We Sell Our Soul to Serve Our Country, written On Monday, February 28, 2011 at 4:12pm

Senin pagi yang seharusnya berjalan normal. Tapi tidak bagi beberapa dari kami. Salah seorang teman saya baru saja kehilangan ibunya. Hidup dan mati merupakan hal biasa dalam hidup ini. Konon kabarnya, Tuhan sebagai yang Maha Kuasa telah mengatur semuanya dalam hidup kita, termasuk juga urusan hidup dan mati. Yang membuatnya menjadi agak lain adalah, teman saya bukan termasuk salah satu yang “beruntung” untuk bisa berada di sana menemani detik terakhir ibunya ada di dunia ini. Dia ada di sini, di tanah perantauan yang jauhnya ratusan kilometer dari daerah asalnya dan memiliki waktu tempuh kurang lebih 4 jam apabila menggunakan burung besi.

 

“SURAT PERNYATAAN SIAP DITEMPATKAN DIMANA SAJA” adalah judul secarik kertas yang harus kami tanda tangani –meskipun kenyataanya itu tidak berlaku untuk seluruh dari kami- artinya kami siap keluar dari rumah, dan hidup mandiri. Surat itu yang membuat kita layaknya seorang serdadu tempur yang diperintah komandan untuk berangkat ke daerah daerah tertentu, dan tidak ada jawaban lain selain berkata “siap komandan!”. Konsekuensi dari keputusan itu sudah jelas, apabila terjadi sesuatu pada salah satu anggota keluarga kami, hal paling maksimal yang bisa kami lakukan adalah mengirimkan doa dan menyerahkan sisanya pada Tuhan yang Maha Kuasa.

Padamu Negri

Di salah satu social media, abang saya berkicau kira2 seperti ini. “Bokap di Rumah Sakit, Gue di Airport. I’ve sell my soul to serve my country”. Situasi yang ironis dengan meninggalkan rumah untuk bertugas di Kalimantan sementara sehari sebelumnya ayah kami baru saja masuk rumah sakit dan meninggalkan dua orang wanita kuat yaitu mama dan kakak untuk menemani ayah saya. Tapi saya paham, tidak ada pilihan lain. Negara memanggil, perintah sudah jelas. Lagi lagi, doa yang terkirim, dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Saya ingat, suatu kali saya ingin berangkat kembali menuju perantauan untuk mencari sesuap nasi dan selembar tiket ke London (karena ternyata banyak orang yang juga mencari segenggam berlian), saya dan papa terlibat pertengkaran kecil untuk hal sepele. Kejadian itu persis terjadi di saat saya sudah menenteng tas, dan mobil yang akan mengantar ke bandara sudah siap. Saya langsung pergi mengacuhkan papa saya seolah menunjukan bahwa saya sudah bisa melawan, dan saya bisa melakukannya dengan baik, saya bisa menjadi prototype anak laki laki yang tidak ingin dimiliki ayah manapun. Baru beberapa langkah keluar dari pintu rumah, saya berbalik, berjalan menuju papa saya, memeluknya dan berkata “cepat sembuh pa, saya sayang papa”.

 

Dalam perjalanan beberapa langkah dari tempat saya melawan papa sampai keluar dari pintu rumah, yang terlintas dibenak saya adalah “jika sesuatu hal terjadi pada papa dan hal terakhir yang saya lakukan adalah melawan dia, saya akan sangat menyesal. Atau jika sesuatu hal terjadi pada pesawat yang saya gunakan dan hal terakhir yang dia ingat dari saya adalah tentang PEMBANGKANGAN, dia akan merasa gagal membesarkan anak laki lakinya”. Sementara yang saya inginkan adalah apabila sesuatu terjadi pada saya, dia aka selalu ingat bahwa saya menyayangi dia, dan apabila sesuatu terjadi pada papa maka dia akan diberikan ucapan selamat dari malaikat di surga karena berhasil mendidik saya.

 

Bagi saya, seorang abdi dari Negara yang kurang ajar (negaranya yang kurang ajar, bukan saya), kesempatan untuk mengungkapkan rasa sayang saya pada keluarga tidak datang setiap hari. Saya harus sadar, jarak yang jauh sangat ideal untuk membuat saya kehilangan saat2 indah bersama anggota keluarga saya. Bahkan mungkin saat2 terakhir ada bersama mereka. Saya harus belajar, belajar untuk berhati hati dalam tutur kata, karena bisa saja itu merupakan kalimat terakhir saya untuk keluarga. Belajar untuk sadar bahwa seorang remaja gondrong berjiwa pemberontak memang keren, tapi pria yang harusnya menjadi dewasa tetapi tetap melawan orang tua adalah kebodohan.

 

Seperti penggalan lagu batak berikut :

So marlapatan marende margondang marembes hamu molo dung mate ahu

So marlapatan nauli nadenggan patupahonmu molo dung mate ahu

Uju ningolukkon ma nian

Yang menyampaikan bahwa segala kebaikan dan keindahan yang kita berikan pada orang tua, tidak ada gunanya jika mereka sudah tidak bersama kita lagi. Di saat mereka hidup, adalah moment paling pas untuk membahagiakan mereka.

 

Kami, abdi Negara. Sebagian melihat kami seperti sekelompok orang paling beruntung, bermasa depan cerah, dan memiliki hidup terjamin hingga tua. Tapi sedikit yang menyadari, banyak hal yang harus kami korbankan dibalik setiap cerita kemewahan yang didengar sebagian besar orang. Kami layaknya serdadu, tarik picu melesat tak ragu. We sell our soul to serve our country.

 

Tapi tidak untuk jiwa rock n roll saya, yang akan saya gunakan untuk memberontak dengan tepat jika memang dibutuhkan…

 

 

 

Dedicated to:

–         Teman saya yang sedang berduka. My deepest condolence for you and your family.

 

–         Papa saya yang semoga saat saya post tulisan ini, beliau sudah bisa kembali ke rumah. “love you pap”. Maaf saya tidak bisa ada disana.

 

–         Mama saya, yang diberkati energi luar biasa untuk merawat papa, dan menjaga ketiga anaknya.

 

–         Victor Martua Pinondang abang saya, abdi Negara paling taat, yang merelakan waktu tidur dan hari liburnya demi mengurus Negara ini (patut dicontoh PNS lainnya deh lo :p)

 

–         Dessy Eliana Sitorus kakak saya, yang dengan sangat hebat menggantikan peran abang dan saya dalam kondisi seperti ini (you are awesome sist.. :-* smooooccchhhhh..)

 

Kalian semua yang jauh dari rumah. Yang tidak bisa setiap hari menikmati hangatnya peluk seorang ibu, dan ramahnya senyum seorang ayah

Advertisements

2 thoughts on “We Sell Our Soul to Serve Our Country, written On Monday, February 28, 2011 at 4:12pm

  1. Bung ada bukaan untuk sell the soul to serve the country gak? Sapa tau gw juga bisa jadi “patriot”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s