Glory of A Boy

Sepatu converse pertama saya adalah edisi one star. Dengan tanda bintang di kedua sisinya, itu merupakan salah satu sepatu terkeren di SMA saya dulu. Saya lupa harga persisnya, tapi seingat saya berkisar 159 ribu rupiah. Uang itu merupakan jumlah yang cukup besar untuk saya pada saat itu. Tapi sepatu itu merupakan sebuah hadiah. Hadiah dari abang saya. Dia baru menyelesaikan suatu order sesi fotografi, dan ingin saya memiliki sepatu itu (meskipun saat itu saya sudah cukup puas dengan sepatu merk lokal yang saya punya)

Sejak itu, entah kenapa saya jatuh cinta dengan merk converse. Sudah berkali kali saya ganti sepatu, dan selalu saya memilih converse. “converse,high canvas,nomor 10”. Kalimat itu selalu terucap di counter sepatu olahraga, tidak usah dicoba, ukuran itu pasti pas di kaki saya. Selalu saya pakai, rusak, beli lagi, dengan model yang sama dan nomor yang sama dan harga yang sama. Sepatu yang juga saya pakai melewati masa kuliah saya. Hmm..seingat saya, saya tidak pernah memakai sepatu merk lain selama kuliah.

9 tahun sudah sejak perkenalan pertama saya dengan Converse..9 tahun, waktu yang cukup panjang. 9 tahun..saya melewati berbagai fase dalam hidup saya. Bocah sma yang kuper, mahasiswa gondrong yang urakan, pengangguran, dan sekarang saya bekerja di suatu perusahaan yang seharusnya tidak akan bangkrut. People change..and so do i…

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan 2 teman kuliah saya. Kami menjenguk seorang saudara yang baru saja tertimpa musibah. Setelah bertemu, dia bilang seperti ini “gaya lo berubah banget dah sekarang..” dan seorang lagi berkata “sepatu lo bagus bro..merk apa?” saya menjawab “wrangler..” | “udah beda bob dia, ga jaman lagi sepatu converse yang seratus ribuan”..dan saya hanya tertawa menanggapi kalimatnya.

Hotel Amos Cozy, Melawai, Jakarta, Family Room 405, 4 Oktober 2011…

Ini adalah malam terakhir saya menginap di hotel ini. Malam terakhir dari rangkaian training kWH Meter yang diadakan di hotel ini. Cukup geli juga saat mengingat entah berapa kali jalanan ini sering saya lalui dulu, dan tidak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa saya bisa menginap di hotel seperti ini. Hotel yang cukup besar yang sanggup membuat ibu saya mengirim pesan pendek dengan bunyi kira – kira seperti ini “Mama bangga anak mama bisa nginap di hotel sebesar itu” – terkadang ibu saya memang sangat berlebihan 🙂

Banyak sekali yang terjadi direntang waktu hampir 2 tahun ini. Saya tidak bisa menyebutkannya satu per satu disini, tapi kira kira seperti ini. Saya harus keluar dari rumah, menjalani hidup saya sebagai laki – laki mandiri, jauh dari keluarga,jauh dari orang orang yang saya sayangi, jauh dari teman teman, dicabut secara paksa ditarik keluar dari zona nyaman yang saya huni selama 23 tahun ke kehidupan yang tidak saya ketahui sebelumnya.

Saya mengalami masa – masa sulit itu sendirian, menyesuaikan diri dengan kesendirian, dengan ruangan sempit 3 x 3 meter. Tidak ada kegaduhan, tidak ada makan siang bersama sepulang gereja, hanya saya dan diri saya sendiri. Dan sudah hampir setahun ayah saya mengalami sakit yang cukup keras, bahkan kondisi beliau belum pulih seutuhnya sampai tulisan ini saya buat.

Saya tahu saya memang tidak bisa melewati ini semua sendirian, tapi saya punya Tuhan yang selalu ada bersama saya. Tuhan Yesus yang tidak pernah tertidur menjaga saya di ruangan sempit 3 x 3 meter itu. Dan Tuhan Yesus yang memberikan mujizat yang luar biasa atas kesembuhan ayah saya. Saya tahu Dia tidak mau saya menyerah, Dia tahu bahwa dia menciptakan saya dengan presisi untuk mampu melewati ini semua. Saya memutuskan untuk berusaha dengan baik dan berserah kepada kehendak Tuhan, dan selanjutnya yang terjadi adalah berkat yang luar biasa yang mengalir tidak pernah berhenti…Tuhan mengaturnya dengan sangat indah.

