Indonesia kalah (bukan) karena postur tubuh!!

Malam tadi saya kembali harus bersedih, tim nasional Indonesia kalah 0-2 dari Bahrain dalam pra kualifikasi Piala Dunia Brazil 2014. 4 hari sebelumnya baru saja kita kalah 0-3 dari Iran. Entahlah..sepertinya saya harus kembali memiliki mental “paling juga kalah..” ketika timnas bermain.

2 x 90 menit…lawan Iran dan Bahrain yang katanya tipe permainannya mirip dengan lawan tanding kita tim kelas kampret yang namanya Palestina. Sebagai gambaran Iran beberapa kali lolos Piala Dunia dan beberapa pemain mereka bermain di liga eropa, Bahrain hampir lolos Piala Dunia 2010 seandainya tidak kalah dengan Selandia Baru. Sementara apa yang ada di pikiran kalian ketika saya menyebut Palestina? Perang? Konflik? Pernah dengar cerita sepakbola dari Palestina? Dan segenap komentator berkata “palestina punya gaya main yang mirip..” cih!!

2 x 90 Menit…lawan Iran dan Bahrain, saya tidak percaya bahwa 10 dari 11 pemain yang ada di atas lapangan itu adalah pemain yang sama ketika kita bermain sangat atraktif di Piala AFF 2010. Mereka seolah lupa cara bermain sepakbola, mereka tidak bisa passing dengan benar, mereka tidak bisa tackling dengan mulus, dan mereka adalah pemain yang sama dengan yang saya kagumi ketika bermain di Piala AFF lalu. Saya masih heran…bahkan sampai ketika tulisan ini saya unggah..

Wim, yang mantan pemain Belanda tahun 1974 dan 1978, yang dipanggil menggantikan pelatih Indonesia terbaik selama saya menonton timnas – Alfred Riedl – katanya merupakan jawaban Indonesia agar berhasil lolos Piala Dunia. Dan serentak optimis membuncah ketika melihat rekam jejak Wim yang pernah meloloskan Trinidad & Tobago ke Piala Dunia 2010, sebagai asisten Pelatih, meskipun yang mengerti bola pasti tahu bahwa Leo Benhakker yang jadi pelatih kepala saat itu.

Gaya main era Alfed Riedl dibuang. Operan – operan pendek merapat, tusukan – tusukan dari sayap, dan pergerakan pemain yang saya bilang “a la Barcelona dalam kelas yang berbeda” seolah tidak pernah hadir dalam ingatan para pemain. Mereka kembali ke jaman dulu, ketika mereka berharap mereka adalah andrea pirlo yang mampu melesatkan bola dari belakang ke depan, dengan tepat. Gaya Alfred Riedl ditinggalkan..entah..mungkin dianggap peninggalan status quo.

Sentuhan Wim tak ubahnya menghisap sepakbola Indonesia kembali ke 10 tahun silam. Wim tidak punya visi akan tim ini. Pemilihan pemain yang tidak tepat terlihat dari dipaksakannya Bambang Pamungkas bermain di posisi yang tidak seharusnya padahal BP20 adalah seorang striker, miskinnya kreativitas strategi,semua pasti menyadari ketika lawan Bahrain seolah Indonesia bermain dengan taktik “berikan bola pada Boaz maka semua selesai”, dan pergantian pemain yang tidak jitu adalah kebobrokan Wim yang saya tangkap dengan kasat mata, entah apa kalian yang tidak mengerti sepakbola bisa mengerti apa yang saya ucapkan.

Ketika kalah melawan Iran, Wim berkata bahwa “Postur Indonesia kalah dari Iran” memang terlihat dari 2 Gol Iran tercipta dari bola udara. Tapi bukankah kita sudah sadar bahwa postur Orang Indonesia memang segitu segitu saja? Bukankah sudah jadi tugas dia untuk mengatur strategi supaya bisa mengatasi kelemahan kita? Kalau memang pada akhirnya pelatih Tim Nasional hanya bisa beralasan “kalah postur..” lebih baik kita pakai pelatih lokal, efisiensi gaji, toh tidak ada bedanya..

Menarik menunggu alasan Wim setelah kekalahan atas Bahrain. Saya sempat berpikir seperti ini “kalau mau dibilang kalah postur sudah tidak mungkin, 2 gol ini dari open play, bola bawah. Kalah di udara, dan kalah di bola bawah. Berarti emang ga bisa main bola kita” dan mengejutkan ketika saya membaca di surat kabar elektronik bahwa Wim berkata mindset sepakbola Indonesia tidak ada, tidak bisa memainkan possession football, tidak bisa memainkan simple football, tidak layak untuk bertanding di tingkat elit Internasional.

Wim juga berkata bahwa ini bukanlah tim-nya. Bukan dia yang memilih pemain – pemain sekarang. Memang ada yang bilang kalau Wim tidak diberikan cukup waktu untuk membentuk tim, seandainya Wim bebas memilih pemainnya sendiri mungkin hasilnya akan lain. Tapi buat kalian yang tidak mengerti sepakbola mungkin tidak tau kalau Carlos Queiroz pelatih Iran baru melatih sejak April 2011, Peter Taylor pelatih Bahrain baru diangkat 3 bulan lalu. Dan pelatih Qatar baru 2 bulan melatih Timnas Qatar, tidak hanya Wim yang punya waktu mepet..

Wim yang harusnya bertindak sebagai pemimpin mereka, malah menjatuhkan pemain di depan media. Seandainya saya bisa bertemu Wim sekarang, saya akan berteriak bahwa di Era Riedl, pemain kita bisa bermain apa yang dia sebut simple football!!Jose Mourinho pernah berkata kepada media “kalian boleh menyerang saya sesuka hati kalian, tapi jangan serang pemain saya. Biarkan mereka bermain bola” sementara pelatih kepala timnas Indonesia, yang harusnya memimpin 23 pemain bola terbaik di Negri ini, menjatuhkan mereka tepat di ujung dunia.

Ya, saya memang menyalahkan Wim, seperti yang saya bilang berkali kali, ini adalah pemain yang sama ketika bermain di Piala AFF. Sebagian besar sama. Kenapa di tangan Riedl mereka bermain bagus dan percaya diri sementara di tangan Wim mereka bermain tidak lebih baik dari kelas tarkam? Jawabannya ada di kalimat salah satu teman saya di dunia maya “ Dari 1981 sampai 2011 sudah ada 15 pelatih yang menangani tim nasional, dan buat gw Wim ada di urutan no 27!!”

Hmmm..saya yakin kalian yang tidak paham sepakbola Indonesia pasti tidak mengerti arti kalimat teman saya tersebut..saya maklum. Sudah sana..kembali ke mall,siapa tahu ketemu Irfan Bachdim..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s