People Got Talent, Written On Tuesday, March 9, 2010 at 4:17pm

Minggu pagi yang melelahkan, setelah menempuh perjalan panjang selama sekitar 7 jam dari daerah bernama Bagan Batu (bukan labuhan batu, dasar dodol.. :P) dan sampai di Pekanbaru pukul 1 pagi, bangun pukul 7 pagi adalah hal yang mungkin akan jadi pilihan terakhir saya bila hari ini bukan hari Minggu. Tapi itu semua tidak menyurutkan niat saya untuk pergi ke gereja dan berterima kasih untuk perlindungan Tuhan selama seminggu yang lewat, dan memohon kekuatan untuk satu minggu yang akan datang.

Sampai di rumah sepupu saya, tampak abang saya yang sudah siap berangkat dan mengajak saya untuk segera bergegas ke gereja.

“ayo ben, langsung ke gereja, nanti kita telat” ajak abang saya.

Saya melihat jam tangan saya, masih 15 menit sebelum waktu masuk gereja. Hehehe..tipikal pemuda gereja yang layak dijadikan contoh (FYI,setau saya, dia pengajar koor gereja, dan paling rajin mengikuti persekutuan doa. Hehehehe…)

“nanti aja bareng gw ben..biar duduk bareng..” dari kamar tidur, adiknya (yang juga masih saya panggil abang) berteriak.

“yaudah, kita berangkat sekarang aja bang..” saya sepakat untuk berangkat lebih dulu. Karena tidak ada salahnya datang lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan.

Saya mengambil tempat duduk di deretan pemuda gereja, tentu saja karena ajakan saudara saya itu.

“hari ini Naposo-nya nyanyi God and God Alone, tau kan lagunya?” kata abang saya.

“tau bang..” saya memang pernah membawakan lagu beberapa kali.
“gimana kalo kamu ikut nyanyi??kita kurang suara tenor nih”

“gak ah bang, ga ikut latihan kan..” saya menolak, kira – kira 6 bulan tidak membaca not saya pikir cukup menurunkan feel saya bernyanyi dalam sebuah koor.

Tibalah saat bagi koor nya untuk bernyanyi, dalam beberapa kesempatan saya hanya bisa tersenyum, dan sedikit mengikuti nyanyian mereka.

Sayang sekali, lagu yang seharusnya bernuansa megah itu dibawakan secara biasa saja. Bukan bermaksud mengkritik, tapi ketimpangan formasi bernyanyi mempengaruhi kualitas suara yang mereka hasilkan. Dengan sekitar 8 orang bersuara sopran, 2 orang alto, 2 tenor dan 2 bass membuat lagu itu tidak seperti lagu yang pernah saya nyanyikan.Tidak adanya alat musik pengiring juga mempengaruhi lagu itu.

Sepintas pikiran saya membawa saya kembali ke Jakarta, ke gereja saya HKBP Tomang Barat. Saya berandai andai, seandainya saja bang linggom yang melatih mereka, tentu kaki para pria di koor tadi masih terasa lelah. Dengan kualitas seperti tadi, mereka pasti dipaksa berlatih sambil berdiri, karena mereka tidak bisa membaca not itu dengan benar. Seandainya di barisan wanita ada ka ade pakpahan, tentu nada La tinggi di lirik “bri’ puji dan hormat” pada ending lagu akan terdengar lebih klimaks ^^.seandainya nando ada di situ, dia pasti akan bersuara lebih keras,mencoba menutupi kekurangan penyanyi yang lain. Atau mungkin saja lagu tadi bisa sedikit tertolong bila ada pemain piano pengiring seperti olin.

Saya rasa saya cukup beruntung berada di sekian banyak bakat hebat di kesempatan pertama saya melayani untuk Tuhan. Yang memiliki suara yang bagus sekali seperti ka astrina. Ada yang memiliki bakat untuk punya kesabaran yang jauh lebih luas daripada orang lain seperti ka berly. Ada juga yang memiliki bakat untuk rindu melayani seperti si franky walaupun kadang di utarakan dengan suasana mellow yang agak dipaksakan ^^. Atau bakat mental baja yang dimiliki 2 gadis kecil bersuara besar untuk bertahan di antara kami (biasanya kalimat “kalo udah masuk ga bisa keluar”, “welcome to the jungle”, “jangan nyesel yah” bisa membuat pendatang baru mengernyitkan dahi mereka dan hanya bertahan untuk 2 bulan.. )

Minggu pagi memang selalu membuat saya rindu untuk bernyanyi bersama orang – orang tersebut. Terlepas dari kekurangan mereka masing – masing, saya rasa saya memiliki orang – orang hebat di sekitar saya yang mengajari saya banyak hal.

Saya yakin saya akan bernyanyi lagi bersama mereka, berlatih lagi, dan duduk bersama dalam barisan untuk memberikan persembahan pujian terbaik untuk Tuhan. Tidak tahun ini, atau tahun depan, entah kapan, yang pasti saya akan selalu menunggu kesempatan untuk bernyanyi bersama mereka lagi.

Jadi teringat kalimat dari kak ester dalam percakapan kami di suatu malam

“kalo gw ada di posisi lo ben, ke timika juga gw siap!!!”

Saya yakin, dia bahkan belum pernah menginjakan kakinya di timika, bagaimana mungkin dia bisa bertahan disana? she wouldn’t make it for a month.. =))

Terima kasih untuk membaca tulisan ini, saya sangat menghargai setiap waktu yang kalian luangkan untuk membaca setiap tulisan saya… God Bless..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s