What can I say? Lampung, Palembang, Jambi, pengalaman dan petualangan baru yang mungkin tidak bisa saya rasakan jika bukan karena berkat yang tidak mungkin saya hitung. Semua terjadi disaat yang tepat. Tidak meleset sedikitpun. Kemudahan yang saya dapat ketika saya meminta untuk pindah bagian, proses yang tidak bertele tele yang mengherankan semua pihak di kantor. Kalau memang Tuhan sudah menetapkan jalan, tidak akan ada yang bisa menghalangi. 🙂

Malam tadi kami – rombongan peserta training – menutup acara dengan makan malam di restoran pulau dua, sebuah restoran yang berada di sebelah gedung DPR. Sama seperti hotel ini, berkali kali saya lewati tapi saya bahkan tidak pernah membayangkan akan menerima jamuan makan disini.

Ada hal yang menarik ketika kami selesai makan. Dalam perjalanan pulang ke hotel, bus besar yang membawa kami berputar di lampu merah Palmerah (lampu merah di depan gedung Jakarta Design Centre). Saya tidak sengaja mengambil tempat duduk di sisi kiri bus tepat di pinggir jendela. Dan saat bus berputar di Perempatan Palmerah itu, saya tertegun dan tersenyum karena mata saya tertuju pada satu titik. Pikiran saya menerawang ke 2 tahun lalu, pertengahan 2009.

Di lampu merah ini 2 tahun lalu saya pernah terjatuh dari motor, terseret sejauh kira kira 5 meter. Kejadian itu persis ketika saya baru selesai menghadiri undangan wawancara yang entah sudah keberapa puluh kali. Saya ingat ketika lampu merah dan saya menghentikan laju motor saya, pada saat itu saya merenungkan nasib yang menemui kesulitan dalam mencari pekerjaan. Dan ketika lampu merah menyala hijau, saya menjalankan motor saya, pikiran saya melayang entah kemana, menyenggol motor orang lain, dan terseret. Mujizat luar biasa terjadi ketika sehabis jatuh saya langsung bangun, membantu mengangkat motor orang yang menyenggol saya, untuk kemudian saya memunguti barang saya yang berceceran dari tas saya, baru menyingkirkan motor saya dari jalan.

Yang paling hebat dari itu semua adalah saat saya menyadari bahwa tubuh saya tidak terluka sedikitpun, segores pun tidak. Kerugian yang saya alami hanya celana kain hitam saya satu satunya robek sedikit, sepatu pantofel saya satu2nya sobek di bagian kanan, dan kaca spion motor saya pecah. Hanya itu, tidak nyawa saya, bahkan tidak ada lecet di seluruh badan saya. Luar biasa keajaiban hari itu, hari dimana Tuhan membuktikan bahwa kekhawatiran saya akan pekerjaan tidak beralasan. Bahwa dia melindungi saya bahkan ketika saya ragu akan rencanaNya. Bahwa kekhawatiran saya tidak akan membantu saya menyelesaikan masalah saya barang sehasta saja.

Dan lihat saya sekarang, setelah 2 tahun saya melewati Perempatan itu lagi. Dengan kondisi yang berbeda. Saya yang sekarang melewati simpang tersebut setelah selesai menghadiri jamuan makan malam. Saya yang sekarang berhenti di lampu merah itu tidak lagi berpikir kapan saya bisa diterima bekerja di suatu perusahaan. Saya yang sekarang ditawari “besok mau kita antar pak Benny?” Saya yang sekarang tidak memiliki keraguan atas apa yang Tuhan rencanakan. Karena Tuhan sudah mengaturnya dengan sangat indah. Saya menang di dalam Tuhan, saya berkelimpahan berkat ketika saya berjalan bersama Tuhan dan bukan menentang rencanaNya. Saya tahu Dia mempersiapkan kemenangan – kemenangan berikutnya untuk saya dan juga untuk kalian, selama kita berserah penuh pada rencanaNya. Not just to be a winner, but more than a winner…a Glory…

Judul Note ini yaitu “Glory Of A Boy” saya ambil dari salah satu album foto virtual di akun jejaring social abang saya. Disitu terdapat foto foto abang saya dan tempat – tempat yang dia kunjungi. Pantai, luar negeri, dan apapun tempat yang sepertinya menunjukan dia dan kesuksesannya. Yang paling fenomenal adalah fotonya di perbatasan Negara di timur tengah dengan jari tengah teracung setegak tegaknya :)) He is to..so blessed.. saya masih terkagum kagum akan kisahnya sebagai bekas pemungut bola di lapangan tenis yang bisa berkelana ke luar negri dan hampir memijakan kaki di seluruh pulau di Indonesia, kecuali Papua.. you are so blessed bro..

Mungkin teman saya benar, urusan sepatu itu menunjukan bahwa tampak dari luar, saya bukan lagi saya yang dulu. Tapi saya bisa jamin, deep inside, I am still the same old Ben…masih teman kalian seperti yang kalian kenal beberapa tahun lalu, hanya saja saat ini saya sedang mensyukuri semua berkat yang Tuhan percayakan kepada saya.

Be thankful for what I’ve got, be thankful for every God’s gift, and be prepare for another glory….Glory Of a Boy…

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya, saya menghargai setiap menit yang kalian luangkan untuknya..God Bless.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s