Garuda Yang Belum Punya Nyawa

Sea Games baru saja usai. Dan lagi – lagi Indonesia yang di wakili tim nasional U-23 kembali harus melupakan keinginan untuk menutup mimpi menyudahi kemarau prestasi selama 20 tahun (Gelar Terakhir adalah Emas Sea Games 1991 di Manila) setelah kalah lewat adu pinalti di final melawan Malaysia, lawan yang sama yang mengalahkan kita di Piala AFF 2010.

Seperti mengulang kejadian di Piala AFF, timnas U-23 juga mengawali start dengan sangat baik membantai kamboja 6-0, mengandaskan singapura 2-0, mengalahkan Thailand 2-1, sebe;um akhirnya dikalahkan Malaysia 1-0 di partai yang sudah tidak menentukan. Di semifinal Indonesia bertarung sengit melawan Vietnam, karakter Vietnam yang tidak kenal menyerah, tidak takut bertarung (pemain no 8 vietnam adalah petarung sejati) mampu kita sudahi dengan skor 2-0.

Final Sea Games 2011, kita memimpin lebih awal lewat gol Gunawan Dwi Cahyo, untuk kemudian disamakan oleh Malaysia, ,melalui perpanjangan waktu, dan kita kalah lewat adu pinalti. Saya mengakui permainan Malaysia jauh lebih baik, jauh lebih terorganisir, dan punya determinasi jauh lebih tinggi. Silahkan kalian tidak setuju dengan pendapat saya, tapi itu yang saya lihat. Indonesia lebih mengandalkan serangan balik cepat lewat umpan jauh dengan bergantung pada kemampuan individu pemain depan dibanding Malaysia yang lebih sabar dalam bermain dan memainkan bola bola pendek dari belakang, tengah dan depan. Sebagai sebuah unit, Malaysia lebih baik.

Tibo adalah seorang striker cerdas, dribbling yang bagus, ngotot, cepat, kuat, ada dimana mana, dan yang paling penting adalah dia mengerti kapan harus mengoper bola, kapan harus menjaga bola dan menunggu teman-temannya, kapan harus menggiring bola melewati lawan dan kapan harus menendang langsung ke gawang.

Patrich wanggai memiliki tipe yang berbeda, bayangkan bila 3 striker terbaik di Indonesia ada dalam satu orang. Kekuatan fisik dan kaki kiri Christian Gonzales, Sundulan seorang Bambang Pamungkas, dan kecepatan dan skill Individu dari Boaz Solossa dijadikan satu dan itulah Wanggai. Mungkin belum sampai pada level tertinggi dari pemain sepakbola, tapi di umur 23, wanggai masih punya banyak ruang untuk berkembang.

Dengan modal pemain – pemain yang memiliki skill individu yang bagus dan rata – rata adalah pemain utama di klubnya, saya tidak sanggup percaya bahwa malam itu permainan Indonesia tidak berkembang. Pelatih Malaysia tahu bahwa wanggai berbahaya bila dibiarkan bebas, double team selalu tersaji di depan wanggai setiap dia memegang bola. Tibo terlalu letih untuk membongkar pertahan Malaysia sendirian. Dan malam itu, Okto Maniani seperti lupa bahwa alasan satu tim sepakbola berisi 11 orang karena tidak mungkin untuk bermain sendirian. 3 orang yang sangat diandalkan untuk serangan balik cepat seolah mati kutu dan habis ide, selain habis stamina tentunya.

Malam itu saya kembali menyoroti lemahnya daya juang lini tengah Indonesia. Pemain paling berbahaya di lini tengah Malaysia, si nomor 10 Badrool Bachtiar berkali kali menerima bola dengan enaknya di wilayah Indonesia tanpa ada yang mengganggu. Egi dan Dirga, duet pemain tengah Indonesia seperti hanya berlari kesana kemari tanpa ada niat mengganggu. Hilang nyawa, itu istilah saya. Ketika pemain tengah seharusnya menjadi otak permainan, menjadi lapisan pertahanan pertama sebelum barisan belakang, dan menjadi dirigen serangan sebelum para pemain depan, Egi dan Dirga jarang terlibat dalam sesi bertahan maupun menyerang.

Dalam beberapa tweet di akun twitter saya, saya selalu bilang lini tengah kita tidak berhasil menjadi otak serangan, saya bilang egi belum cukup mampu menjadi dirigen lini tengah, bahwa kita hanya mengandalkan skill individu 4 pelari cepat Indonesia, Tibo,Wanggai,Okto, dan Andik. Tidak ada pengatur tempo permainan. Dan di malam Final, kelemahan itu dieksplotasi dengan bagus oleh pelatih Malaysia.

Kekalahan, apapun itu tetap saja kekalahan. Terlepas dari siap atau tidaknya kita dengan adu pinalti, menjadi pemain Malaysia yang disoraki seisi GBK juga bukan perkara mudah. Tapi tim ini punya potensi. Indonesia yang lebih berwarna, barisan belakang kita punya postur ideal, diego pemain naturalisasi itu punya teknik bertahan yang sangat bagus. Pemain sayap kita sangat cepat, berlari seperti Tom Hanks dalam Forest Gump, dan lini depan yang kuat, menjadi modal Garuda masa depan. Sayangnya nyawa sang garuda masih belum ada.

Menarik untuk melihat perpaduan antara Timnas U-23 dengan beberapa pemain timnas senior. Akan jadi sajian yang bagus apabila Timnas U-23 ini disisipi Ahmad Bustomi, jendral lini tengah terbaik saat ini, dan Boaz Solossa Striker asli Indonesia yang paling tajam, atau Immanuel Wanggai, gelandang tengah modern yang dimiliki persipura. Okto bisa belajar bagaimana bermain sebagai satu unit dan bukan Individu, toh Boaz Solossa juga pernah punya kesalahan, dan Egi bisa belajar bahwa perannya harus lebih besar dari pada sekedar “buang bola ke depan dan semua beres”

Walau (kembali) kalah, malam itu saya yakin Indonesia bisa menaruh harapan pada anak – anak muda ini. Garuda masih bisa terbang tinggi, dengan sayap selincah Okto dan Andik, cakar setajam Tibo, Wanggai, dan Boaz, serta nyawa sekelas Ahmad Bustomi, Garuda bisa untuk tidak hanya bermimpi lebih lama lagi agar menjadi juara.

Dan sampai saat itu tiba, saya akan tetap bernyanyi Indonesia Raya sepenuh hati dan merinding mendengar lagu kebangsaan kita. Saya akan tetap menggebrak meja seperti ketika Kurnia Meiga menghadang pinalti Malaysia. Saya akan tetap membanting kursi kegirangan seperti ketika Ferdinand Sinaga membobol gawang Malaysia (walau dianulir..hehe..)

Tenang saja Garuda, saya tetap mendukung kalian, sampai Garuda itu memiliki nyawa, sampai Garuda itu terbang tinggi lagi, apapun resikonya….

 

 

Nb : ketika Ferdinand Sinaga mencetak gol, saya lupa diri dan membanting kursi plastik sangkin gembiranya, saya ditegur pemilik tempat makan. Ketika adu pinalti dimulai dan ada yang memulai chant “In-do-ne-sia” saya yang pertama menggebrak gebrak meja sebelum akhirnya semua pengunjung meniru saya lalu pemilik cafe itu menghampiri saya dan berkata “kalo udah semua kayak kau, saya ga bisa negor lagi..” sorry brur..euforia ini namanya…euforia… :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s