Siapa Suruh Datang Jakarta, Written on Friday, April 9, 2010 at 5:39pm

Kemewahan Jakarta Bukan Untuk Orang Lemah
Monas, Supremasi Jakarta

“lagi dimans bro?”

“biasa, di rumah aje…lo dimana nih bro?”

“sama bro, di rumah juga…bosen yeh gini – gini aje..”

“sabar aja bro..mau gimana lagi..semua udah ada yang ngatur..”

“bahkan kita chat sekarang juga udah ada yang ngatur yah? Hehehe..”

“yoi…terlanjur pasang langkah ke depan ben..pantang rasanya surut ke belakang.. :D”

Pembicaraan antara 2 orang sarjana yang terjebak di tengah persaingan ibukota dalam mencari kerja. Hahahaha..kalimat terakhir dari percakapan kami diatas membuat saya sangat terkejut bagaimana orang yang menurut saya tidak bisa serius mampu mengeluarkan kalimat sebijaksana itu..

Pekerjaan memang menjadi hal yang paling kami inginkan saat itu, dan lowongan kerja adalah hal yang paling kami cari. Tidak hanya kami, mungkin juga oleh sebagian besar sarjana yang baru lulus yang mengalami nasib seperti kami.

Masih jelas di ingatan saya, bagaimana bunyi dering telepon selular seakan menjadi hal yang paling berharga, nomor tak dikenal menjadi sedikit harapan akan datangnya panggilan wawancara. Memeriksa apa ada lowongan yang sesuai dengan klasifikasi kami di internet dan Koran.

Di akhir masa kuliah, pertanyaan yang sering muncul adalah
“lo minta gaji berapa nanti?”
“kita kan teknik,harusnya standar kita beda, Rpx.xxx.xxx,xx”

Berbagai macam pertanyaan, dan jawaban yang masih sangat menunjukan ego seorang anak muda, hingga akhirnya kami sadar bahwa memasang nominal tanpa pengalaman kerja adalah tindakan bunuh diri dan dihadapkan pada kenyataan bahwa kami yang membutuhkan mereka, bukan sebaliknya. Sehingga muncul aturan tidak tertulis untuk memasang label Rp x.xxx.xxx,- (NEGOTIABLE) sebagai hilangnya kebanggaan yang tertinggal dalam diri kami…..IDEALISME.

Dalam suatu peristiwa, sore hari di lantai 16 salah satu gedung bank di daerah slipi, saya terlibat obrolan dengan satu orang peserta psikotest lainnya..kami sedang menunggu hasil psikotest sambil menatap keluar jendela – pemandangan Jakarta yang di siram sinar matahari sore memang indah –
“Jakarta tuh bagus yah..”

“iya..tapi macet..” (tidak salah dia berkata itu, dia orang bogor)

“hahahaha..kalo ga macet, bukan Jakarta namanya…bagus..tapi susah nyari kerja..” jawab saya

“hahaha..emang..sesusah apa?”

“hmmm, semua bagian Jakarta udah gw jalanin Cuma buat interview, naik motor, panas – panas, ujung – ujungnya dapet kalimat “kami kabari dalam 2 minggu” lagi..hahahaha..” saya membagi sedikit pengalaman saya mencari kerja.

“emang lo lulus dari bulan apa?” dia bertanya.

“Agustus” jawab saya singkat.

“pedih juga jadi lo yeh..” (SIALLL!!! Ga enak banget nih orang omongannya)

“hahahaha…” saya memaksakan diri untuk tertawa..

“gw lulus dari bulan Juni, pasti gw denger kalimat sakti itu lebih banyak dari lo yah..”

“rumah lo dimana?” dia bertanya.

“tangerang, 30 menit lah dari sini naik motor”

“oohh, rumah gw di bogor..2 jam dari sini naik bis, itu pun kalo lancar, dan jam segini, bis terakhir tinggal jam 7,berarti gw harus nunggu 2 jam lagi..dan itu pun belum kena macet,perjalanan bisa 4 jam,sampe rumah tengah malem…hehehehe..”

“Pedih juga hidup lo yeh” saya menjawab dengan keinginan untuk membalas kalimat dia sebelumnya (RASAKAN!!!)

“iya, emang pedih..hehehe…namanya juga nyari kerja ben.ga gampang, tapi jangan malah dibuat susah. Sedihnya kita bawa dalam cerita aja. Kalo udah keluar dari cerita itu, ketawa – ketawa lagi aja. Lo mau pas nyari kerja susah, pas lagi ga nyari kerja hidup lo susah juga? Gw sih ogah, capek..hehehe..jadi, susahnya nyari kerja kita rasakan kalo lagi cerita – cerita gini aja…”

Kalimat dia ada benarnya…sangat benar bahkan.

“udah berapa lama lo nganggur?” dia bertanya lagi

“hamper setaun lah, cukup lama”

“hahahahaha…iya,lama..tapi gw jadi penasaran..”

“penasaran kenapa?”

“Tuhan mempersiapkan lo segitu lama..gw jadi penasaran pekerjaan apa yang bakalan Tuhan kasih sampe Dia nunggu lo bener – bener siap untuk bekerja, it must be something big..”

Saat itu, saya hanya bisa tersenyum sinis, dan berpikir bahwa teman saya hanya mencoba untuk membesarkan hati saya…tapi, saya sendiri juga tidak menyangka saya bisa ada disini..sekarang. Sayang sekali, saya lupa nama orang itu, maaf kawan, tapi pembicaraan kita di lantai 16 itu menjadi salah satu titik balik saya dalam memandang hidup. Terima kasih banyak untuk pertemuan singkat kita.

Mungkin memang Tuhan butuh waktu yang berbeda beda untuk mempersiapkan setiap orang. Mungkin saya, atau salah satu dari kalian, dipersiapkan sedikit lebih lama daripada yang lain dalam hal menerima pekerjaan. Tetapi satu yang pasti, Tuhan menyiapkan yang terbaik untuk kita, Dia akan menunggu sampai kita benar – benar siap, dan akan memberikannya di waktu yang tepat. Sesuai dengan waktuNya.

Jadi bersabar saja kawan, do our best,and let our Super God do the rest.

Kejamnya kota metropolitan..jangan bikin kita lelah bertahan..

Terlanjur pasang langkah ke depan..pantang rasanya surut ke belakang..

Kerasnya kota metropolitan..jangan bikin otak lo berantakan..

Jalani penuh keyakinan..hadapi hingga terang kan menjelang..

Kita sedikit kembali ke cerita di awal tulisan ini – tentang kalimat bijak teman saya –

“gokil…tambah bijak aja kalimat lo yah..”

“pedewasaan diri ben, dalam periode ini gw jadi makin bijak menyikapi segalanya”

“wiiidiiiihhh…hebat lo…”

“biasa aja sih ben…soalnya itu gw ambil dari kalimat orang bijak lainnya..”

“siapa?”

“lirik lagunya steven and coconutreez yang baru..hahahahahaha =))”

“sialan lo brooooooo!!!!! =))”

Terima kasih sudah membaca tulisan ini…semoga tiap kalimat yang tertuang di tulisan ini dapat menjadi sesuatu yang berguna untuk kalian..God Bless..

Advertisements

2 thoughts on “Siapa Suruh Datang Jakarta, Written on Friday, April 9, 2010 at 5:39pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s