After we’re gone spirit carries on

Ada yang tau judul ini saya ambil darimana? Ini adalah judul lagu favorit saya. Spirit carries on oleh dreamtheater. Saya bukan penggemar metal, death metal, trash metal, atau entah apapun itu kalian menyebutnya, saya suka rock n roll, agak melenceng sedikit dari itu, maka saya memilih punk sebagai partner selingkuh saya. Tapi seorang teman meracuni saya dengan lagu ini. Entah berapa kali, puluhan mungkin, ini adalah lagu wajib bagi siapapun yang ingin menumpang di dalam mobilnya, dan sialnya (atau malah beruntung?) saya termasuk langganan tetap penumpang mobilnya di jaman yang sering saya sebut “jaman mahasiswa miskin”

 

What makes that song special? Musiknya, liriknya hampir semuanya. Tapi yang selalu saya ingat dari lagu ini adalah sekumpulan – lagi lagi – “mahasiswa miskin” dengan sebuah gitar Yamaha seri F, memainkan lagu itu dengan chord yang sesuai dengan feel masing masing (beda gitaris maka akan beda chord) dan bagian paling menarik adalah ketika sampai di bagian yang kami sebut “eaaaaaa…melodi bacot” dan munculah suara suara pelafalan melodi gitar melalui mulut. Sesuatu yang katanya hanya bisa dilakukan oleh mus mujiono, tapi kami bisa melakukannya dengan sempurna di lagu itu.

 

Masa masa itu memang menyenangkan. Dunia yang sempit seakan menjadi luas. Pemikiran yang hanya sepotong seolah menjadi besar. Saya merasa beberapa dari mereka melengkapi karakter saya sekarang. Beberapa dari mereka bisa saya sebut sebagai saksi saksi hidup peristiwa bersejarah dalam hidup saya (menurut saya sendiri loh, entah kalo menurut kalian)

 

Saya masih ingat, terakhir kali saya berjumpa dengan mereka di acara pernikahan salah seorang dari kami, perasaan gembira dan senang itu kembali lagi. Saya akan selalu ingat bagaimana kami tertawa, bagaimana kami saling menyapa layaknya seorang teman yang lama tidak berjumpa (kenyataanya memang beberapa dari mereka cukup lama tidak saya jumpai) dan yang terpenting, saya merasa nyaman berada di tengah tengah oang yang saya yakin cukup gila untuk saya. Cukup gila untuk membuat saya berpikir, apabila saya adalah pasien salah satu rumah sakit jiwa, maka mereka harusnya menjadi teman teman saya disana. Peristiwa kemunculan teman saya secara tiba – tiba yang saya kira petugas catering adalah bukti nyata bagaimana kami seharusnya berada di rumah sakit yang sama kelak (as long as I remember, everybody on that room looking at us suddenly)

 

 

 

Dan hari ini seorang dari kami mengadakan dari kami mengadakan acara pernikahan lagi, maka saya mengutuk teknologi yang berhasil membuat mereka layaknya reporter handal yang memberi laporan langsung dari TKP berupa foto atau percakapan langsung seperti “gw udah sampe nih”, “udah sesi foto nih”, “kesananya lewat mana?” dan lain sebagainya. Ya ,malam ini, saya mengutuk teknologi.

 

Malam ini saya terjebak, lagi lagi disini. Di kamar ini. Di petak berukuran 3m x 3.5m. Saya bosan. Amat sangat bosan. B.O.S.A.N (penulisan ini terinspirasi dari teman saya yang selalu bilang “gaya nulis ini akan membuat pencitraan kuat tentang apa yang lo rasakan” bukan dari lagu T.I.N.J.A) kadang saya merasa, ruangan ini terlalu sempit untuk menyimpan energy saya yang besar. Ruangan ini terlalu kecil untuk jiwa saya yang meledak ledak (bagi kalian yang berpikir “kenapa ga pindah ke tempat yang lebih luas?” ada baiknya kalian berhenti membaca sampai sini, karena nampaknya kalian tidak mengerti apa yang hendak saya sampaikan) seperti juga rutinitas di luar kamar ini. Sangat sempit. Sangat membosankan. Terbentur oleh aturan sana sini. Tidak dinamis. Membosankan. B.O.S.A.N.

