Biarkan Saya Mencium Kanvas, Written on Monday, February 14, 2011 at 3:48pm

Sebut saya melankolis, sebut saya lemah, dan sebut saya ‘melayu yang mendayu dayu’, jiwa cadas saya sedang terlelap jauh di dalam mimpinya yang tidak bisa dikatakan indah. Terserah, tapi itu memang keadaan yang harus saya jalani sekarang. “siap tidak siap kumpul!” makna serupa dari teriakan guru di jaman sekolah dasar, tapi dalam konteks pemahaman kehidupan yang lebih luas. Terdengar rumit? Hehehe,,memang, tapi saya menikmati talenta saya (sedikit narsisme tentu tidak akan menambah daftar dosa) dalam merangkai kata kata.

 

Saya bukan seorang penggemar tinju, saya adalah penikmat sejati sepakbola, futebol, soccer, bal bal an, atau apapun itu namanya. Seni sepakbola lebih indah untuk dilihat, kenyataan  bahwa 22 orang memperebutkan satu buah bola di atas lapangan tidak menyurutkan sisi indah dari sepakbola itu sendiri. Setidaknya tinju dimata saya lebih menunjukan sisi beringas dari seorang manusia, memukul tanpa henti. Pukul, atau dipukul. Kerjasama, saling percaya, solidaritas dan seni, menyatu dengan komposisi paling pas dalam sepakbola. Loh?!kenapa jadi bicara sepakbola?!

Dalam beberapa situasi, saya menempatkan diri saya sebagai seorang petinju, hanya ada saya, dan masalah di depan saya yang jelas harus saya pukul mundur dan tumbang. Antara saya, dan masalah di depan saya. Tidak ada seorang gelandang sayap yang memberi umpan crossing untuk saya, tidak ada playmaker yang mendikte permainan sesuai dengan yang saya harapkan, tidak ada pemain belakang tangguh yang membuat saya merasa aman dalam menyerang. Dan penjaga gawang yang membuat saya yakin, bahwa gol gol yang saya cetak tidak akan sia sia. Dunia tinju, hanya ada saya, dan masalah di hadapan saya. Dia mengenakan sarung tinju yang sama, mempersiapkan kuda kuda bertarung yang sama. Lonceng pertarungan berdentang, saya maju, mencoba meruntuhkan masalah yang berdiri gagah di hadapan saya…

 

Sebelumnya saya masih bisa meladeni perlawanan si “masalah”, ketika dia mengeluarkan pukulan BERTAHAN dan pukulan MELAWAN, saya masih bisa menerimanya dengan baik. Berkali kali saya jatuh, berkali kali juga saya bangkit karena saya masih bisa menopang tubuh saya, membakar kembali semangat saya, dan menjaga harapan saya. Sampai akhirnya, “masalah” mengeluarkan pukulan yang sangat tidak ingin saya terima. KEHILANGAN. Dia melancarkan pukulan KEHILANGAN dengan telak, dan saya tidak siap. Tidak akan pernah siap. Pukulan itu mendarat dengan sempurna di hidup saya. Merusak sendi sendi pertahanan saya. KEHILANGAN….saya runtuh….

 

Saya membuka mata perlahan, perih di pelipis saya, nyeri di tulang pipi, dan pusing yang teramat sangat di kepala saya. Entah..ini sudah ronde keberapa. Dalam kehidupan, saya dan anda, tidak akan pernah tahu berapa ronde yang harus kita lewati. Saya tersungkur, saya tidak tahu, ada di ronde keberapa. Apakah ini masih awal? Atau pertengahan pertandingan? Atau jangan jangan ini sudah di babak akhir dimana saya harus bangkit dan mengeluarkan sisa tenaga yang ada untuk maju dan kembali berusaha menjatuhkan “masalah” yang masih berdiri gagah di hadapan saya?

 

Sayup sayup saya mendengar, suara suara dari sekitar saya. Tampilan dari beberapa orang yang mengenal saya dengan baik terlihat samar. Mereka meneriaki saya, mencoba untuk memberi dukungan “you are tough guy, you can pass through this”, “setau gw, lo adalah pribadi yang kuat ben” ungkap seorang sahabat lama. Ada juga yang berucap “you are a grown up man, you know what to do”

 

Masih tersungkur…saya mendengar teriakan teriakan mereka. Masih tersungkur…dalam hati saya berkata “I am not as strong as all of you think about me, sometimes I lost my strength to survive”. Masih tersungkur…efek pukulan KEHILANGAN itu paling berbekas dibanding dua pukulan sebelumnya. Efek pukulan KEHILANGAN itu membuat pandangan saya semakin kabur. Entah tertutup oleh darah yang mengalir dari pelipis, entah tertutup oleh sakitnya nyeri di tulang pipi, atau tertutup oleh beberapa titik air di mata saya yang tercipta oleh perpaduan ketidakmampuan dan emosi yang tidak terkendali.

 

Dengan kekuatan yang tersisa, saya berusaha menoleh. Dia adalah satu satunya orang yang tau apa yang harus saya lakukan. Dia yang bertanggung jawab atas saya. Dia mengerti saya, tapi saya tidak pernah bisa memahamiNya. Dia selalu bekerja dengan cara yang luar biasa dalam hidup saya. Dia yang selalu berkata “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”. Dia adalah PELATIH saya.

 

Saya menatapNya. Sorot mata itu tetap tajam menatap saya. Hubungan yang terjalin antara kami bukan hanya tentang pelatih dan yang dilatih. Dia dan saya membangun hubungan layaknya seorang ayah dan anak. Tanpa perlu berkata apapun, Dia tau bahwa tatapan mata saya berbicara seperti ini “Coach, lempar saja handuk putihnya. Saya tidak sanggup”. Dia adalah Ayah yang hebat. Tidak pernah ragu dalam bertindak, Dia bisa mengasihi saya apabila saya menjadi anak yang penurut, dan menghukum saya apabila saya membantahNya. Baik hati dan ADIL. Sifat terakhir yang kadang sering terlupakan oleh anak – anakNya.

 

Gestur badanNya tidak berubah. Tidak memperlihatkan rasa iba akan saya yang masih tersungkur di atas ring. Dia membalas tatapan saya. Sorot mata yang tegas dan tajam. Seperti biasa. Sejenak kemudian, dari mulutNya keluar kalimat untuk membalas tatapan saya beberapa saat sebelumnya. “Aku tau batas kekuatanmu anakKu!! Aku tau batasanmu!!”. Suara yang keras, tegas, tapi juga hangat, memancarkan bahwa Dia percaya saya masih bisa bangkit. Dia percaya pada saya dan segala kekuatan yang saya miliki yang berasal dari diriNya.

 

Masih tersungkur…semua teriakan dari dari orang – orang yang mengenal saya masih menggema di telinga saya. Kalimat dari sang Pelatih pun masih terngiang jelas. Masih tersungkur….efek pukulan KEHILANGAN itu luar biasa. Untuk sesaat, saya hanya ingin beristirahat. Untuk sesaat, saya hanya ingin menyerah. Sendi sendi saya belum pulih. Tidak cukup kuat untuk berdiri. Tidak cukup kuat untuk membalas. Tidak cukup kuat untuk melanjutkan pertarungan. Untuk sesaat..sesaat saja..saya berkata dalam hati….

 

 

 

 

“Coach…saya lelah…biarkan saya mencium kanvas”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s