR kayak TK….GUS DUR Benar juga GOLKAR Harus dibubarkan……kalau anda gogle Liga ISL itu hampir semua peserta kecuali Persib dipimpin oleh Walikota Bupati atau Gubernur yang semua berasal dari GOLKAR…..sekarang KONI dipimpin oleh Jendral TONO yang merangkap Komisaris di Perusahaan Ketua Umum GOLKAR….Hancur bulu tangkis dan sepakbola indonesia…

    1. Maaf, kalo saya lebih bersifat netral 🙂 . saya ga tau pimpinan mereka dari partai mana, atau siapa yang menjabat jadi presiden..tapi buat saya, politik dan sepakbola adalah hal yang berbeda.. jauhkan politik dari sepakbola.. 🙂

    1. makasih mas hedi sudah mau komen disini..sedih rasanya media yang bisa bikin seluruh rakyat jadi satu dengan warna “merah Putih” harus dipaksa bercerai seperti ini…saya doakan semoga kondisi ini cepat pulih.. 🙂

  2. mungkin lebih tepat; sampah demokrasi. Tapi ahh sudahlah.. toh dibilang apapun tetap sampah. okelah, demokrasi sampah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s