Tulisan ini dibuat bukan karena saya tidak bersyukur (bagi kalian yang berpikiran seperti itu, silahkan berhenti disini, karena kalian tidak berhak menilai saya tanpa tau siapa saya) saya bersyukur, tapi berkeluh kesah saya rasa adalah sesuatu yang wajar sebagai seorang manusia. Saya seperti kehilangan motivasi. Mungkin, setengah dari hasil bertahan disini sudah terbayar, sementara, setengah lagi hilang dengan cara yang cukup menyakitkan dan membuat saya muak. Energy saya untuk bertahan untuk saat ini mulai habis.

 

Saya ingin disana, bersama mereka, bersama kawan kawan yang tau bagaimana seharusnya saya. Malam ini saya tidak ingin menjadi dewasa. Saya bosan. Saya jengah. Jiwa liar saya terkungkung cukup lama. Saya tidak bisa hidup dengan topeng dimuka. Dengan kepalsuan yang tersedia. Dan dengan basa basi yang dijual murah. Pengkerdilan ini harus segera dihentikan. Entah bagaimana. Entah seperti apa. Saya juga tidak tau.

 

Mari kita tarik korelasi antar lagu dream theater tadi dengan keluh kesah sampah yang saya jabarkan di atas.

 

Saya pernah tidak bisa pulang karena bus yang menuju rumah saya sudah berhenti beredar, sekitar jam setengah 12 malam, saya ambil telepon seluler saya. Satu nama yang saya cari “JOKAW” dan kemudian saya bicara “Wa, gw udah di depan kosan lo nih” ga perlu bicara panjang lebar, dia tau saya ga bisa pulang dan numpang bermalam.

Saya pernah mengalami salah satu perjalanan paling rock n roll dalam hidup. Bayangkan 3 mahasiswa, pulang dari les bahasa inggris, langsung menuju puncak, dengan mobil innova, disiram cantiknya warna matahari sore melaju di tengah tol jagorawi yang lengang, KIS Rock Weekend memainkan lagu lagu terbaik di era nya, dan sekotak martabak keju yang hangat menemani perjalanan kami. Keren? Memang,

 

Atau satu lagi, tidur di terminal kalideres? Beralaskan kardus? Sementara beberapa teman yang lain sudah seperti orang gila semalaman suntuk mencari bis? Teras warteg itu mungkin tertawa nyinyir saat kami dibangunkan sang pemilik warung karena mereka mau mulai berjualan sementara jam di tangan saya menunjuk angka 03:45 am

 

“if I die tomorrow, I’d be alright because I believe,that after we’re gone…the spirit carries on!!” itu adalah bait terakhir yang dinyanyikan dengan cara berteriak. Dan saya juga ingat, suatu kali saya meneriakan bait itu dengan kencang dan kuat. Saya bebas. Ya, bersama mereka saya bisa menjadi diri saya. Yang bebas, beringas, penuh energy, meledak ledak, dan punya pendirian kuat.

 

Dear friends, saya tau di masa yang saya sebut “mahasiswa miskin” tersebut, saya lebih banyak merepotkan daripada membantu. Satu hal yang saya rasa patut kalian ketahui. Melewati 4 tahun bersama kalian, mungkin menjadi keputusan yang paling tepat dan tidak akan pernah saya sesali. I hope after I gone..my spirit still..Carries on!!! Keep on Rocking Guys

 

There are several thing I loved to do…one of them is remembering the 062..

 

–          Jogreg dan Jawa, thanks for everything pal, sori kalo banyak ngerepotin seperti numpang kemana mana, dan nginep semena mena..hahahaha..

–          062.04 yang ga mungkin saya sebutin satu per satu..sialan!iri gw liat foto – foto lo semua. I.R.I

 

Nb : maaf apabila tulisan ini tampak agresif, penuh amarah dan kurang sopan. Ini hanya akumulatif dari kebosanan dan kejenuhan saya selama ini. Every people have their right of emotional reveal. Bagi kalian yang sudah saya ingatkan untuk berhenti membaca, well this is me..full of energy…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s